Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)

Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)
First night


__ADS_3

"Kamu cantik sekali Ren" puji Alan melihat penampilan Rena malam ini. Ia memakai gaun berwarna maroon dengan model A-line dress yang panjangnya di bWah lutut Rena.


"Terima kasih... yuk mau kemana kita?" tanya Rena.


"hmm... tunggu sebentar kamu ganti sepatu dulu sana. Jangan pakai heels begini" ujar Alan setelah melihat Rena memakai heels walaupun mungkin hanya sekitar tiga sentimeter tingginya.


Rena pikir tempat yang akan mereka kunjungi tidak cocok dengan pakaiannya malam ini tetapi Alan malah mengatakan jika Rena sedang hamil dan sebaiknya jangan memakai sepatu berhak tinggi lagi. Mendengar pernyataan Alan membuat Rena senang, perhatian Alan padanya sangat besar.


Alan turun dari kendaraannya lalu ia membukakan pintu untuk Rena. Mereka berjalan menyusuri sebuah gang yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Rena merasa bingung awalnya tetapi ia kagum dengan apa yang ada di hadapannya ketika mereka berhenti di sebuah cafe kecil yang berada di ujung gang. Cafe yang sangat klasik, bernuansa kayu dan nampak di beberapa sudut ruangan ada lemari-lemari kaca besar yang isinya buku-buku.


"Gimana? suka?" tanya Alan saat melihat pancaran kekaguman di mata Rena dan Rena hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. Mereka masuk ke dalam cafe dan duduk di sudut ruangan.


"Cafe ini tadinya adalah perpustakaan yang sudah ada dari zaman dulu, umurnya udah seratus tahun Ren. Kamu liat buku-buku disini udah pada usang kan? Kita boleh melihat-lihat koleksi buku disini tetapi kita gak bisa memegangnya langsung karena takut rusak karena beberapa sudah lapuk. Zaman sekarang semakin sedikit orang yang suka baca buku Ren, apapun bisa diakses di ponsel kita. Makanya aku kagum sewaktu aku tahu kamu suka baca buku" ujar Alan membuat Rena terkejut karena ia tidak pernah mengatakan ke Alan kalau ia suka membaca buku tetapi Alan mengetahui hobinya itu.


Alan melihat di apartment Rena banyak terdapat buku-buku bacaan dari berbagai genre. Ya, Rena memang suka membaca buku sejak kecil. Berawal dari papa dan mamanya yang selalu membacakan buku dongeng padanya sebelum tidur. Ketika Rena sudah bisa membaca, ia membaca sendiri buku-bukunya sebelum tidur dan semakin ia beranjak dewasa ia masih saja membaca berbagai jenis buku sesuai dengan usianya.


"Aku sempat lihat dan membaca sedikit koleksi buku-bukumu di apartment. Menarik... kamu baca semua buku dari buku tentang berbisnis, kepemimpinan, pola asuh anak, pengembangan diri sampai novel fiksi pun kamu baca" ucap Alan memuju Rena.


Mereka menghabiskan malam dengan saling bercerita tentang keluarga masing-masing dan juga masa kecil mereka. Rena baru saja mengetahui jika Alan adalah anak tunggal, tetapi saat papanya meninggal mamanya menikah lagi dengan James, laki-laki yang sangat kaya. Mamanya hanya memiliki satu anak yaitu Alan dan papa tirinya mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan.

__ADS_1


Walaupun Alan hanya anak tiri dari James tetapi ia sangat menyayangi Alan. Ia bahkan sudah melihat potensi dalam diri Alan untuk berbisnis sejak remaja. Saat teman-teman bahkan kedua anaknya sibuk bermain dan bersenang-senang, Alan selalu menemani dan mendampingi James untuk meeting sekalipun ia belum paham berbisnis.


Sekalipun Alan memiliki koneksi sehebat James, perusahaan yang Alan bangun ini adalah hasip jerih payahnya sendiri. Modal yang ia peroleh dari James hanyalah strategi berbisnis dan bernegosiasi. Alan bahkan memulai perusahaannya dari garasi rumah yang tidak terpakai. Hubungannya dengan dua orang saudara tirinya cukup dekat sebenarnya tetapi kesibukan mereka masing-masing membuatnya jarang bertemu. James dan mama kandung Alan saat ini memilih untuk tinggal berpindah-pindah negara dan sudah hampir setahun ini mereka sedang berada di Belanda.


Rena kagum dengan sosok Alan yang ternyata seorang pekerja keras, berbeda dengan dirinya yang hanya meneruskan perusahaan papanya.


Selesai makan malam, Alan mengantarkan Rena kembali ke apartmentnya. Alan semakin tertarik dengan sosok Rena, seorang wanita yang terlihat sangat angkuh dan kuat di permukaan tetapi sangat lembut hatinya.


"Thank you Alan.." ucap Rena.


"Aku yang terima kasih sama kamu, udah bersedia makan malam sama aku. Sampai ketemu besok Ren" jawab Alan.


***


"Makasih Nic untuk sotonya.. soto kesukaan aku" ucap Bianca melalui sambungan telepon.


"Sama-sama Bi, masih sama kan rasanya kayak dulu ya hehehe... oh iya Bi, maaf tadi aku mampir gak bilang-bilang dan aku gak tahu ada Fritz disana..Oh iya gimana kelanjutan cerita kalian?" ucap Nicholas.


Bianca menceritakan kepada Nicholas tentang hubungan Fritz dan Rena yang terjadi karena mereka mabuk dan bukan sengaja ingin berselingkuh. Ia juga menceritakan Fritz akan berusaha menghubungi Rena untuk menjelaskan pada Bianca sekaligus mencari tahu tentang kehamilan Rena.

__ADS_1


"Lalu kamu berencana untuk memaafkan Fritz?" tanya Nicholas.


"Aku gak tahu Nic, kalau benar mereka mabuk berarti Fritz bukan sengaja ingin melakukan itu kan.. lagipula... hhmmm..." ucap Bianca ragu-ragu.


"Apa Bi?" tanya Nicholas kembali.


"Lagipula apa yang pernah terjadi diantara kita malam itu juga termasuk berselingkuh kan Nic?" tanya Bianca mengungkit kejadian dimana mereka nyaris berhubungan badan ketika di kamar hotel.


Nicholas melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka dan kata-kata yang ingin ia ucapkan.


"Iya memang kita sudah melewati batas Bi, aku tahu tapi bukan berarti kamu menghukum diri kamu sendiri dengan melupakan sakit hati kamu kan?" ujar Nicholas. Ia berharap jika Bianca ingin berbaikan dengan Fritz, Bianca melakukannya dari hati bukan karena mengingat kesalahan yang pernah ia lakukan sebelumnya.


"Apa maksud kamu?" tanya Bianca tidak mengerti ucapan Nicholas.


Saat Nicholas ingin menjawab pertanyaan Bianca, ia mendengar Raina memanggilnya. Nicholas lalu mengatakan pada Bianca bahwa ia akan ke apartment nanti lalu mematikan sambungan telepon dan segera menghampiri Raina.


Bianca lalu menghubungi Simon dan meminta kontak Rena, tetapi saat ia mencoba menghubungi Rena nomornya tidak dapat dihubungi. Bianca berusaha mencari informasi sendiri, ia ingin tahu kebenarannya sendiri. Ia mencari media social Rena tetapi semuanya sudah tidak aktif lagi. Rena memutuskan untuk tidak menonaktifkan sosial medianya sementara waktu ini karena ia tidak ingin ada yang menghubunginya.


Bianca putus asa, ia seakan menemui jalan buntu. Saat ini ia merasa sangat merindukan Karen, ia ingin memeluk Karen tetapi ia belum sanggup untuk pulang ke rumah dan setiap hari harus berhadapan dengan Fritz. Ia memutuskan untuk melakukan panggilan video dengan Karen melalui ponsel ART nya dan melepas rindu sejenak. Karen terus merengek meminta Bianca cepat pulang tetapi ia beralasan saat ini ia masih harus mengurus beberapa hal dulu sebelum pulang dan meminta Karen untuk sabar sementara ini.

__ADS_1


__ADS_2