Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)

Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)
Test pack


__ADS_3

"Sejak kapan kamu disini?" tanya Raina yang terbangun dan melihat sosok Nicholas sedang duduk di sofa kamarnya sambil memainkan ponselnya.


"Sekitar setengah jam yang lalu aku sampe tapi aku liat kamu masih pules banget jadi aku tunggu sampe kamu bangun aja" jawab Nicholas. Ia sedikit terkejut saat Raina tiba-tiba bangun dan mengajaknya bicara karena saat itu Nicholas sedang melihat postingan instagram Bianca yang isinya foto-foto saat pernikahan Lita. Nicholas sudah berteman kembali dengan Bianca di sosial media sejak Bianca tidak lagi memblokir Nicholas.


"Kenapa tiba-tiba ke sini?!" tanya Raina ketus.


"Yuk pulang beib, jangan ribut-ribut terus. Masalah anak kita coba berobat dulu ke dokter ya, kan kamu bilang kamu mau punya anak" ujar Nicholas berusaha membujuk Raina.


"Bener kamu mau?!" tanya Raina sedikit bersemangat.


Nicholas mengangguk, membuat Raina antusias. Ia membayangkan perutnya akan terisi oleh janin yang lambat laun membesar dan melahirkan bayi-bayi lucu dan bahagia dengan keluarganya.


"Oh iya beib kemarin aku juga bahas sama papa sepertinya aku butuh kegiatan dan mulai minggu depan aku resmi kembali kerja di kantor papa. Sepertinya aku juga harus belajar banyak di perusahaan papa karena kamu kan menolak meneruskan bisnis papa" ujar Raina.


"Bagus kok itu, ide bagus beib. Aku dukung kamu 100%" ucap Nicholas.


Raina sangat senang Nicholas menyambut positif keinginannya bekerja di kantor Robby. Ia juga senang Nicholas mau berobat dan berusaha untuk memiliki keturunan. Amarahnya pada Nicholas rasanya hilang begitu saja, ia mendekati Nicholas dan memeluknya begitu erat.


Nicholas lalu membalas pelukan Raina, dalam dirinya ada rasa bersalah terhadap Raina karena telah mengkhianatinya.


Dengan semua yang terjadi hari ini Nicholas berpikir bahwa nampaknya Robby juga sudah mempersiapkan Raina untuk lebih mandiri dan mengerti dunia bisnis. Jaga-jaga seandainya Nicholas dan Raina sampai berpisah, Raina masih ada kegiatan lain yang menyita waktunya dan lagi Robby sudah tidak sepenuhnya berharap padanya untuk meneruskan bisnisnya.


***


Bianca sedang bermain-main dengan Karen saat Fritz pulang ke rumah dari kantor. Saat ini baik Fritz dan Bianca berusaha bersikap normal terhadap satu sama lain, mereka berusaha menutupi kesalahan masing-masing.


Fritz lalu menghampiri Bianca dan Karen yang sedang bermain, menyapa keduanya dan mencium keduanya.

__ADS_1


"Sayang, nanti kita makan malam di luar aja ya, ajak Karen juga" ajak Fritz.


"Iya boleh sayang, kita makan sushi kesukaan kamu ya" ucap Bianca.


"Oke siap" jawab Fritz. Tepat saat itu ponselnya berbunyi, ia melihat nama Rena tertera di layar ponselnya. Ia lantas menjauh dari Bianca dan Karen, ia tidak ingin ada yang mendengar percakapannya dengan Rena.


"Halo, kenapa Ren?!" sapa Fritz dengan nada sedikit kesal.


"Fritz, kita perlu bertemu sekarang juga" ucap Rena.


"Besok ya Ren, hari ini aku gak bisa" jawab Fritz.


"Fritz pleaseeee... aku terlambat datang bulan" suara Rena bergetar.


Fritz seperti disambar petir mendengar ucapan Rena. Bagaimana mungkin hal ini terjadi padanya? Bagaimana jika Rena benar-benar hamil? Apa yang harus ia lakukan?


"Halo, Fritz.... Fritz..." ucap Rena berulang-ulang.


"Aku di Crown Hotel kamar 703, aku tunggu" jawab Rena.


Fritz lalu memghampiri Bianca dan meminta maaf ia tidak dapat pergi makan malam bersama karena ada urusan kantor yang sangat mendesak dan ia harus pergi.


Bianca sangat memahami Fritz, sejak dahulu Fritz adalah seorang pekerja keras dan Bianca sangat menghargai itu. Tentu saja Bianca tidak keberatan ataupun marah, ia malah meyakinkan Fritz untuk pergi dan menyelesaikan pekerjaannya.


***


Fritz mengendarai mobilnya dengan kencang dan tidak sabar, ia ingin cepat-cepat menemui Rena dan memastikan situasi diantara mereka, terlebih untuk mencari tau apakah Rena benar hamil atau tidak.

__ADS_1


Sesampainya di hotel ia langsung segera menuju ke kamar dimana Rena menginap dan mengetuk pintu sambil memanggil nama Rena.


Fritz dapat melihat wajah Rena yang sangat pucat dan ketakutan. Hal itu membuat Fritz tidak tega melihatnya dan kemudian mengajak Rena untuk duduk dan menuangkan segelas air untuknya. Ya, mereka berdua begitu takut akan kemungkinan Rena mengandung anak dari Fritz.


"Oke, sekarang kamu kasih tau aku apa yang terjadi" ucap Fritz setelah melihat Rena lebih tenang.


"Aku baru menyadari seharusnya aku sudah haid empat hari yang lalu Fritz, jadwalku selalu teratur selama ini dan aku gak pernah berhubungan dengan siapapun kecuali dengan kamu. Apalagi malam itu kita begitu mabuk dan tanpa pengaman Fritz.." ucap Rena.


"Tapi bisa aja kamu lagi kecapean atau stress Ren, jadi terlambat kan.. kita coba testpack ya?" ujar Fritz.


"Aku takut Fritz, gimana kalau aku hamil?!Aku harus gimana?" jawab Rena dengan mata berkaca-kaca.


Fritz benar-benar tidak tega melihat Rena seperti ini. Rena yang ia tau selama ini adalah sosok wanita yang cantik, sedikit angkuh dan juga sangat kuat hingga mampu memimpin perusahaan sebesar itu sekalipun masih muda.


"Ren, kita periksa aja dulu ya. Kamu boleh pilih mau langsung ke rumah sakit atau kita test pack dulu. Kalaupun kamu benar-benar hamil, nanti kita pikirin ya akan gimana" ucap Fritz. Ia hanya ingin memastikan apakah Rena hamil atau tidak sebelum mengambil langkah selanjutnya.


Fritz membujuk Rena berkali-kali dan meyakinkan Rena untuk test kehamilan terlebih dahulu supaya ia juga tidak menerka-nerka. Akhirnya Rena menyetujui permintaan Fritz untuk melakukan test kehamilan dengan test pack terlebih dahulu.


Fritz lalu meminta Rena untuk menunggu di kamar sementara ia pergi untuk membeli alat test kehamilan di apotik terdekat dari hotel.


***


Fritz membeli beberapa alat test kehamilan dengan merk berbeda-beda, ia bingung harus membeli yang mana jadi ia membeli satu buah dari setiap merk yang ada dan langsung membawanya ke kasir. Fritz tidak sadar bahwa Nicholas kebetulan berada di dalam apotik itu.


Nicholas dan Raina sedang dalam perjalanan pulang ke rumah mereka, tiba-tiba Raina merasa migrain jadi Nicholas memutuskan untuk membeli obat di apotik. Apotik itu memang apotik besar dan salah satu yang terlengkap sehingga Fritz tidak menyadari keberadaan Nicholas.


Nicholas ingin menyapa Fritz awalnya tetapi melihat Fritz sedang berdiri sambil mengambil banyak alat test kehamilan, Nicholas mengurungkan niatnya. Ia menduga kalau alat test kehamilan itu pasti untuk Bianca.

__ADS_1


Membayangkan Bianca mengandung anak Fritz membuat hati Nicholas gelisah, memikirkan bagaimana mereka saling bersentuhan dan menyatu hingga benih tertanam dalam rahim Bianca. Wajah Nicholas terasa panas dan pipinya merah.


"Halo... iya ini aku udah lagi bayar, kamu tunggu di kamar jangan kemana-mana. Aku segera kesana.." ucap Fritz menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya.


__ADS_2