Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)

Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)
Alan menagih janji


__ADS_3

Sejak semalam Nicholas belum mendapatkan tidur yang cukup. Ia duduk disamping Bianca, memastikan Bianca tertidur dengan pulas sambil sesekali memejamkan matanya.


Jam setengah enam pagi Nicholas harus segera kembali ke rumah sakit sebelum Raina bangun dan meninggalkan Bianca yang masih tertidur. Sesampainya di rumah sakit ternyata Raina sudah bangun karena Raina semalaman juga tidak bisa tidur nyenyak memikirkan kemana suaminya.


"Darimana semalaman?! Nomor kamu juga gak bida dihubungi" tanya Raina ketus ke Nicholas.


"Maaf semalam aku pergi gak kasih tahu kamu, handphone aku mati juga semalaman. Semalam Lita dan Simon telepon dan katanya Bianca pergi dari rumah, jadi kita coba cari Bianca. Dia abis bertengkar sama Fritz" ucap Nicholas.


"Ketemu??" tanya Raina lagi.


"Belum" jawab Nicholas berbohong. Ia tidak ingin siapapun tahu keberadaan Bianca mengingat ia sudah berjanji kepada Bianca untuk tidak memberitahukan siapapun.


Raina terdiam, ia tidak ingin bertanya atau berdebat apapun dengan Nicholas saat ini, padahal dalam pikirannya ada banyak pertanyaan. Ia memilih untuk diam dan menunggu laporan dari Maya.


***


Rena masih tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Alan. Ia tidak mengerti apa yang Alan inginkan darinya, seorang wanita yang sedang mengandung benih dari laki-laki lain tetapi ia malah ingin menikah dengannya. Bantuan Alan untuknya kali ini sudah sangat berlebihan rasanya.


"Al, aku paham kamu mau bantu aku tapi rasanya bantuan kamu terlalu berlebihan kali ini. Pernikahan itu sesuatu yang serius, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku. Maaf Al, aku gak bisa terima lamaran kamu" ucap Rena.


"Kata siapa aku ingin menikah denganmu hanya untuk bantuin kamu Ren?" tanya Alan.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Rena semakin tidak mengerti.


"Rena.. Aku rasa aku jatuh cinta sama kamu dan anak di perutmu.. Kamu tahu selama dua minggu ini aku keliling Eropa kerja dan harusnya meeting ini memakan waktu sebulan Ren tapi aku gak bisa fokus sama sekali. Aku selalu teringat kamu disini, aku khawatir terjadi apa-apa sama kamu. Kamu ingat malam dimana aku mengelus perut kamu?! malam itu rasanya aku sangat damai dan ada kehangatan yang mengalir dalam diri aku. Seolah ada sesuatu antara aku dan bayi di perutmu Ren" jelas Alan, mencurahkan isi hatinya selama ini.


"Al.. apapun yang kamu rasain ke aku sekarang, itu pasti hanya perasaan sesaat! Apa kamu pernah mikir seorang Alan yang begitu hebat dan terkenal, menikahi wanita yang hamil dari laki-laki lain? Apa kamu sanggup membesarkan anak yang bukan darah daging kamu bukan secara materi tapi dengan perhatian dan kasih sayang kamu!!!" ucap Rena.


Rena berpikir Alan pasti hanya penasaran dengannya dan Alan pasti akan menyesal nantinya jika sampai menikah dengannya. Memang iya merindukan Alan tetapi ia tidak merasa ia jatuh cinta pada Alan.


"Rena.. aku seorang laki-laki dewasa, aku tahu persis kalau aku benar-benar jatuh cinta. Oke awalnya aku bingung tetapi tadi saat melihat kamu membuka pintu untukku, aku tahu itu cinta Ren... Saat kita sudah menikah, anak di perutmu akan menjadi anakku, memakai nama keluargaku dan aku akan merawat dan mencintainya..Aku akan melindungi kalian dan aku gak mau lagi melihat kesedihanmu Ren " ucap Alan berusaha meyakinkan Rena.


Alan bukan laki-laki mata keranjang, ia sudah menyukai Rena saat pertama bertemu di rumah teman mereka tetapi saat itu Rena mengacuhkannya bahkan menutup diri darinya. Saat Rena menghubunginya dan meminta bantuan, tentu saja Alan merespon dengan baik. Meskipun ia menyukai Rena tetapi untuk melamar apalagi menikah dengan Rena tentu saja tidak ada dalam agenda hidupnya sampai beberapa saat lalu ketika Rena membuka pintu untuknya dan menangis dalam pelukannya.


"Al, aku percaya dan aku bisa melihat ketulusan kamu tapi aku tidak yakin apa aku juga mencintai kamu Al" ucap Rena jujur.


"Oke, kamu, berhutang makan malam denganku kan selama satu minggu?! Di malam ketujuh nanti baru kamu jawab lamaran aku ini. Berikan kesempatan untuk aku, untuk kamu, untuk kita dan untuk anak dalam perutmu" ujar Alan.


"Baiklah... aku setuju" ucap Rena lalu tersenyum seakan bebannya hilang.


Alan memeluk Rena dan menciumi puncak kepala Rena dan berterima kasih pada Rena karena mau memberikan kesempatan untuk mereka.


***

__ADS_1


Bianca terbangun dari tidurnya, ia berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi tetapi sayangnya itulah kenyataan yang harus ia hadapi.


Ia mencari keberadaan Nicholas di apartmentnya tetapi Nicholas sudah pergi dan ia paham Nicholas pasti kembali ke rumah sakit untuk menjaga Raina. Ia merasa tidak enak hati sudah merepotkan Nicholas semalam bahkan Nicholas sampai meninggalkan Raina di rumah sakit. Lantas ia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan untuk Nicholas "terima kasih Nic" bunyi pesannya.


Bianca membuat segelas kopi panas dan meminumnya hingga habis. Ia teringat akan Karen anaknya, pasti Karen saat ini sedang bingung karena tidak mendapati mamanya di rumah.


Ia mempertimbangkan perkataan Nicholas untuk mendengarkan cerita Fritz jika ia sudah siap, sekalipun ia tahu bagaimana pun cerita Fritz tetap saja tidak akan mengubah fakta bahwa ia berselingkuh dengan Rena.


"Halo, Fritz" sapa Bianca.


"Bi, syukurlah kamu akhirnya hubungin aku.." ucap Fritz dengan suara parau, ia benar-benar hampir kehilangan akal sehatnya.


"Nanti sore bisa ketemu?" tanya Bianca.


Tentu saja Fritz bersedia menemui Bianca, ia berharap Bianca mengerti bahwa ia tidak pernah berniat untuk selingkuh.


Fritz mencoba menghubungi Rena kembali untuk memastikan bahwa Rena hamil darinya atau Alan kekasihnya tetapi ponsel Rena mati sejak semalam. Alan memang mematikan ponsel Rena dan menggantinya dengan nomor yang baru dan hanya Alan juga Susan yang tahu nomor barunya ini. Alan ingin seminggu ini Rena hanya fokus pada hubungannya dengan Alan dan tidak banyak memikirkan masalah Fritz.


Fritz melihat pantulan dirinya di cermin dan ia nampak berbeda dari biasanya. Penampilannya sangat acak-acakan bahkan lingkaran hitam di bawah matanya sangat jelas terlihat. Ia tidak bisa tidur semalaman memikirkan Bianca dan Karen. Mengutuki dirinya, keteledorannya dan kebodohannya sehingga ia bisa sampai berhubungan dengan Rena.


Fritz hanya berharap Bianca memaafkannya dan bersedia melanjutkan pernikahannya dengannya tetapi ia bingung bagaimana jika Rena ternyata hamil anaknya. Ia tidak mungkin menikahi Rena dan menceraikan Bianca. Berbagai kemungkinan muncul di benaknya tetapi pemikirannya selalu sama, ia tidak ingin dan tidak mungkin menceraikan Bianca.

__ADS_1


__ADS_2