
Pagi hari Nicholas terjaga dari tidurnya lalu memutuskan untuk pulang karena ia tidak membawa pakaian. Setibanya ia di gerbang rumahnya, ia melihat sebuah mobil sedan keluaran eropa berwarna hitam sudah terparkir di garasi rumahnya.
Ia menghela napas panjang, berusaha mengatur emosinya saat ini untuk bertemu dengan papa mertuanya. Setelah merasa dirinya sudah terkendali, Nicholas turun dari mobil menuju ke dalam rumahnya.
"Pagi pa" sapa Nicholas melihat papa Raina sudah duduk di ruang keluarga rumahnya bersama Raina. Nicholas tetap tidak menyapa Raina, membuat hari Raina sangat panas.
"Nic, papa mau bicara sama kamu. Sebaiknya kamu naik ke atas Raina, papa mau berbicara empat mata dulu dengan Nicholas" ucap Robby, papa Raina.
Raina ingin protes kenapa ia tidak boleh berada disana tetapi ia menuruti permintaan papanya. Raina tau papanya pasti akan membela dia.
Melihat Raina sudah naik menuju kamar, Nicholas lalu duduk bersebrangan dengan Robby.
"Iya pa, apa yang papa mau bicarain pa?" tanya Nicholas.
"Tadi pagi-pagi Raina telpon papa, kasih tau kalo akhir-akhir ini kamu pergi terus sama teman-teman, Raina jadi merasa kesepian Nic. Semalam juga sehabis pesta kamu gak pulang ke rumah" ujar Robby dengan lembut. Robby tau Raina sering kekanak-kanakan dan apapun maunya orang lain harus mengikuti karena itu ia tidak ingin gegabah dengan memarahi Nicholas. Ia ingin tau jelas duduk perkara diantara Nicholas dan Raina.
"Pa, Nicholas sebisa mungkin luangin waktu buat Raina. Kita bahkan baru pulang dari Bali dua hari lalu untuk berlibur. Sesekali Nicholas ada waktu juga mau luangin sama temen-temen pa tapi Raina maunya waktu luang Nicholas gak boleh kemana-mana gitu?!" ucap Nicholas.
"Iya papa ngerti Raina bisa sangat egois Nic tetapi kalau masalah ini didiemin aja berlarut-larut jadi gak sehat buat rumah tangga kalian. Papa harap sebagai kepala keluarga kamu bisa selesaiin masalah ini, cari solusinya" ucap Robby.
"Iya pa, pasti" jawab Nicholas.
Robby lalu meninggalkan kediaman Nicholas dan Raina. Sejujurnya Robby juga kurang setuju dengan hubungan Nicholas dan Raina awalnya, ia takut Nicholas hanya memanfaatkan posisi dan status Raina apalagi dengan parasnya yang tampan dan Raina yang biasa saja.
__ADS_1
Tetapi lambat laut Robby melihat Nicholas bukan pria yang seperti pikirannya dan ternyata seorang pekerja keras, sehingga Robby pun membantu Nicholas dengan mengenalkannya pada koleganya. Bahkan ia berpikir beberapa tahun lagi akan menyerahkan perusahaannya untuk dikelolah oleh Nicholas jika ia sudah ingin pensiun.
Nicholas lalu mandi dan mengganti pakaiannya, ia menghampiri Raina untuk berbicara.
"Sorry semalem aku gak pulang, aku nginep di hotel setelah baca pesan kamu" ucap Nicholas membuka percakapan.
"Papa bilang apa?" tanya Raina.
"Ya kita harus bisa cari solusi masalah kita. Raina, aku mau hidup aku balance antara pekerjaan, keluarga, hobi dan pergaulan aku. Hidup aku gak bisa cuma kerja dan keluarga aja, aku juga butuh temen-temen, lakuin hobby aku tanpa takut kamu marah-marah setiap pulang" ucap Nicholas.
"Oh jadi aku sama pekerjaan kamu aja gak cukup?" ucap Raina dengan nada tinggi.
"Gak Rai, gak cukup!" jawab Nicholas kesal.
"Aku tuh seharian di rumah nungguin kamu pulang!" pekik Raina semakin kesal.
Raina terdiam, ia berpikir ada benarnya juga ucapan Nicholas. Ia butuh kegiatan supaya ia juga ada hiburan. Raina berpikir apakah ia harus bekerja di kantor papanya seperti dulu? atau... dia harus segera memiliki anak?! Selama ini mereka belum pernah program untuk memiliki anak dan santai saja.
"Nic, apa sebaiknya... hhmmm.... kita mulai serius untuk program punya anak?" tanya Raina.
Nicholas terkejut karena selama ini Raina juga tidak terlalu memikirkan keturunan dan ia ragu apakah ia benar-benar siap untuk memiliki keturunan.
"Masalah anak nanti kita pikirin ya, harus sama-sama siap, gak bisa sembarangan cuma demi ada kesibukan" ucap Nicholas.
__ADS_1
"Tapi aku yakin beib.. aku ingin punya anak, kita nikah juga udah lama" ujar Raina.
"Ya udah kamu coba cari tau dulu dokter yang oke ya.. Kita coba konsultasi dulu aja. Oh iya aku " jawab Nicholas. Ia lalu pamit pada Raina dengan alasan ada pekerjaan yang harus dia kerjakan, padahal ia hanya butuh udara segar.
***
Keesokan harinya Raina langsung mengajak Nicholas untuk menemui dokter kandungan untuk konsultasi terlebih dahulu. Raina tampak bersemangat sementara Nicholas merasa dirinya seperti terombang-ambing.
Ia sadar memiliki keturunan adalah suatu hal yang harus ia jalani cepat atau lambat tetapi ia ragu apakah ia mampu. Terlebih dalam pernikahannya saat ini ia masih mencintai wanita lain.
Nicholas menarik napas dalam-dalam sesaat sebelum masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Ia meyakinkan dirinya kalau memiliki anak adalah hal terbaik yang akan terjadi dalam hidupnya dan mungkin saja anak mampu merebut hati dan cintanya dari Bianca.
Dokter lalu bertanya beberapa hal kepada Nicholas dan Bianca dan menyarankan mereka untuk melakukan beberapa pemeriksaan terlebih dahulu sebelum memulai program kehamilan. Hal ini bertujuan supaya mereka tau apakah organ reproduksi mereka sehat dan tidak ada masalah.
Minggu depan mereka harus kembali lagi untuk menjalani serangkaian pemeriksaan. Raina dan Nicholas merasa cocok dengan dokter Tom dan memutuskan untuk melanjutkan program kehamilan dengan dokter Tom. Walaupun masih muda tetapi ia cukup kompeten dan banyak mendapat rekomendasi.
"beib, aku baru sadar sejak kapan kamu pake gelang ini? baru ya? kamu beli apa hadiah dari seseorang?" tanya Raina yang baru menyadari gelang yang dipakai Nicholas.
Nicholas yang sedang fokus menyetir, sedikit terkejut dengan pertanyaan Raina.
"Oh iya ini baru, ada di tumpukan- tumpukan hadiah kemarin tapi aku gak nemu nama pengirimnya siapa" jawab Nicholas dan lagi-lagi ia bukan bermaksud untuk berbohong tetapi jika ia memberitahukan yang sebenarnya pasti Raina jadi penuh kecurigaan dan pasti akan memata-matai dan mencari tau tentang Bianca.
Pernah dulu Raina cemburu terhadap salah satu client Nicholas padahal mereka hanya satu kali makan siang bersama itupun untuk membahas masalah kerjaan, saking cemburunya Raina sampai mencari tau tentang clientnya lengkap sampai media sosialnya. Akibatnya client Nicholas merasa tidak nyaman dan membatalkan kerjasama mereka.
__ADS_1
"Bagus juga pasti yang kasih temen deket kamu makanya tau kamu suka gelang-gelang kayak gini" ujar Raina.
Nicholas hanya terdiam dan tidak merespon ucapan Raina. Memang sekarang Raina tidak seekstrim dulu cemburuannya, sejak Nicholas marah besar terhadap Raina yang membuatnya kehilangan client.