
*** Flash back saat Fritz tiba di Palembang***
Sesampainya di Palembang, Fritz lantas menghubungi istrinya untuk memberitahukan bahwa ia sudah sampai di Palembang dan akan segera meeting dengan Ibu Rena, calon clientnya.
Ia melihat seorang bapak-bapak yang berdiri dengan memegang papan nama dengan bertuliskan namanya. Ia lalu menghampiri bapak itu dan memberi isyarat kalau ia adalah Fritz. Bapak yang adalah supir kantor Ibu Rena lalu membawakan koper milik Fritz yang saat ini masih tersambung via telpon dengan Bianca.
Setibanya di kantor Ibu Rena, Fritz merasa kagum dengan gedung dua puluh lantai milik Ibu Rena. Sebelumnya ia sudah mencari tau tentang Ibu Rena yang ternyata masih muda, seumuran dengannya. Tahun lalu ayahnya meninggal sehingga ia dan kakaknya Reino yang melanjutkan bisnis ayah mereka.
"Selamat siang, Pak Fritz" sapa Ibu Rena.
"Selamat siang, Ibu Rena" sapa Fritz.
Fritz tidak menyangka Ibu Rena ternyata sangat cantik. Tubuhnya tinggi dan langsing, seperti model apalagi dipadukan dengan set blazer berwarna maroon yang ia kenakan saat ini. Sikapnya sangat elegant dan wajahnya terkesan angkuh tetapi cantik.
Sebagai laki-laki normal, Fritz memuji kecantikan Ibu Rena tetapi ia selalu ingat akan istrinya di rumah sehingga tidak ada pikiran aneh-aneh yang ia pikiran tentang Ibu Rena.
"Ternyata bapak masih muda juga ya, panggil saya Rena aja ya" ucap Rena.
"Oke Rena, kalau gitu panggil saya Fritz juga ya" ucap Fritz.
Mereka lalu melangsungkan meeting sesuai dengan agenda mereka, saking serunya mereka meeting bahkan Rena meminta assitantnya untuk memesan makanan ke kantor lalu mereka melanjutkan meeting sambil makan di ruang meeting.
"Wah saya suka dengan penawaran dan ide dari kamu Fritz, besok saya akan meeting dengan direksi lain dan secepatnya saya infokan keputusan kami untuk menerima/menolak tawaran kerjasamanya tetapi saya rasa dengan ide seperti ini mereka akan menerima kerjasama dari Pak Fritz eh maaf Fritz maksud saya" ujar Rena.
"Oke Ibu Rena, terima kasih untuk waktunya ya. Saya tunggu kabar baiknya. Jika diperlukan saya bisa untuk diskusi dengan para direksi, kebetulan saya akan menginap selama tiga hari kedepan" ujar Fritz.
"Oh baik kalau gitu Fritz. Terima kasih juga untuk waktunya. Oh iya, malam ini akan ada opening party salah satu bisnis baru saya pribadi, Sky Bar and Lounge di Grand Hotel Palembang dateng aja Fritz kalau belum ada acara. Nanti saya list nama kamu" ajak Rena.
"Kebetulan saya nginap di Grand Hotel Palembang, oke kalau gitu. See you tonight Rena" ujar Fritz lalu berpamitan.
__ADS_1
Sesampainya Fritz di hotel ia mencoba menghubungi Bianca beberapa kali tetapi tidak terhubung. Ia menghubungi ART di rumah tetapi katanya Bianca belum pulang. Ia pikir mungkin batrai ponselnya habis sehingga ia pun mandi lalu bersantai sejenak tanpa tau saat ini Bianca sedang bersama Nicholas untuk menyelesaikan kisahnya dengan Nicholas.
Saat malam tiba ia pun pergi ke lantai atas hotel dan benar saja namanya sudah terdaftar di list undangan sehingga ia bisa masuk ke dalam.
Fritz sebenarnya menerima ajakan Rena karena mungkin saja ia bisa mendapatkan jaringan lebih banyak dari kolega-kolega Rena.
Ia memandang sekeliling Bar dan berdecak kagum dalam hatinya. Terdapat Bar di bagian indoor dengan lampu gemerlap dan DJ yang memainkan musik, sementara di sisi outdoor orang-orang dapat menikmati hidangan dan duduk santai. Pemandangannya kota Palembang juga terlihat jelas dari Sky Bar & Lounge yang terdapar di Rooftop hotel.
"Hi Fritz, dateng juga kamu" ujar Rena.
"Iya Ren, bagus tempatnya dan Congrats ya semoga sukses" ucar Fritz.
Rena lalu mengajak Fritz berkeliling dan berkenalan dengan beberapa kolega-kolega Rena. Fritz bahkan mendapat beberapa kartu nama mereka.
Rena lantas mengajak Fritz duduk di bar dan memesan minuman beralkohol untuk mereka.
"Ayo minum Fritz, kamu ini di acara kayak gini aja masih sempet-sempetnya berbisnis ya" ucap Rena. Tujuannya mengundang Fritz padahal untuk bersenang-senang saja.
"Oke, sekarang udah selesai kan? Let's have fun!" ucap Rena lalu meneguk satu sloki minuman beralkohol yang disusul dengan Fritz yang juga meneguk satu sloki minuman berwarna putih bening tersebut.
****
Pagi menjelang, Fritz terbangun dari tidurnya ia merasa kepalanya sangat berat dan pusing. Ia terkejut mendapati dirinya tidak mengenakan pakaian bahkan jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat sosok wanita yang juga tidak berpakaian di sampingnya dan pakaian mereka sudah berserakan di lantai kamar.
"Ya Tuhan, Rena?!!!" pekik Fritz syok.
"Iya Fritz" ucap Rena setengah sadar.
Fritz benar-benar tidak ingat setelah semalam mereka minum dan mabuk, entah bagaimana mereka malah asik berciuman di bar dan akhirnya mereka menuju kamar Fritz dan terjadilah hal terlarang yang tidak sepantasnya mereka lakukan.
__ADS_1
"Ren, aku minta maaf... " ucap Fritz.
"It's okay Fritz.." ujar Rena. Rena sekolah di US sejak usia SMP sehingga ia pun tidak taboo dengan *** before marriage.
Fritz merasa sekujur tubuhnya bergetar, ia membayangkan wajah istrinya, wajah anak mereka. Ia telah melakukan sebuah dosa besar dan merusak pernikahannya sendiri.
"Are you okay Fritz? Was it your first time?" tanya Rena bingung dengan sikap Fritz.
"No Ren, Aku udah nikah.." jawab Nicholas.
"WHAT?!!" pekik Rena. Sekalipun ini bukan pertama kalinya untuk Rena tetapi ia tidak ingin berhubungan fisik dengan suami orang.
Fritz terduduk lemas di atas kursi, menyesali perbuatannya dan mengutuki dirinya sendiri. Air matanya tumpah setiap ia mengingat Bianca dan Karen.
"Fritz, aku gak mau rusak pernikahan kamu. Let's forget this okay? Kita lupain aja, anggep gak pernah terjadi. Semalem kita cuma mabuk Fritz jadi jangan cerita ini ke siapapun" ujar Rena.
Sejujurnya Rena sedikit menyukai Fritz saat pertama kali bertemu. Bagaimana tidak, Fritz sangat tampan dan ramah juga sangat pintar. Tetapi ia tidak ingin terlibat dengan laki-laki beristri.
Fritz hanya terdiam, selama beberapa hari di Palembang ia bahkan tidak dapat fokus pada pekerjaannya. Bahkan ia terpaksa menunda meeting dengan direksi perusahaan Rena, ia belum sanggup bertemu Rena atau siapapun. Ia masih mempersiapkan dirinya untuk bertemu keluarganya di Jakarta.
Bahkan setibanya ia di Jakarta, ia mengetahui anaknya Karen di rumah sakit membuatnya panik dan pikirannya teralihkan.
Sejak itu ia berusaha bersikap baik terhadap Bianca, bahkan ketika ia tau teman-temannya berkunjung ia mengajak mereka makan malam dan juga tidak segan bersikap mesra. Ia tidak ingin Bianca curiga dengan dirinya.
*** Kembali ke masa sekarang ya ***
Fritz tidak dapat fokus pada apapun juga saat ini, ia yang seharusnya pergi ke jamuan dari clientnya memutuskan untuk memacu kendaraannya berkeliling kota tanpa tujuan dan mematikan ponselnya.
Ia ingin menghilang untuk sesaat, merasa dirinya begitu jahat dan kotor. Rena bahkan beberapa kali mencoba menghubungi Fritz tapi tidak tersambung. Rena juga merasa khawatir dengan Fritz yang tiba-tiba membatalkan meetingnya dan hilang begitu saja.
__ADS_1
"Maafkan aku Bianca, Maafin papa Karen" gumam Fritz bercucuran air mata..