
Nicholas sudah bersiap untuk menyatukan inti tubuhnya dengan Bianca, ia sudah berada di atas tubuh Bianca. Tiba-tiba Bianca mendorong tubuh Nicholas dari atas tubuhnya.
"Ya Tuhan Nicholas, apa yang kita lakuin?!!!!" pekik Bianca lalu bangkit dari tempat tidur dan menutupi tubuh polosnya lalu mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan berlari menuju kamar mandi.
Bianca membasuh tubuh dan wajahnya dibawah kucuran shower. Tubuhnya bergetar hebat, ia sangat takut membayangkan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Nicholas. Air matanya tumpah, merasa dirinya begitu lemah akan godaan bahkan ia hampir saja melakukan hubungan layaknya sepasang suami istri dengan Nicholas.
"Bukkkkk.." Nicholas meninju bantal yang berada di sampingnya. Ia tidak mengerti apa yang ia rasakan, entah kesal pada dirinya yang tidak mampu menahan diri atau justru kesal karena ia gagal melanjutkan permainannya dengan Bianca.
Ia lalu mengambil pakaiannya dan memakainya kembali sambil menunggu Bianca keluar dari dalam kamar mandi.
Bianca keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah merah dan sembab. Nicholas lalu berniat menghampiri Bianca dan memberikan segelas air putih untuknya tetapi Bianca langsung membuka pintu kamar dan berlari keluar menuju kamarnya yang hanya bersebelahan dengan kamar Nicholas.
Nicholas berusaha mengetuk pintu kamar Bianca beberapa kali tetapi tidak ada respon dari Bianca. Nicholas lalu kembali ke kamarnya dengan frustasi. Ia yakin Bianca tidak akan mau lagi berhubungan dengannya setelah acara pernikahan besok.
Di dalam kamar Bianca terus menangisi perbuatannya dengan Nicholas. Ia tidak menggubris Nicholas yang mengetuk pintu kamar dan memintanya membuka pintu. Bianca belum sanggup berhadapan dengan Nicholas.
****
Keesokan paginya Bianca sudah bangun sekalipun ia hanya terlelap selama 2 atau 3 jam saja. Penata rias sudah siap untuk memoleskan make up di wajah Bianca. Ia terus memikirkan kejadian semalam, tubuhnya merasakan sebuah sensasi terbakar setiap kali ia mengingat-ingatnya
"Bi, halo bi...." ucap Lita yang juga sedang dirias di sebelahnya.
"Oh iya ta, sorry aku gak fokus hehe kenapa ta?" tanya Bianca kaget, ia tidak mendengar Lita sudah beberapa kali memanggil namanya.
"Bangun subuh jadi ngaco kamu bi hahaha aku agak deg-degan nih bi" ucap Lita.
"Hahaha semua orang juga pasti kayak kamu ta mau nikah.. dulu aku sampe gak bisa tidur semaleman" ujar Bianca menengkan Lita.
__ADS_1
"Semalem sih aku tidur capek abis pesta lajang haha eh iya semalem aku gak liat kamu ta perasaan apa aku terlalu menikmati pesta ya?" tanya Lita membuat gusar Bianca.
"Oh iya semalem aku naik duluan ke kamar, capek hehehe" jawab Bianca.
Lagi-lagi Bianca tidak mampu menceritakan pada Lita tentang apa yang terjadi padanya dan Nicholas. Ia tidak mau sahabatnya merasa bersalah telah mempertemukan mereka, lagipula Bianca memang tidak pernah jujur kepada siapapun tentang perasaannya kepada Nicholas.
***
"Kamu cantik banget hari ini, sampe pangling aku" ujar Simon saat melihat Lita selesai dirias. Lita memakai baju pengantin berwarna putih dengan model mermaid, membuat Lita terlihat langsing karena biasanya ia suka dengan pakaian-pakaian oversize.
"Jangan suruh aku sering-sering gini ya, cape dirias gini.." jawab Lita cuek.
"Hi ta, selamat ya...hi bi.." sapa Nicholas saat bertemu dengan Lita dan Bianca untuk menuju lokasi pernikahan Simon dan Lita.
"Thanks Nic" jawab Lita membalas ucapan selamat dari Nicholas.
"Selamat ya Mon, ta langgeng ya kalian" ucap Bianca tanpa membalas sapaan dari Nicholas.
Sepanjang acara baik Nicholas dan Bianca, mereka saling diam dan tidak berbicara satu patah kata pun. Nicholas sangat gusar, ia sedang bertengkar hebat dengan Raina dan juga masalah dirinya yang kemungkinan tidak memiliki keturunan tetapi yang ia pikirkan hanya Bianca saat ini.
****
"Sayang...." sapa Fritz yang sudah berada di samping Bianca lalu merangkul dan menciumnya. Saat ini mereka sudah berada di acara resepsi pernikahan Simon dan Lita.
"Hi, kamu baru sampe?" tanya Bianca. Ia begitu sedih melihat suaminya, ia merasa telah berdosa besar pada Fritz.
"Iya sayang tadi aku mampir ke rumah mama dulu cek Karen" ujar Fritz. Baru berpisah semalam dari Bianca tetapi ia sangat merindukan istrinya dan tampak tidak dapat menjauhkan tangannya dari Bianca.
__ADS_1
Nicholas memperhatikan yang Fritz lakukan kepada Bianca, hatinya terbakar api cemburu. Ia lalu memilih menjauh dari pasangan yang nampak bahagia itu.
Fritz dan Bianca sedang asik bercengkrama, mereka tampak begitu mesra. Tidak mungkin ada seorang pun yang menyadari bahwa pasangan suami istri ini telah melakukan kesalahan besar dalam pernikahannya.
"Fritz..." seseorang memanggil Fritz dan menepuk lengannya.
Ia terdiam beberapa detik menyadari sosok wanita yang berada di hadapannya saat ini, tenggorokannya tercekat membuatnya sulit berkata-kata.
"Dunia bener-bener sempit sekali ya" ujar wanita itu.
"Oh hi.. Rena.. Sayang, ini Rena clientku...yang kemarin di Palembang..." ucap Fritz sedikit terbata-bata. Ia tidak menduga akan bertemu lagi dengan Rena, terutama pada acara pernikahan Simon dan Lita.
Rena lalu memperkenalkan diri pada Bianca dan mereka berjabat tangan.
"Bianca..oh iya kok bisa kenal Simon dan Lita?" tanya Bianca heran.
"Oh Simon itu sebenarnya sepupuku, harusnya aku udah disini dari kemarin tapi aku sibuk banget jadi baru bisa kesini sekarang" jelas Rena lalu pamit pada Fritz dan Bianca.
Fritz lalu meminta ijin pada Bianca untuk ke kamar mandi sebentar, padahal ia ingin menyusul Rena.
"Ren, aku tunggu kamu di depan pintu area khusus keluarga" ucap Fritz pada Rena. Pesta pernikahan Simon dan Lita diadakan di area outdoor dan di area indoor terdapat sebuah ruangan kecil yang bisa dimanfaatkan keluarga untuk menyimpan barang atau tas mereka.
Rena melihat Fritz sudah berjalan terlebih dahulu, baru ia menyusul Fritz sehingga orang-orang tidak curiga.
"Ren, Lita itu sahabat istriku jadi jangan sampe kamu ngomong apa-apa ke Simon!" ujar Fritz, ia panik takut rahasianya terbongkar.
"Cantik sekali istrimu Fritz" goda Rena. Ia sedikit cemburu mengetahui Bianca ternyata sangat cantik melebihi ekspektasinya. Pantas saja Fritz begitu takut istrinya tau dan takut kehilangan istrinya.
__ADS_1
"Ren, aku serius! Jangan sampai ada yang tau apa yang terjadi sama kita di Palembang!!" ucap Fritz geram.
"Iya Fritz kamu tenang aja..Aku juga gak bermaksud dan gak ada niatan untuk merebut kamu dari istri kamu. Apa yang terjadi sama kita aku anggap kebodohan karena mabuk aja" ucap Rena lalu meninggalkan Fritz dan bergabung kembali dalam pesta.