Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)

Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)
Perjanjian yang disetujui kembali


__ADS_3

"Hi Fritz, Bianca.. aku sengaja undang kalian kesini buat kasih kalian undangan pernikahanku dan Rena. Kalian datang ya.." ucap Alan lalu menggenggam tangan Rena.


"Selamat ya untuk kalian" ucap Fritz disusul dengan senyuman Bianca.


"Aku harap kita semua baik-baik aja sekarang. Aku tahu semua cerita yang terjadi di antara kalian tapi itu cuma sebuah kesalahan. Aku menerima Rena apa adanya, terlebih kami akan segera punya keturunan" ucap Alan.


Bianca menatap wajah Fritz lalu tersenyum ke arah Alan dan Rena.


"Aku dan Fritz udah baik-baik aja sekarang. Kita sepakat untuk melupakan yang udah terjadi. Selamat buat pernikahan dan juga bayi kalian ya.." ucap Bianca tulus.


"Terima kasih Bi... aku paling gak enak hati sama kamu tapi semoga ke depannya kita bisa berteman ya Bi" ucap Rena.


"Oh ya, setelah nikah kalian akan tinggal di Indonesia atau Barcelona?" tanya Fritz.


"Kita mungkin akan bolak balik sementara, sambil melihat akan gimana ke depannya. Cuma karna Rena lagi hamil mungkin akan disini dulu supaya dekat sama mamanya Rena. Sering kangen dia sama mamanya" ucap Alan.


Mereka berempat akhirnya memilih untuk berdamai dengan masa lalu yang hampir saja merusak pernikahan Fritz dan Bianca. Bahkan Alan menawarkan beberapa proyek untuk perusahaan Fritz sebagai tanda perdamaian antara kedua pihak.


***


"Pa, sekarang Raina keguguran selanjutnya akan gimana? papa akan tetep paksa Nicholas buat setuju sama perjanjian kalian dulu?" tanya Raina kesal.


"Rena, beberapa hari yang lalu Nicholas sendiri yang kesini dan bilang ke papa kalau ia ingin perjanjiannya dilanjutkan kembali. Tapi papa yakin itu yang terbaik buat kamu dan keluarga kita Rai!" ucap Robby dengan nada sedikit tinggi.


"Tapi pa... Raina gak mau harus kehilangan Nicholas! Raina tuh serba salah ya pa kayak gini... Raina pengen punya anak tapi kemarin aja bisa berhasil itu keajaiban pa!! Padahal dokter bilang sulit dengan kondisi Nicholas pa..." lirih Raina bingung dihadapkan dengan pilihan sulit. Ia memang pesimis akan berhasil hamil lagi mengingat Nicholas sekarang jadi sering lupa dengan vitamin-vitaminnya dan olahraga. Ia mulai sering touring dengan motor bersama teman-temannya.

__ADS_1


"Raina...sejujurnya papa lebih memilih kamu untuk menikah dengan laki-laki pilihan papa sejak awal. Yang bisa meneruskan perusahaan kita dan bisa memberikan keturunan untuk kamu tapi kamu ngotot mau nikah sama Nicholas.. Memang Nicholas pria yang baik tapi gak semua yang baik itu yang kamu butuhkan..." ujar Robby.


"Pa, apapun yang Raina mau harus Raina dapetin! Inget kan papa yang ajarin Raina dan sekarang Raina mau terus sama Nicholas! Raina dan Nicholas pasti bisa punya keturunan!!!" ucap Raina emosi.


Robby menghela napas panjang, ia tahu jika perkataan Raina memang benar. Ia yang sudah mendidik Raina seperti itu sejak kecil. Robby tahu berapa besar Raina mencintai Nicholas tetapi kali ini Nicholas yang datang untuk menyetujui perjanjian yang tertunda. Meyakinkan kecurigaan Robby jika Nicholas memang tidak pernah benar-benar mencintai Raina.


Pikirannya membawa memori ketika ia bertemu dengan Nicholas. Saat itu ia sedang bersantai sore di rumahnya dan memberi makan beberapa ekor rusa miliknya, Nicholas lalu datang untuk berbincang dengannya di halaman belakang rumah Robby.


"Pa, Nicholas ke sini mau minta maaf ke papa kalau Nic gak bisa menjaga Raina dengan baik sampai Raina kehilangan bayi kami. Selain itu....." ucap Nicholas ragu-ragu.


"Selain itu apa Nic? Kamu bilang aja ke papa..." ucap Robby.


"Pa... Nicholas mau melanjutkan perjanjian kita pa" jawab Nicholas.


"Pa, Nic merasa Raina lebih baik tanpa Nic..." ucap Nicholas lesu.


Sejak kehilangan bayi dalam kandungan Raina, Nicholas selalu menyalahkan dirinya. Ia tidak dapat menghapus rasa bersalah setiap kali melihat Raina makanya ia memilih untuk banyak beraktivitas di luar rumah.


Semalam sebelum ia bertemu dengan Robby, Nicholas diam-diam melihat Raina sedang menangis dan membuatnya semakin tidak tenang. Karena itulah ia memutuskan untuk menemui Robby, untuk melanjutkan perjanjian diantara mereka. Ia berpikir tanpa adanya keturunan, Raina akan lebih baik tanpanya.


Robby sebenarnya sangat paham dan iba dengan keadaan rumah tangga anaknya, terutama ia melihat kesedihan di mata Nicholas. Namun, egonya sebagai seorang yang terpandang dan berkedudukan tinggi ia juga tidak mungkin menyampingkan itu. Terutama masalah keturunan yang kelak akan menjadi penerusnya.


Hanya satu pemikiran Robby, mengapa Nicholas bisa-bisanya rela melepaskan putri satu-satunya itu?! Apakah benar yang ia pikirkan sejak dulu jika Nicholas tidak benar-benar mencintai Raina? Jika ia benar-benar mencintai Raina pasti ia tidak mau kehilangan Raina apapun keadaannya. Ia juga pasti akan berusaha membahagiakan Raina tetapi Nicholas malah seakan memilih untuk mundur teratur.


Selepas pertemuan Nicholas dan Robby, Robby lalu menghubungi orang suruhannya untuk menghubungi Dokter Tom dan memanggil paha ahli untuk mempelajari kasus Nicholas serta berapa persen peluang kehamilan mereka. Ia yakin ia harus turun tangan kali ini.

__ADS_1


"Pa.... papa....." panggil Raina melihat Robby melamun.


"Maaf Raina, papa melamun... Yang terpenting kalau kamu butuh bantuan, papa dengan senang hati membantu kamu.." ucap Robby.


Sepulangnya Raina dari rumah Robby, pikirannya sangat kacau. Ia tidak menyangka jika Nicholas akan bertindak seperti ini. Hatinya terasa perih membayangkan Nicholas mampu berbuat seperti itu terhadapnya.


Raina tidak memahami pikiran Nicholas yang merasa gagal menjadi suami dan calon ayah dari bayi mereka. Ia berpikir jika ini adalah cara Nicholas untuk menyingkirkannya dari hidup Nicholas.


Ia memutar otaknya, memikirkan bagaimana caranya untuk mempertahankan Nicholas dalam hidupnya.


"Beib, kamu dimana?" tanya Nicholas melalui sambungan ponsel.


"Di jalan beib, kenapa?" tanya Raina.


"Aku di kantor kamu tapi katanya kamu belom ke kantor beib, bukan tadi kamu pamit aku ke kantor ya?" ucap Nicholas.


"Iya beib tadi aku mampir ketemu client dulu. Kamu tumben ke kantor, ngapain?" ujar Raina bingung.


"Ya udah aku tunggu ya.. ati-ati beib" ucap Nicholas.


Setibanya Raina di kantor, ia melihat Nicholas sudah menunggu di dalam ruangannya dengan membawa sebucket besar bunga untuknya.


"Thank you beib" ucap Raina terharu lalu mengecup pipi Nicholas dan duduk di pangkuan Nicholas.


"Raina.. maafin aku ya gak bisa jadi suami yang baik buat kamu.. Ada yang mau omongin ke kamu nanti malam sambil dinner. Aku udah buat reservasi di resto nanti malam. Aku tunggu di rumah ya" ucap Nicholas lalu pamit pergi.

__ADS_1


__ADS_2