
***Flash Back ke malam Alan dan Rena selesai makan malam dengan Fritz"
"Makasih ya Al, kamu benar-benar berhasil bikin Fritz yakin tadi... Aku bener-bener berhutang sama kamu" ucap Rena sambil menuangkan segelas air untuk Alan. Saat mengantarkan Rena pulang ke apartment, Alan mampir ke toilet lalu mereka lanjut berbincang-bincang di ruang tamu apartment Rena.
"Sekarang rencana kamu apa? Kamu akan berbohong selamanya? Gimana dengan anak kamu nanti, gimana kalau dia bertanya siapa ayahnya?" tanya Alan.
"Entahlah Al, aku benar-benar belum terpikirkan tentang itu.." jawab Rena. Selama ini ia memang belum memikirkan akan bagaimana dengan nasib anaknya kelak. Pertanyaan Alan membuatnya sedikit panik, ia merencanakan semuanya bahkan bagaimana menghadapi keluarganya tetapi ia tidak pernah berpikir tentang bagaimana nasib anaknya kelak. Saat itu perut Rena mendadak menjadi kencang dan tegang, ia lalu memegang perutnya dan terduduk di sofa, gelas berisi air untuk Alan pun terjatuh ke lantai.
"Ren, kamu kenapa?" tanya Alan panik.
"Perutku mendadak kencang sekali rasanya Al" ucap Rena, ia khawatir terjadi sesuatu pada bayinya.
"Oke sini, kakinya dilurusin ya Ren. Sebelah mana yang sakit?" tanya Alan, lalu memegang perut Rena dan mengelusnya lembut. Perlahan perut Rena membaik dan normal kembali. Alan juga menawarkan Rena untuk ke rumah sakit tetapi Rena mengatakan perutnya sudah baik-baik saja dan tidak perlu ke rumah sakit.
Alan dengan cekatan membuatkan segelas teh hangat untuk Rena, duduk disampingnya dan menjaga Rena.
"Al, kamu pasti cape. Aku udah baik-baik aja sekarang, kamu gak harus tungguin aku begini" ucap Rena.
"Mana mungkin aku biarinin kamu sendiri Ren, kalo tiba-tiba kamu sakit lagi gimana? Kamu cuma sendirian Ren disini.." ujar Alan lembut.
"Tapi Al...." ucap Rena merasa tidak enak dengan Alan yang sudah banyak membantunya.
"Gak ada tapi-tapi, aku kasih kamu pilihan ya.. Kamu ijinin aku disini nemenin kamu malam ini atau sekarang juga kamu ikut ke rumahku. Aku akan minta seorang pelayan untuk duduk di samping kamu malam ini" potong Alan, ia hanya ingin memastikan Rena dan bayinya baik-baik saja.
__ADS_1
Mendengar ucapan Alan barusan sepertinya Rena tidak punya pilihan selain membiarkan Alan menjaganya malam ini.
"Ya udah aku mau tidur di kamarku ya Al, kamu bisa tidur di sofa sini" ucap Rena lalu beranjak dari sofa menuju kamarnya.
"Oke tapi pintunya jangan ditutup rapat-rapat ya supaya aku bisa denger kalo kamu panggil aku" jawab Alan.
Malam itu kondisi Rena baik-baik saja dan ia tidur sangat nyenyak. Berbanding terbalik dengan Alan yang biasa tidur di ranjang mewah, sekarang terpaksa tidur di sofa tentu saja ia tidak leluasa dan tidak nyaman. Pikirannya memikirkan banyak hal, khususnya tentang Rena..
***kembali ke masa sekarang***
Selepas malam itu Alan menghilang begitu saja, sudah dua minggu ia tidak berhubungan dengan Alan. Rena ingin sekali menghubungi Alan karen ia bosan dan butuh tempat mengobrol tetapi Rena pikir mungkin Alan hanya ingin membantunya saja dan selesai malam itu Alan yang merupakan orang penting pasti merasa sudah cukup membantu Rena.
"Katanya ia ingin mengajak seminggu penuh makan malam bersama tapi nyatanya udah dua minggu ini aja dia menghilang begitu saja" pikir Rena sambil memegang ponselnya, ragu ingin menghubungi Alan atau tidak.
Rena mulai berpikir apakah keputusannya berbohong dari Fritz justru hanya mengorbankan sang anak kelak?!
Rena mengambil ponselnya dan menelepon Fritz. "Halo Fritz" sapa Rena.
"Iya Ren, ada apa?" tanya Fritz, saat itu ia baru saja pulang dari rumah sakit dan baru selesai mandi.
"Fritz, aku...hmmmm...." ucap Rena.
"Ada apa Ren? kamu jangan bikin aku cemas.. Apa ini soal kita dan bayi di perut kamu? Bukankah kamu bilang itu anak Alan, bukan anakku?! Ayo Ren, ada apa sebenarnya...Halo, Ren..Rena..." ucap Fritz cemas karena Rena hanya terdiam, tidak menjawab satu pun perkataannya.
__ADS_1
"Plakkkkkk....." sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Fritz.
"Bi..kamu denger aku Bi..." ucap Fritz panik.
"Denger apa lagi?? Ada hubungan apa kamu sama Rena sampe kamu merasa Rena hamil anak kamu?!!!" hardik Bianca penuh emosi. Saat itu Bianca ingin memanggil Fritz untuk minum kopi di teras, ia mendengar Fritz sedang menelepon seseorang lantas ia berniat menutup kembali pintu kamar. Saat itu Bianca mendengar ucapan Fritz tentang kehamilan Rena.
"Bi...semuanya bisa aku jelasin..."ucap Fritz bingung ingin menjelaskan dari mana.
"Aku cuma butuh kamu jawab satu pertanyaan aku, apa kamu pernah tidur sama Rena?" tanya Bianca. Wajahnya merah saat ini, jantungnya bergedup kencang.
Fritz tidak mampu menjawab pertanyaan Bianca dan tertunduk menangis. Melihat sikap suaminya itu Bianca paham bahwa jawabannya adalah iya. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya jatuh di pipi Bianca. Hatinya sangat perih mengetahui suaminya yang nyaris sempurna ternyata mengkhianatinya.
Bianca lantas pergi meninggalkan rumah, ia mengendari mobilnya tanpa tujuan. Seluruh dunianya hancur saat ini, ia selalu yakin Fritz adalah suami yang setia. Ia sangat percaya pada Fritz tapi nyatanya Fritz malah berselingkuh darinya. Memikirkan betapa bodohnya ia mempercayai Fritz dan Rena hanya rekan kerja, tidak lebih.. Bahkan mereka makan malam bersama.. Bianca tidak paham permainan macam apa yang Fritz dan Rena mainkan karena Rena juga mempunyai kekasih yaitu Alan!
Ponselnya terus berbunyi, Fritz menghubunginya tanpa berhenti sejak sejam yang lalu. Bianca benar-benar tidak ingin berbicara dengan Fritz saat ini.
Hari semakin gelap, Bianca memutuskan untuk menginap di apartment miliknya. Apartment ini adalah hadiah ulang tahun pernikahan dari Fritz untuknya dua tahun lalu. Terkadang mereka menghabiskan akhir pekan di apartment ini.
Bianca duduk memandangi foto mereka bertiga, air matanya tidak dapat berhenti sejak tadi. Rasa perih di hatinya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak menyangka Fritz ternyata sama saja seperti papanya dulu.
Ia meninggalkan Nicholas karena takut ia sakit suatu hari nanti tapi Fritz, laki-laki yang ia percayai akan kesetiannya bahkan ia berani berkomitmen bersama Fritz sampai menikah ternyata malah menjadi laki-laki yang menyakiti hatinya.
"Apakah Rena sekarang sedang mengandung anak Fritz? Jika iya, apa aku harus mundur? tapi bagaimana dengan Karen?" Bianca terus memikirkan hal-hal buruk di kepalanya.
__ADS_1
Ponselnya kembali berbunyi, kali ini pesan masuk dari Lita yang mencari keberadaan Bianca. Bianca yakin Fritz pasti sudah menghubungi Lita untuk menanyakan keberadaannya tapi Bianca tetap ingin sendiri, ia belum siap untuk berbicara dengan siapapun.