
"Beib ayo kita ke rumah sakit sekarang, kamu udah selesai kerjanya?! Aku udah telepon rumah sakit katanya bisa hari ini" ajak Raina.
"Oke siap beib, aku mandi sebentar ya. Gimana kamu masih pusing gak?" tanya Nicholas khawatir. Memasuki lima bulan kehamilan Raina sering merasa pusing dan akhir-akhir ini sakitnya cukup mengganggu aktivitas sehari-hari Raina yang sudah kembali ke kantor.
"Masih tapi ini bisa aku tahan kok, aku tunggu kamu di bawah ya beib" ucap Raina.
"Sini aku tuntun ke bawah kalo gitu, bahaya kamu naik turun tangga sendirian" ujar Nicholas lalu menggandeng tangan Raina menuruni tangga.
Sejak ia hamil, Raina merasa kehidupannya dengan Nicholas menjadi semakin harmonis dan mesra. Nicholas jauh lebih perhatian dan manis, bahkan ia jarang sekali meninggalkan Raina sendirian. Touring motor dengan teman-temannya pun sudah tidak pernah lagi. Untuk pertama kalinya Raina merasa Nicholas benar-benar tulus dan peduli padanya.
Setibanya di rumah sakit, Nicholas meminta petugas untuk membawakan kursi roda untuk Raina, yang sontak membuat Raina protes karena ia masih bisa berjalan tetapi Nicholas memaksa karena ia khawatir dengan Raina yang masih pusing.
"Maaf bu, apa sebelumnya ibu ada riwayat darah tinggi?" tanya suster setelah memeriksa tekanan darah Raina.
"Gak ada suster, dari catatan pemeriksaan saya setiap bulan juga normal sus" jawab Raina setelah mengetahui hasil pemeriksaan tekanan darahnya cukup tinggi.
"Baik bu, ini saya buat catatan untuk Dr. Robby periksa lebih lanjut ya" ucap suster.
Dokter Robby membaca hasil tekanan darah Raina dan memeriksakan kandungan Raina. Wajahnya tampak sangat serius tidak seperti biasanya, Nicholas dan Raina yakin ada sesuatu yang salah dengan kehamilan Raina.
"Gimana dokter, apa semua baik-baik aja?" tanya Nicholas agak panik.
"Hmmm...kalau saya lihat dari gejala, keluhan dan hasil pemeriksaan saya curiga Ibu Rena menderita preeklamsia.." ucap Dokter Robby.
"Preeklamsia..." ucap Raina lirih, tentu saja ia sudah membaca buku-buku kehamilan dan tau apa itu preeklamsia yang berbahaya bagi calon ibu dan janinnya.
"Maaf preeklamsia itu apa dokter?" tanya Nicholas tidak paham tapi ia yakin itu hal yang buruk.
"Preeklamsia itu adalah kelainan yang terjadi pada pertumbuhan plasenta dan ini harus ditangani dengan serius karena bisa membahayakan ibu atau janin bahkan keduanya. Apalagi tekanan darah ibu cukup tinggi, kaki juga sudah membengkak. Saya ingin ibu periksa urine juga untuk mengetahui kandungan protein dalam urine ibu" jelas Dokter Robby.
"Lalu gimana dok penangannya?" tanya Nicholas cemas.
"Bagaimana kalau ibu dirawat untuk pemeriksaan pak? supaya bisa terpantau juga sampai tekanan darahnya stabil.
__ADS_1
"Iya dok" jawab Nicholas, ia lebih tenang jika Raina dirawat karena semua bisa dipantau dan cepat ditangani.
Nicholas lalu menggenggam tangan Raina yang tampak sangat cemas lalu mengelus punggungnya dengan lembut untuk menenangkan Raina.
"Aku takut... gimana kalau terjadi apa-apa sama aku atau bayi kita Nic.." ucap Raina.
"Tenang ya beib, kamu jangan mikir macem-macem dulu. Semua akan baik-baik aja" ujar Nicholas padahal ia sendiri juga merasa tidak tenang, apalagi sampai mengancam keselamatan istri dan anaknya.
***
"Halo bi, kamu dimana? aku sama Simon mau ke rumah sakit jenguk Raina bi. Dia masuk rumah sakit, kamu mau ikut gak? kan kamu juga kenal sama Raina hehe kalo mau aku jemput ya sekarang" ajak Lita.
Simon awalnya menelepon Nicholas untuk mengajaknya ngopi di luar tapi Nicholas mengabarkan Raina masuk rumah sakit, jadi Simon dan Lita berencana menjenguk Raina di rumah sakit.
"Hmmm... boleh ta, kebetulan aku juga lagi gak ngapa-ngapain hari ini tapi Raina kenapa ta masuk rumah sakit?" jawab Bianca.
"Aku juga belum jelas kenapa Bi, tadi Nicholas juga belum cerita kenapanya cuma aja ada sedikit masalah sama Raina dan kehamilannya" jelas Lita.
Sesampainya di rumah sakit, Bianca melihat Nicholas sedang duduk di samping Raina sambil memegang tangannya. Nicholas pun saat ini sudah tidak ragu untuk memegang tanga istrinya itu di depan orang lain khususnya di depan Bianca. Nicholas hanya memikirkan keadaan Raina dan bayinya saat ini.
"Guys, makasih ya.. repot-repot jenguk kesini pake bawa buah banyak begini lagi" ucap Raina.
"Gak repot Rai, kamu cepet pulih ya.." ucap Lita membalas perkataan Raina.
"Iya, kita juga berharap Raina bisa cepet stabil dan pulang ke rumah" ujar Nicholas.
"Hmmm... sorry Nic, Rai sebenarnya ada apa sampai kamu dirawat?" tanya Simon berhati-hati takut menyinggung perasaan Nicholas dan Raina.
"Aku terkena preeklamsia, kelainan plasenta gitu. Awalnya aku sering pusing belakangan ini, ternyata tensiku tinggi banget. Kaki juga bengkak tapi aku pikir hamil memang bengkak kakinya masih normal. Jadi saat ini aku dipantau supaya stabil, minum obat untuk menurunkan tekanan darahku juga" jelas Raina.
Lita dan Simon hanya terdiam karena mereka kurang paham tentang kehamilan, apalagi me dengar preeklamsia. Sedangkan Bianca yang sudah pernah mengandung tahu betul preeklamsia itu cukup berbahaya bagi ibu dan bayi.
"Pokoknya kita berdoa supaya kamu dan bayi di perut kamu baik-baik selalu ya Rai, yg penting kamu harus semangat jangan dipikirin terus" ucap Bianca.
__ADS_1
"Iya Bi, makasih ya.." ucap Raina.
Mereka berlima lalu berbincang-bincang dan memberi semangat untuk Nicholas dan Raina. Ponsel Bianca berbunyi, ia lalu mengangkat panggilan dari Fritz.
"Halo sayang" sapa Bianca.
"Hei sayang, kamu masih rumah sakit? sorry tadi aku meeting jadi baru liat pesan dari kamu" ucap Fritz.
"Iya masih, belum lama juga aku sampai sini" ucap Bianca.
"Aku udah beres kerjanya hari ini, aku susulin kamu kesana boleh?" tanya Fritz.
"Boleh dong, ya udah aku kirimin kamu nomor kamarnya ya" ucap Bianca lalu mematikan sambungan telepon.
"Fritz mau kesini?" tanya Simon yang mendengar ucapan Bianca di telepon dan Bianca mengangguk.
"Kok bisa ya kalian udah nikah bertahun-tahun tapi romantis begini terus.. bucin abis si Fritz, gak bisa ditinggal lama-lama berjauhan hahaha" ledek Lita.
"Kamu juga gitu dong Mon, biar Lita gak iri tuh hehehe" ledek Raina.
Ketika Fritz tiba, ia langsung memeluk dan mencium kening Bianca di depan yang lain. Baru kemudian ia menghampiri Raina yang masih berbaring di samping Nicholas.
"Cepet pulih ya Rai, jangan cape-cape juga. Sorry aku gak bawain apa-apa ya tadi dari kantor buru-buru kesini soalnya" ucap Fritz.
"Pasti udah gak sabar mau ketemu istri tercinta yahh" ledek Lita.
"Iya dong... kan kangen seharian gak ketemu.." jawab Fritz sambil mengalungkan lengannya di pinggul Bianca.
"Ini nih si bucinnnn...maklum ya Rai, cinta mati dia sama Bianca dari dulu begini kelakukannya" ledek Lita lagi.
"Ishhh daripada cinta monyet... eh sorry sorry Nic, gak maksud..." ucap Fritz tanpa bermaksud menyinggung Nicholas, yang ia tahu sebagai cinta monyet Bianca.
Raina yang mendengar ucapan Fritz lalu berpikir ada apa dengan Nicholas dan cinta monyet??? Ia ingin bertanya tetapi mereka sudah melanjutkan topik pembicaraan yang lain jadi Raina mengurungkan niatnya..
__ADS_1