Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)

Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)
New Beginning Fritz Bianca


__ADS_3

Fritz dan Bianca pergi untuk berlibur ke Bali untuk membangun kembali hubungan mereka. Karen seperti biasa dititipkan di rumah mama Bianca. Sekalipun rumah tangga mereka bermasalah, keluarga Fritz dan Bianca tidak tahu sama sekali permasalahan yang mereka hadapi. Saat Bianca ke Eropa, mama Bianca hanya tahu jika putrinya itu pergi dengan teman-temanny untuk berlibur.


Fritz mengatur liburan ini menjadi liburan yang sangat romantis untuk mereka. Ia ingin memperbaiki hubungannya seperti dulu lagi.


Bali adalah tempat yang tepat untuk mereka mengingat di Bali lah tempat Fritz menyatakan cinta sekaligus melamar Bianca dulu. Bali mempunyai tempat yang istimewa di hati Fritz dan Bianca.


"Sayang, aku udah pesen couple massage untuk kita. Sebentar lagi orangnya dateng ke kamar" ucap Fritz.


"Oke sayang.. thank you" ucap Bianca lalu dengan ragu menghampiri Fritz untuk mengecup pipinya.


Fritz menyambut kecupan Bianca dan menciumi puncak kepala Bianca. Ia sadar butuh waktu untuk mengembalikan keadaan seperti semula.


Mereka mengganti pakaian dengan jubah pijat dan begitu relax saat tukang pijat dengan cekatan memijat tubuh keduanya. Selesai pijat, mereka berdua beristirahat sejenak di kamar.


Fritz mendekatkan tubuhnya ke Bianca di atas ranjang, membelai rambutnya, menghirup aroma tubuh Bianca yang wangi. Entah mengapa tetapi setelah berbaikan dengan Fritz, Bianca merasakan cintanya pada Fritz seakan bertambah, lebih dari sebelumnya. Cintanya untuk Nicholas seakan tidak lagi sebanding dengan cintanya untuk Fritz.


Bianca menatap dalam-dalam mata Fritz dan mengelus wajah Fritz, menciptakan sensasi terbakar di dalam tubuh Fritz.


"Sayang, entah mengapa rasanya saat ini aku mencintai kamu lebih dari sebelumnya dan lebih dari apapun.. Sekarang aku paham arti mencintai yang sesungguhnya Fritz, menerima kekurangan pasangan, memaafkan bahkan kamu bener-bener berhasil merobohkan tembok dalam hati aku.. Aku gak akan malu lagi untuk bilang aku cinta kamu sayang, apapun keadaannya. Aku hanya ingin bahagia sama kamu, selamanya...." ucap Bianca bersungguh-sungguh.


"Sayangku, kamu gak tahu betapa bahagianya aku mendengar ucapan kamu ini.. Mulai saat ini, kita fokus menatap masa depan ya sayang.. Semua yang udah lalu, kita kubur dalam-dalam. New beginning for us.. I love you so much Bianca.." ucap Fritz mencium bibir Bianca.


Ciuman yang awalnya terasa begitu lembut lambat laun berubah menjadi ciuman yang bergairah. Rasa hangat menjalar dalam tubuh Fritz dan Bianca.

__ADS_1


Belum sempat mereka melanjutkan permainan, ponsel Fritz berbunyi dan ia kaget ketika melihat nomor Rena di Indonesia sudah aktif kembali dan menghubunginya. Ia lalu melihat ke arah Bianca, bermaksud meminta ijin Bianca apakah ia harus mengangkat panggilan itu atau tidak.


"Angkat aja sayang, gak apa-apa. Mungkin ada yang penting" jawab Bianca setelah melihat nama Rena tertera di layar ponsel suaminya dan Fritz tampak ragu menjawab panggilan itu.


Mendengar ucapan Bianca, baru Fritz berani untuk menjawan panggilan Rena.


"Iya halo Ren?" sapa Fritz.


"Hi Fritz.. saat ini aku di Jakarta sama Alan dan Alan berencana untuk bertemu dengan kamu dan juga Bianca. Kira-kira kapan kalian sempat?" tanya Rena.


"Aku dan Bianca ada di Bali, lusa pulang Jakarta Ren. Kalian bisa?" tanya Fritz.


"Oke bisa.. minggu depan aku dan Alan baru ke Palembang kok. Salam buat Bianca ya Fritz" ucap Rena.


"Sayang, aku gak ada cemburu lagi sama Rena. Terakhir aku ketemu dia di Barcelona, aku tahu diantara kalian gak ada apa-apa. Kamu juga yang bilang kan kita kubur dalam-dalam yang udah lalu?" ucap Bianca meyakinkan Fritz.


"Makasih sayang.. Rasanya kayak dulu kita baru nikah ya.. Jadi nih kita lanjutin permainan kita?" tanya Fritz.


"Nanti aja simpen dulu, yuk kita jalan-jalan sayang. Nikmatin suasana Bali.." ucap Bianca.


****


"Gimana mereka mau ketemu kita?" tanya Alan penasaran.

__ADS_1


"Iya mau tapi mereka masih di Bali dan lusa baru balik Jakarta. Setelah itu baru kita atur jadwal pertemuan kita ya. Lagian ada apa sih honey, kok kamu pengen banget ketemu Fritz dan Rena? Aku sedikit takut sebenarnya, gak enak hati sama Bianca. Mungkin aja dia masih marah atau kecewa bahkan cemburu kan sama aku" celoteh Rena, membuat Alan gemas.


"Bukan begitu honey... Aku justru mau secara personal menjelaskan status anak aku di rahim kamu dan minta maaf atas kekacauan yang udah terjadi. Aku mau mereka tahu kalau kamu sudah menjadi tanggung jawab aku jadi mereka gak lagi tanya mengenai anak kita. Aku bahkan ingin mengundang mereka ke acara pernikahan kita nanti" ucap Alan.


Alan sudah mendengar semuanya dari Rena dan ia merasa mungkin saja suatu saat keraguan mereka akan muncul dan curiga akan bayi Rena sehingga Alan berencana untuk bertemu dengan Fritz dan Bianca untuk menjelaskan statusnya dalam kehidupan Rena dan juga sebagai ayah dari bayi dalam kandungan Rena.


"Honey, kemarin dokter menanyakan apa aku ingin tahu jenis kelamin anakku..." ucap Rena.


"Anak kita honey, anak kita..." potong Alan.


Maaf, maksudku anak kita.. boleh gak kita gak perlu tahu dulu honey? Biar surprise waktu aku melahirkan nanti" bujuk Rena merayu Alan.


"Tentu aja boleh.. apapun asal kamu nyaman dan senang honey.. Oh iya kamu hari apa jadinya fitting gaun honey?" tanya Alan. Mereka berencana untuk menikah dalam tiga minggu di Jakarta. Alan bahkan menyediakan satu assisten khusus bernama Lola untuk mereka berdua yang mengatur segala keperluan pesta dan berkoordinasi langsung dengan wedding organizer. Alan benar-benar tidak ingin Rena kelelahan mengingat ia sedang hamil.


"Lusa tapi aku bisa sama supir dan Lola kesana.. kamu kan harus kerja walaupun semua bisa dilakuin online" ucap Rena.


"Gak apa-apa, aku gak mungkin ninggalin kamu pergi sama supir dan Lola aja.." ucap Alan sambil mengelus puncak kepala Rena.


"Honey... gimana dengan keluargaku? Aku belum bilang soal kehamilanku ini... Aku takut mereka kecewa.. Takut Reno kakakku marah" lirih Rena.


"Kapanpun kamu mau aku ngomong ke mereka, aku siap. Malam ini? atau seperti rencana kamu tunggu di Palembang juga aku siap.. Apapun yang buat kamu nyaman... tetapi kalau aku boleh kasih saran lebih cepat lebih baik. Jangan sampai mereka kaget nanti pas kita kesana dan liat perut kamu membuncit" ucap Alan.


Semakin hari Rena semakin ragu memikirkan kapan waktu yg tepat untuknya memberitahukan keluarganya, terutama Reno.

__ADS_1


"Oke, malam ini kita video call mereka ya honey" ucap Rena cepat, takut jika ia berubah pikiran lagi.


__ADS_2