Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)

Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)
Barcelona dan Rena


__ADS_3

"Rena... " sapa Fritz sambil menarik lengan Rena yang baru saja keluar dari toilet.


"Fritz!!!! Ngapain kamu disini?!!!" tanya Rena kaget. Ia berusaha untuk bersembunyi tapi Fritz malah menemukannya disini.


"Ren, kamu hamil? Anakku?" tanya Fritz. Sewaktu Rena berdiri dari kursi, ia melihat perut Rena membesar. Belum terlalu besar memang tetapi karena tubuh Rena yang ramping dan pakaian yang membentuk tubuhnya, Fritz dapat melihat tonjolan di perut bawah Rena.


"Iya Fritz tapi ini bukan anakmu" Rena tidak dapat menampik kalau dirinya memang sedang mengandung saat ini.


"Apa kamu yakin?!" tanya Fritz lagi sambil melihat ke arah Bianca dan Karen yang sedang asik menikmati hidangan penutup, ia ingin memastikan tidak ada yang mendengar mereka.


"Iya Fritz, aku bertemu seorang pria Barcelona makanya aku cuti dari pekerjaanku untuk bersamanya dan menikmati kehamilanku disini. Lagipula kan kamu juga liat sendiri hasil test waktu itu, hasilnya negatif" jelas Rena.


"Oke kalau memang kamu yakin itu bukan anakku, kenalkan aku dengan ayah dari bayi di perutmu" ucap Fritz, ia benar-benar ingin memastikan benih dalam rahim Rena bukanlah darah dagingnya.


Rena tersontak mendengar ucapan Fritz yang menantangnya untuk mengenalkan ayah dari bayi di dalam rahimnya. Tetapi ia tidak ingin Fritz berpikir itu adalah anaknya sehingga tidak mungkin ia menolak tantangan Fritz.


"Oke, ini nomorku selama di Barcelona. Nanti kamu chat aku supaya aku tau nomormu di sini, kita atur janji soalnya aku harus memastikan jadwal ayah bayiku dulu" jawab Rena.

__ADS_1


Fritz kembali ke meja bersama Bianca dan Karen seolah-olah tidak terjadi apa-apa sementara Rena langsung pergi diam-diam, ia tidak ingin Bianca melihatnya saat ini.


"Kok lama sayang?" tanya Bianca saat Fritz kembali ke meja.


"Iya tadi ada orang jadi aku nunggu orangnya keluar dulu. Gimana enak gak Karen makanannya?" tanya Fritz mengalihkan pembicaraan dari Bianca.


"Enak papa, Karen suka Barcelona. Bagus dan makanannya enak tapi Karen sedih di sini Karen gak punya mobil pa..." oceh Karen polos.


"Iya karena kan kita di sini cuma liburan jadi gak punya mobil, gak apa-apa kendaraan disini juga bersih dan gak macet kayak di Jakarta" ucap Fritz pada Karen sambil menertawakan kepolosan anaknya.


***


Rena teringat akan kejadian di hotel saat ia iseng test pack kedua kalinya. Ia melihat dua garis merah berwarna samar-samar. Ia begitu shock sampai tangannya bergetar sambil memegang alat test kehamilan. Rena lalu mencoba merk lain lagi dan hasilnya satu garis. Ia semakin bingung dan memutuskan untuk pergi ke dokter saat ia tiba di Palembang.


Di Palembang dokter memeriksa Rena dengan seksama dan hasilnya benar kalau Rena positif hamil. Rena pulang ke rumah dengan hati yang hancur. Kesalahan semalam membuatnya harus menanggung kesalahannya seumur hidupnya.


Berjuta pertanyaan muncul di kepala Rena. "Haruskah Fritz tahu? Nanti bagaimana dengan anak dan istrinya? Bagaimana aku menjelaskan kehamilanku pada Reno dan mamaku? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menggugurkan janin ini dan masalah akan selesai?" pikir Rena.

__ADS_1


Ia ingat ia sudah berjanji pada Fritz untuk tidak mengganggu kehidupannya lagi dan juga menjamin keluarga Fritz akan baik-baik saja. Rena mengatakan itu karena ia berpikir ia tidak hamil tetapi ternyata ia hamil anak Fritz.


Rena mengurungkan niatnya untuk memberitahukan Fritz karena ia tidak ingin merusak pernikahan Fritz, terlebih ia tahu Fritz bukanlah laki-laki brengsek. Fritz adalah sosok suami dan ayah yang mengutamakan dan mencintai keluarganya. Ia merasa malam itu adalah kesalahannya juga. Rena awalnya mengundang Fritz karena ia tertarik dengan ketampanan Fritz ditambah kecerdasannya dalam berbisnis. Ia sama sekali tidak tahu Fritz sudah berkeluarga apalagi punya anak. Lagipula ia juga tidak perpikir untuk tidur dengan Fritz, hanya sebatas kagum saja.


Untuk masalah keluarganya, ia hanya berkata akan setahun cuti ke Eropa karena ia sangat lelah bekerja. Rena mempunyai rencana untuk merahasiakan ini dari keluarganya, terutama Reno kakaknya. Jika Reno tau ia hamil pasti Reno akan menuntut pertanggung jawaban dari pria yang menghamilinya dan Rena tidak menginginkan itu terjadi.


Setelah setahun rencananya Rena akan pulang ke Indonesia dan membawa bayinya, mengatakan kalau itu adalah anaknya kepada mamanya. Tetapi sementara waktu ia akan meminta mamanya menutup rapat-rapat masalah ini dari Reno dan mengatakan ini adalah bayi dari teman Rena yang tidak mampu merawat anaknya dan Rena mengadopsinya.


Ia yakin mamanya akan membantunya karena ia dekat dengan mamanya tetapi saat ini ia juga terpaksa harus merahasiakan ini dari mamanya karena tidak ingin mamanya stress. Sementara Reno, ia ingin Reno mencintai anaknya terlebih dahulu dan melihat kalau ia sanggup merawat anaknya sendiri walau tanpa seorang suami, baru ia akan berkata yang sejujurnya pada Reno.


Rena hanya ingin menikmati kehamilannya dan ingin hidup tenang untuk sementara ini karena itulah ia memutuskan ke Barcelona. Namun malam ini, rasa pedih itu muncul kembali. Rena benar-benar mencurahkan rasa sakit di hatinya lewat air mata yang tidak kunjung habis.


Membayangkan Fritz dan anaknya bercengkrama seperti yang ia lihat tadi, ia juga ingin anaknya kelak mempunyai ayah dan mendapat cinta ayahnya. Ingin sekali rasanya ia menjadi egois untuk anaknya tetapi hati kecilnya selalu tidak tega terhadap Fritz dan keluarganya.


"Maafin mama nak, mama gak bisa kasih keluarga yang utuh. Kamu tidak merasakan kasih sayang seorang ayah, seperti anak-anak lainnya. Bahkan mungkin kamu gak akan pernah tahu siapa ayah kamu sebenarnya..." ucap Rena bercucuran air mata sambil memegang perutnya sendiri.


Rena tertidur dalam tangisnya, ia begitu lelah menangis. Hari sudah pagi saat ia membuka kedua matanya, Rena bangkit dari ranjang dan mencuci wajahnya. Matanya bengkak dan sembab setelah menangis semalam. Menatap wajahnya di cermin, Rena meyakinkan dirinya kalau ia mampu melewati ini sendiri.

__ADS_1


Perutnya mulai terasa keroncongan, ia lalu membuka kulkas dan membuat scramble egg dan juga menghangatkan dua buah muffin yang ia beli kemarin, tidak lupa segelas susu hangat. Ia makan dengan lahap sambil memikirkan bagaimana meyakinkan Fritz ini bukan anaknya dan siapa yang bersedia membantunya sedangkan ia tidak punya banyak kenalan di Barcelona.


__ADS_2