
Bianca tampak gugup dan ragu-ragu berjalan menuju pintu masuk cafe tempatnya bertemu dengan Rena.
"Nic, kamu gak temenin aku ke dalam?" tanya Bianca.
"Gak bisa Bi, aku tunggu di sini ya.. semua pasti baik-baik aja" ucap Nicholas, meyakinkan Bianca.
"Aku takut Nic... aku deg-degan" ucap Bianca.
"Ya udah aku duduk di meja terpisah ya di dalam" Nicholas tidak tega melihat Bianca gugup seperti ini.
Bianca lalu setuju dan mereka masuk ke dalam. Bianca berjalan menuju meja di mana Rena sudah menunggunya dan Nicholas memilih untuk duduk di meja lainnya agak jauh tetapi tetap dapat mengawasi Bianca dengan jelas.
"Hi, Ren makasih udah mau ketemu aku" ucap Bianca lalu menjabat tangan Rena dan terpaku melihat cincin yang sangat indah di jari manis Rena. Bianca belum menyadari jika itu adalah cincin pertunangan Rena dan juga Alan.
"Bi, aku minta maaf sebelumnya jika aku sudah melukai perasaan kamu. Aku rasa kamu juga harus tahu kebenarannya. Sewaktu Fritz di Palembang, aku mengundang Fritz ke opening lounge punyaku yang ternyata masih satu gedung dengan hotel tempat Fritz menginap. Malam itu kami minum banyak sekali sampai mabuk dan tidak sadar sama sekali. Tahu-tahu saat Fritz bangun, ia melihatku sudah berada di sampingnya. Sungguh Bi, Fritz dan aku tidak ada hubungan apa-apa. Fritz sangat mencintai kamu, bahkan ia masih kecewa dengan dirinya sendiri..." lirih Rena.
Bianca sedikit percaya dengan perkataan Rena, apalagi ia melihat mata Rena berkaca-kaca menunjukkan penyesalan yang teramat dalam.
"Ren, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Bianca ingin memastikan tentang kehamilan Rena.
"Iya boleh Bi, apa tentang kehamilanku?" tanya Rena, ia paham betul Bianca pasti ingin tahu tentang kehamilannya.
Bianca menganggukan kepalanya, hatinya sangat gugup mendengar jawaban Rena.
"Bi, aku hamil anak Alan bukan anak Fritz. Kami baru saja bertunangan semalam" ucap Rena sambil menunjukkan cincin di jari manisnya.
Bianca masih terdiam, ia tidak tahu harus percaya atau tidak dengan perkataan Rena.
"Bianca, percaya ya aku gak ada hubungan apapun sama Fritz dan ini anak Alan. Dengan nama besar Alan, mana mungkin dia bersedia menikah denganku jika tahu aku hamil dan bukan anaknya Bi. Aku dan Alan, kami saling mencintai. Maafin Fritz ya Bi, ini salahku mengundangnya minum-minum..." ucap Rena.
__ADS_1
"Sejujurnya aku belum tahu Ren apa aku bisa melupakan kejadian ini. Mungkin benar yang kamu dan Fritz bilang ke aku, kalian gak ada niatan berselingkuh tapi aku gak tahu apa aku sanggup menghapus pikiran dan bayangan kalian dari pikiranku.." lirih Bianca, ia berusaha jujur.
Setelah pertemuannya dengan Rena, Bianca mengurung dirinya di kamar. Ia berpikir keras, ia ingin memaafkan Fritz tetapi trauma masa kecilnya membuatnya enggan memaafkan Fritz.
Fritz mengetahui jika Bianca sudah menemui Rena, ia berusaha menghubungi Bianca tetapi tidak ada jawaban. Bianca melihat Fritz berusaha meneleponnya beberapa kali akhirnya menyerah dan menjawab panggilan Fritz.
"Bi, kamu udah berhasil ketemu Rena? gimana Bi?" tanya Fritz.
"Dia menceritakan persis seperti yang kamu ceritakan dan tentang kehamilannya.. itu anak Alan. Mereka bahkan baru saja bertunangan..." ucap Bianca.
"Bi, pulang ya ke rumah. Aku tahu sulit buat kamu maafin dan terima aku lagi tapi aku gak mau kehilangan kamu. Aku akan berusaha menebus kesalahanku Bi.." lirih Fritz, memohon pada Bianca.
"Akan aku pikirkan Fritz, yang pasti aku ingin ketemu Karen. Aku kangen sekali sama Karen..." ujar Bianca dengan suara bergetar.
***
"Ren, ayo kita ke Indonesia.." ucap Alan.
"Iya, kita rayakan pernikahan di Indonesia dan Barcelona. Kamu bahkan belum berkenalan dengan keluargaku dan aku belum berkenalan dengan keluargamu" ucap Alan.
Alan benar, mereka belum mengenal keluarga masing-masing hanya mendengar dari cerita saja. Tetapi Rena bingung bagaimana harus menjelaskan tentang dirinya yang sudah hamil terlebih dahulu.
"Ren, aku akan bilang ke semua orang kalau bayi di perutmu adalah anakku dan memang kenyataannya dia akan menjadi anakku sampai kapanpun. Kamu tenang aja ya sayang..." ucap Alan lalu mencium puncak kepala Rena dengan lembut.
Rena tersenyum dan masuk ke dalam pelukan Alan. Ia benar-benar sudah jatuh cinta pada Alan.
"Kalau gitu, biar kamu yang atur aja kapan kita ke Indonesia. Aku siap kapanpun kamu mau Al.." ucap Rena bahagia.
"Aku akan minta assistenku untuk mengurus semuanya, supaya minggu depan kita bisa pulang ke Indonesia ya. Oh iya sebentar lagi akan ada dokter kandungan yang datang untuk memeriksa kehamilanmu sayang.. memastikan kamu aman naik pesawat" ucap Alan lalu mengelus perut Rena.
__ADS_1
Benar saja, tidak lama kemudian dokter datang dan memeriksa keadaan Rena. Semua baik-baik saja tetapi dokter menyarankan Rena untuk makan lebih banyak dan bergizi karena berat bayinya sedikit kurang.
"Rena, mulai hari ini kamu tinggal bersamaku ya. Disana ada koki yang bisa masak untuk kamu. Pelayan juga akan aku sediakan khusus buatmu. Aku mau memastikan kondisi kamu dan anak kita sehat selalu sayang.." ucap Alan khawatir mendengar ucapan dokter.
Rena setuju dengan permintaan Alan dan meminta Ira, pelayan yang dulu pernah bertemu dengannya untuk menjadi pelayan pribadinya.
"Ira ada di mansionku yang lama Ren tapi kalau itu mau kamu, aku akan kirim Ira ke rumah kita segera" ucap Alan.
"Loh memang kita akan tinggal dimana Al?" tanya Rena bingung.
"Mansion di mana aku melamar kamu... Aku beli itu khusus untuk kamu Ren, kelak akan jadi rumah kita di Barcelona.." ucap Alan.
***
Air mata Raina tumpah melihat foto-foto Nicholas dan Bianca saat mereka di Madrid dan Barcelona. Raina dapat melihat tatapan Nicholas penuh cinta pada Bianca, ia tidak pernah melihat Nicholas menatapnya seperti itu.
Ia mengingat kembali masa dimana ia meyakinkan Nicholas untuk menikah dengannya. Saat itu Nicholas mengatakan jika ia belum siap tetapi Raina tidak kehilangan akal. Raina menjebak Nicholas dengan memasukkan obat perang*ang di minuman beralkohol yang ia sediakan untuk Nicholas dan membiarkan Nicholas menyentuhnya.
Raina ingat betul saat Nicholas melakukan pelepasan, Nicholas menyebutkan sebuah nama "Ca....." desah Nicholas.
Ketika Nicholas bangun, Raina masih tertidur di sampingnya dalam pelukannya. Ia bergerak pelan, tidak ingin membangunkan Raina. Otaknya berusaha mengingat bagaimana ia bisa sampai meniduri Raina.
"Beib...." lirih Raina, terbangun saat Nicholas bergerak.
"Raina, maaf..." ucap Nicholas.
"Semalam kamu tiba-tiba menciumi aku Nic, aku takut awalnya tetapi kamu terus memaksa aku. Aku juga gak tahu Nic, padahal kemarin kita hanya mencoba dua sloki alkohol yang baru papa beli.. Nic, aku gak apa-apa, aku gak menyesal melakukan itu sama kamu. Tapi.. kamu jangan tinggalin aku dan kamu harus tanggung jawab" ucap Raina seolah ia tidak tahu apa yang terjadi.
"Oke aku akan menikahi kamu" ucap Nicholas.
__ADS_1
Sejak kecil papanya selalu mengajarkan Raina untuk berpegang teguh pada apapun yang ia mau. Raina mengelus perutnya dan bersumpah demi bayinya jika ia tidak akan melepaskan Nicholas. Ia akan mempertahankan Nicholas apapun caranya...