Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)

Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)
Bantuan untuk Raina


__ADS_3

"Beib, aku butuh bantuan kamu kali ini..." rengek Raina.


"Bantuan apa beib? Selama aku sanggup, aku pasti bantu kamu" ujar Nicholas.


"Perusahaan papa harus ada perwakilan untuk konferensi di Madrid tiga hari lagi. Keadaanku gak memungkinkan, papa juga lagi sibuk urus proyek kerjasama di Malaysia. Papa minta kamu aja yang berangkat karena papa gak mau asistenku atau papa yang kesana. Harus pemilik perusahaan dan kamu juga bagian dari perusahaan kan beib" ucap Raina membujuk suaminya.


"Madrid? terus aku harus apa disana beib?" ucap Nicholas.


"Cuma ikut konferensi aja beib selama tiga hari, kamu dengerin aja, catet info-info penting yang berguna. Kita bisa dapet banyak koneksi beib. Kamu boleh bawa asisten kok beib buat urus keperluan kamu disana. Gimana?" tanya Raina.


Nicholas teringat kalau Rena saat ini ada di Barcelona dan jarak dari Madrid ke Barcelona tidak terlalu jauh, sekitar enam jam dengan mobil dan hanya satu jam dengan pesawat. Nicholas lalu menyanggupi permintaan Raina, ia meminta satu minggu di Spanyol dengan alasan ingin berkeliling sebelum pulang. Raina menyetujui permintaan Nicholas tanpa tahu ia mempunyai tujuan lain, yaitu untuk membantu Bianca mencari kebenaran.


***


"Bi, ikut aku ke Spanyol ya" ucap Nicholas seraya masuk ke dalam apartment dan duduk di sofa.


"Spanyol? kamu serius?" tanya Bianca terkejut.


"Iya, kita cari kebenaran tentang Rena dan kandungannya juga hubungannya dengan Alan" ucap Nicholas.


Bianca pikir jika memang sebaiknya dia ke Barcelona untuk mencari tahu karena ia sudah putus asa menghubungi ponsel Rena yang tidak aktif lagi dan tidak ada satupun yang bisa memberikannya info mengenai Rena.

__ADS_1


"Hanya kita aja Nic? Kamu yakin? Raina gimana? Aku bisa kok pergi sendiri Nic" ucap Bianca.


"Aku lusa harus ikut konferensi perusahaan mewakili Rena dan papanya selama tiga hari, setelah itu kita ke Barcelona untuk cari Rena. Aku gak ada maksud lain kecuali bantu kamu Bi" jelas Nicholas. Ia memang tidak memikirkan apapun kecuali ingin Bianca tahu kebenarannya supaya ia bisa bangkit kembali.


"Lalu tiga hari nunggu kamu ngapain Nic? Atau gak sebaiknya aku sendirian ke Barcelona, nanti kamu bisa nyusul aku?" tanya Bianca.


"Aku gak bisa tenang kalo kamu sendirian Bi, emang kamu pernah sendirian di negara orang?Kamu bisa jalan sendiri gak nyasar?" tanya Nicholas.


Bianca juga tidak yakin ia bisa sendirian sebenarnya tetapi membayangkan dirinya berduaan bersama Nicholas membuatnya sedikit takut.


"Udah pokoknya kamu siap-siap, aku udah minta asistenku untuk cari tiket supaya malam ini kita bisa berangkat. Aku pulang dulu ya Bi" ucap Nicholas lalu pergi.


***


Alan dan Rena baru saja menghabiskan malam kedua mereka bersama. Alan membawanya ke sebuah tempat makan yang berada di pinggir laut. Mereka menikmati hembusan angin dengan aroma laut yang memikat, saling bercengkrama dan kali ini Alan tidak segan untuk menggandeng tangan Rena.


Setibanya di apartment, Rena bahkan mengundang Alan untuk masuk ke dalam dan meneruskan obrolan mereka semalaman. Alan sesekali mengelus perut Rena bahkan mengajak bayi dalam kandungan Rena berbicara. Hal ini membuat Rena luluh dengan segala perhatian dan ketulusan hati Alan, bahkan pada bayinya.


"Al, ceritakan padaku masa lalumu dengan mantan-mantanmu, apa ada yang berkesan?" tanya Rena penasaran bagaimana hubungan Alan dengan para wanita.


"Hmmm... aku punya dua mantan kekasih. Yang pertama saat aku kuliah, kami pacaran hanya sebentar karena saat kuliah aku sudah mulai membangun perusahaanku jadi wanita mana yang tahan harus menghabiskan akhir pekan di depan komputer hahaha dan satu lagi bernama Leona. Kami pacaran dua tahun dan memutuskan untuk menikah... sampaiii..." ucapan Alan terhenti, ada rasa perih di dadanya mengingat kejadian itu.

__ADS_1


"Kamu gak apa-apa Al? Kalo kamu gak mau bahas juga gak apa-apa" ujar Rena, ia merasa salah ucap sehingga ia dapat melihat raut kesedihan di wajah Alan.


"Kamu harus tahu Rena, kamu akan segera jadi istriku.. Apapun yang jadi masa laluku, kamu harus tahu itu.. Leona meninggal karena kecelakaan Ren, tepat sebulan sebelum kami menikah" lirih Alan.


Rena belum pernah melihat Alan begitu sedih dan rasanya ia dapat merasakan kesedihan yang dialami Alan. Rena memberanikan diri untuk mendekat ke Alan dan memeluknya.


Rasa hangat memenuhi hati Alan, ia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Ia membalas pelukan Rena dengan erat. Ada dorongan laki-laki dalam dirinya yang rasanya ingin ******* Rena tetapi ia ingin menunggu sampai Rena menjadi istrinya, lagipula ia takut jika sampai membahayakan bayi dalam perut Rena.


Baru saja mereka kencan kedua kalinya malam ini tetapi Rena ingin sekali menjawab lamaran Alan malam ini dan menerimanya. Rena begitu yakin Alan akan menjadi suami dan ayah yang baik kelak. Tetapi ia mengurungkan niatnya itu, ia berpikir Alan tidak akan melanjutkan kencan mereka yang masih tersisa lima kali lagi dan mungkin saja langsung berangkat untuk melanjutkan meetingnya yang tertunda. Rena ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Alan.


"Aku baik-baik aja Ren.. Sejak Leona meninggal, aku menutup diri dari wanita tetapi entah mengapa sejak pertama aku melihat kamu, ada ketertarikan yang membuat aku memberanikan diri menyapa kamu. Walaupun saat itu kamu menolak ajakan aku keluar tetapi aku paham kamu pasti berhati-hati dengan laki-laki terutama dengan kondisi kamu.." ucap Alan.


Semakin Alan berbicara, semakin besar perasaan yang meledak-ledak dalam diri Rena. Ia memperhatikan gerak bibir Alan yang kemerahan, ia ingin sekali mengecupnya. Rena belum pernah merasakan hal seperti ini dalam dirinya.


Alan menyadari tatapan Rena pada dirinya, khususnya pada bibirnya. Jika saja mereka tahu, saat ini wajah keduanya terasa panas. Alan mendekatkan bibirnya pada wajah Rena, membuat jantung Rena berdegup kencang.


Ponsel Alan berbunyi dan ia tahu ini panggilan penting karena hanya sedikit orang yang tahu nomor pribadinya.


"Maaf aku harus menjawab panggilan Ren" ucap Alan lalu menjauh dan menjawab panggilan telepon yang masuk.


Rena merasa kecewa, padahal hampir saja Alan akhirnya mencium bibirnya. Sepertinya Rena harus menunggu beberapa waktu lagi karena selesai mengangkat telepon, Alan lalu pamit pulang karena ia harus mengurus beberapa hal penting.

__ADS_1


__ADS_2