
Di salah satu penginapan yang berada di Kota Heinan, terlihat tubuh seorang pemuda berlumuran darah tergeletak di lantai penginapan.
Beberapa tulang tubuhnya parah dan juga organ dalam nya mengalami kerusakan yang cukup parah.
Sementara itu, pria yang memakai jubah hitam berdiri tak jauh darinya sambil menatap pemuda itu dengan tatapan jijik.
"Tch, membuang-buang waktu saja. Aku memberimu peringatan terakhir, jangan ikut campur atau aku akan benar-benar membunuhmu." tegas pria berjubah itu yang tidak lain adalah Lu Xiao.
Sedangkan untuk pria yang tergeletak di lantai dengan tubuh berlumuran darah, dia adalah Mo Kun. Salah satu teman dekat Zhukai dari sekte tujuh pedang.
"Berhenti!! Aku akan menuruti apa yang kau katakan, jadi berhenti menyakitinya.." Ouyang Jin berteriak sambil menangis terisak-isak melihat Mo Kun yang hampir sekarat.
Sementara itu, Nalan Ruyue yang melarikan diri kini telah kembali bersama dengan seorang pria paruh baya.
Wajahnya berubah pucat saat melihat kondisi Mo Kun yang sudah hampir berada pada batasnya.
Di belakangnya, pria paruh baya itu memberi Mo Kun tatapan tajam yang seketika membuat pemuda itu terhempas jauh hingga menghantam dinding penginapan.
"Apa maksudnya ini, bukankah Klan Zi telah melarang pertarungan di antara tiap perwakilan sampai dengan turnamen di mulai." pria itu, Ning Cangnan berkata dengan suara dingin.
Dia jelas-jelas sangat marah melihat kondisi Mo Kun yang sangat parah di sana.
Dia memerintahkan Nalan Ruyue untuk membantunya menelan pil penyembuh.
Sedangkan untuk Lu Xiao, dia kembali berdiri tidak lama setelah tubuhnya menghantam dinding penginapan.
Sedikit aliran darah menetes keluar dari mulutnya. Wajahnya dipenuhi dengan kerutan dan urat-urat memenuhi kedua lengannya.
"Memang apa peduliku, sebaiknya kau jangan ikut campur atau kau sendiri yang akan mengalami konsekuensinya." Lu Xiao mengusap noda darah di bibirnya sambil memberi ancaman pada Ning Cangnan untuk tidak ikut campur.
Dia kembali menatap Ouyang Jin yang saat ini sedang membantu menyembuhkan Mo Kun.
Sudut bibirnya bergetar, dia kembali menatap Ning Cangnan hingga akhirnya pergi meninggalkan penginapan.
Begitu Lu Xiao pergi dari penginapan itu, Ning Cangnan menghela nafas lega. Dia sebenarnya sudah mengetahui identitas Ku Xiao setelah melihat sebuah ukuran di tangan kirinya yang bertuliskan 'Lu'.
Hanya dengan itu, Ning Cangnan bisa menyimpulkan bahwa pria yang sedang menyakiti perwakilan benua naga biru tidak lain adalah anggota Klan Lu.
"Haahhh, bagaimana bisa mereka bermasalah dengan seseorang dari Klan Lu. Meskipun aku kuat, tapi jika dibandingkan dengan mereka. Aku jelas kalah telak entah dalam hal Kultivasi atau kekuatan." Ning Cangnan menghela nafas lega karena masalah dengan perwakilan Klan Lu akhirnya terselesaikan.
__ADS_1
Setelah bergumam beberapa saat, Ning Cangnan akhirnya menghampiri Mo Kun yang hampir kehilangan kesadarannya.
Dia meminta kedua wanita itu untuk membantu Mo Kun untuk mengambil sikap lotus.
"Kamu sudah memberikan pil itu padanya bukan?" tanya Ning Cangnan pada Nalan Ruyue.
"Ya paman..."
Ning Cangnan mengangguk, dia kemudian duduk bersila di belakang Mo Kun sambil mengangkat kedua tangannya.
Ning Cangnan kemudian meletakkan kedua telapak tangannya di punggung Mo Kun dan memberikan energi spiritual miliknya untuk membantu Mo Kun mempercepat memurnikan pil penyembuh.
Tak lama setelah itu, luka-luka di tubuh Mo Kun perlahan sembuh tetapi Mo Kun masih tidak sadarkan diri.
"Dia terluka sangat parah, aku takut dia tidak bisa mengikutinya turnamen antar benua dengan kondisinya saat ini." Ning Cangnan menghela nafas panjang sambil berkata dengan sedikit kekecewaan.
Meskipun tubuh Mo Kun terlihat sudah kembali membaik, tetapi organ dalamnya dan juga gadis Meridian nya telah rusak parah.
Bahkan dengan pil penyembuh itu, butuh setidaknya lima hari hingga Mo Kun kembali ke kondisi semulanya.
Mendengar itu, Ouyang Jin dan Nalan Ruyue terdiam. Apalagi untuk Ouyang Jin, dia benar-benar merasa sangat bersalah karena penyebab Mo Kun terluka seperti itu adalah karena melindunginya.
***
Mereka berdua berjalan bersama layaknya seorang pasangan sambil menggenggam tangan satu sama lain.
"Hei, apakah kita benar-benar perlu melakukan hal ini.." Zheng Yan berkata dengan nada sedikit tidak senang.
Di sebelahnya, Zhukai mengangguk dan menjawabnya sambil tersenyum. "Ya, ini untuk menghindari kecurigaan."
Meskipun merasa tidak nyaman, Zheng Yan masih mencoba menahannya sampai langkahnya terhenti karena hidungnya menciumnya harum dari sebuah rumah makan.
"H–Hei, tidakkah kamu lapar!?..."
Melihat Zheng Yan tiba-tiba berhenti dan bertanya seperti itu, Kai segera memahami apa yang gadis itu inginkan.
"Baiklah, aku juga lapar. Ayo kita mencari makanan terlebih dulu.."
Melihat ada rumah makan yang berada tidak jauh dari mereka, Kai dan Zheng Yan segera memasuki rumah makan itu untuk makan sekaligus mencari beberapa informasi tentang turnamen antar benua.
__ADS_1
Karena saat itu adalah siang hari, sangat sedikit orang yang mendatangi rumah makan itu untuk makan siang.
"Permisi, apakah kita bisa mendapatkan beberapa makanan dan juga satu kendi arak?"
Seorang wanita paruh baya yang sedang mengepel lantai dikejutkan dengan kedatangan Kai dan Zheng Yan.
Setelah beberapa saat kemudian, wanita paruh baya itu tersadar dan segera menganggukkan kepalanya.
"Y–Ya... Silakan duduk terlebih dulu, aku akan menyiapkan makanan dan juga arak untuk kalian berdua."
Zhukai dan Zheng Yan segera duduk di meja yang masih kosong, meskipun rumah makan itu cukup besar. Tetapi hanya sedikit orang datang untuk makan di sana.
Setelah menunggu dalam waktu yang tidak sebentar, wanita paruh baya itu datang kembali sambil membawa nampan yang berisi makanan.
"Silakan dinikmati..." saat wanita paruh baya itu selesai meletakkan makanan di atas meja makan. Dia segera berbalik dan kembali ke dapur.
Sayangnya, Kai menahannya terlebih dulu untuk bertanya sesuatu.
"Emm, bisakah aku bertanya sesuatu hal padamu?"
Wanita paruh baya itu mengangguk, "Ya, apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Apakah kamu tahu di mana turnamen antar benua di adakan?"
Tanpa butuh waktu lama, wanita paruh baya itu segera menjawab apa yang kau tanyakan.
"Oh, turnamen antar benua di adakan di kota Heinan. Kota terbesar sekaligus kota dimana kediaman utama Klan Zi berada."
"Kota Heinan...." Zhukai mengerutkan keningnya sambil berpikir.
Tak lama kemudian, dia mengucapkan terimakasih pada wanita paruh baya itu dan memberinya beberapa batu jiwa.
Di sampingnya, Zheng Yan dengan rakus melahap semua makanan yang ada di atas meja. Bahkan tidak ada satupun makanan yang tersisa untuknya.
"Haahh... Wanita ini."
Kai tersenyum kemudian memanggil wanita paruh baya itu untuk memesan kembali makanan dalam jumlah yang cukup banyak.
****
__ADS_1
Bersambung...