
Bianca bersandar dalam pelukan Fritz, Fritz membelai, rambutnya dengan lembut. Tubuh keduanya basah dengan keringat sekalipun AC dalam kamar menyala. Entah berapa kali Fritz dan Bianca larut dalam permainan di ranjang malam ini.
"Sayang, aku mau jujur sama kamu" ucap Fritz.
"Apa sayang sepertinya serius banget?" tanya Bianca.
"Hari ini aku bertemu Nicholas di coffee shop.. Kami terlibat pertengkaran, aku memukul Nicholas. Entah kenapa aku benar-benar merasakan emosi yang di luar kontrolku.. Aku gak mau kehilangan kamu Bi.. Aku gak mau kamu bagi hati kamu antara aku dan Nic.." ujar Fritz.
"Sayang... it's over... aku janji, no more Nicholas" ucap Bianca yakin lalu memeluk Fritz lebih dalam dan lebih erat lagi.
Fritz tidak dapat tidur dengan nyenyak malam ini. Ia melihat wajah Bianca yang tertidur pulas, ada perasaan aneh yang muncul, yang ia tidak tahu apa namun pikirannya selalu membayangkan Bianca dan Nicholas bermesraan.
Ia benar-benar mencintai Bianca dan ingin memperbaiki hubungan mereka bahkan membuka lembaran baru yang lebih indah. Ia juga dapat merasakan Bianca yang lebih ekspresif akan perasaannya dan mencurahkan rasa cintanya yang semakin dalam namun setelah bertemu Nicholas, Fritz malah kembali memikirkan hubungan Nicholas dan Bianca.
Fritz memutuskan untuk keluar dari kamar dan menuju balkon kamarnya untuk mencari udara segar. Ia duduk di teras balkon sambil bermain ponsel dan iseng mengaktifkan kembali sosial media yang sudah lama tidak ia aktifkan karena sibuk bekerja.
Ia melihat perkembangan hidup beberapa temannya bahkan ia membuka sosial media milik Bianca dan melihat betapa bahagianya foto-foto keluarga mereka. Melihat foto-foto itu membuat Fritz tersadar jika ia harus segera menghapus bayangan Nicholas dan Bianca, sama seperti Bianca yang berusaha menghapus bayangan dirinya dan Rena.
***
"Honey, kamu kenapa?" tanya Alan bingung setelah melihat Rena masuk ke dalam mobil dengan mata sembab dan wajah yang sangat sedih.
"Aku.. ternyata aku bukan anak kandung mamaku.." ucap Rena menangis.
__ADS_1
Alan tidak mengerti apa yang Rena ucapkan tetapi ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia merengkuh Rena dalam pelukannya dan mengelus punggung Rena yang masih berbalut gaun pengantin.
Sepanjang perjalanan Alan tidak mengucapkan satu patah katapun kepada Rena, bukan karena ia marah tetapi ia hanya ingin istrinya merasa lebih tenang terlebih dahulu sebelum mereka berbicara dan membahas permasalahan Rena.
"Awwww....." ringis Rena kesakitan sambil memegang perutnya.
"Honey, kenapa? Perut kamu sakit?" tanya Alan panik melihat wajah Rena pucat.
"Iya... ngilu banget..." jawab Rena menahan sakit yang ia rasakan.
Tanpa pikir panjang Alan langsung menginjak gas lebih dalam dan menuju rumah sakit terdekat. Jantung Alan berdetak kencang, ia panik dan khawatir dengan kandungan Rena.
Setibanya di rumah sakit, Alan meminta dokter terbaik di rumah sakit untuk memeriksa Rena. Rena nampak semakin kesakitan dan terus memegang perutnya. Air matanya turun, antara sakit dan juga panik bahkan Rena tidak dapat memikirkan apa-apa lagi.
"Baik dok, terima kasih" ucap Alan lebih lega.
"Gimana honey? semua baik-baik aja kan?" tanya Rena saat Alan masuk ke dalam ruangan, ia sudah merasa sakitnya jauh berkurang.
"Iya semua baik-baik aja honey... Aku panik banget tadi mikirin kamu kesakitan, belum lagi takut anak kita kenapa-kenapa.. Oh ya kata dokter tadi kamu tuh gak boleh terlalu capek, harus banyak istirahat dan yang terpenting gak boleh stress!!" ucap Alan.
"Iya maaf ya, aku udah bikin kamu khawatir.. Lalu kapan aku boleh keluar dari rumah sakit?" tanya Rena.
"Kalau besok kondisi kamu bagus, kita bisa pulang. Maaf juga mungkin tadi kamu terlalu lelah sewaktu pesta tadi.. kamu tenang ya, aku akan selalu nemenin kamu, jagain kamu dan anak kita.. Sekarang ayo tidur dulu ya supaya kamu cepat pulih" ucap Alan.
__ADS_1
"Honey... masalah tadi tentang Reno dan mama..." ujar Rena ingin menjelaskan ke Alan.
"Masalah itu nanti baru kita bicarain ya honey.. Sekarang yang terpenting kamu dan anak kita baik-baik aja jadi besok kita bisa keluar dari rumah sakit" jawab Alan sambil mengelus kepala Rena. Ia tidak ingin Rena kembali bersedih menceritakan permasalahannya.
Setelah kontraksinya hilang, Rena tidak dapat tidur karena ia khawatir akan bayinya, dokter juga sudah memeriksa kondisi bayinya dan semua baik-baik saja. Alan dengan terpaksa meminta dokter untuk memberikan Rena sedikit obat penenang supaya Rena dapat tidur dan beristirahat dengan cukup.
Alan dengan setia menemani Rena di sampingnya. Seharusnya malam ini bisa menjadi malam pertama untuk mereka setelah sekian lama mereka berdua menahan untuk tidak melakukannya sebelum menikah secara sah tetapi Alan yang sangat pengertian lebih memikirkan istri dan bayinya. Kamar hotel super mewah yang disewa Alan pun sia-sia malam ini.
Alan berniat menghubungi Reno atau Alea untuk memberitahukan mereka tentang kondisi Rena tetapi mengingat sepertinya mereka sedang ada masalah maka Alan mengurungkan niatnya itu.
Alan sangat lelah hingga ia tertidur di sofa kamar rumah sakit. Rena terbangun dan melihat Alan tidur di sofa, hatinya merasa miris sekali membiarkan suaminya tertidur di rumah sakit pada malam pertama mereka.
Rena mencoba untuk memejamkan mata tapi pikirannya terus memikirkan hal-hal yang baru saja terjadi.
Sekalipun ia sangat menyayangi Reno dan mama Alea, tetap di dalam hatinya ada perasaan sedih karena terus dibohongi selama ini. Baginya akan lebih baik jika Alea menceritakan semuanya dibanding jika ia harus tahu dengan cara seperti ini.
Tiba-tiba Rena menyadari jika ia juga akan mengulang apa yang dilakukan Alea. Saat bayinya lahir nanti, bayi mungil itu akan tumbuh dewasa dengan Alan sebagai ayahnya. Anak itu bahkan tidak akan pernah tahu jika ia adalah anak dari laki-laki lain. Bukan hanya anak itu tetapi semua orang akan hidup dalam kebohongan yang ia ciptakan.
Ia bingung apakah sebaiknya ia berkata jujur kepada Fritz?! Lagi-lagi batinnya bergejolak, ia mempertanyakan kesiapan hatinya untuk menyimpan rahasia ini seumur hidup.
Rena sudah merasakan sakitnya hidup dalam kebohongan dan ia tidak ingin itu terjadi pada anaknya kelak. Tetapi sekarang sepertinya terlambat jika ia jujur, ia juga sudah menjadi istri sah Alan.
Ia bergerak perlahan berusaha turun dari ranjang rumah sakit untuk mencari di mana ponselnya. Rena berencana untuk menghubungi Fritz.
__ADS_1