Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)

Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)
H-1


__ADS_3

Akhirnya besok tiba hari yang ditunggu-tunggu, hari pernikahan Simon dan Lita. Hari ini keluarga dan beberapa kerabat dekat termasuk Nicholas dan Bianca sudah menginap di Hotel dekat acara besok.


Fritz sudah meminta ijin pada Bianca untuk datang besok sore saat resepsi pernikahan karena hari ini ia harus menemui client penting. Ia juga sudah menyuruh supir kantor untuk mengantarkan Bianca ke hotel tempat mereka menginap. Lita dan Simon juga pergi bersama Bianca karena mobil Simon dipinjamkan ke keluarga besarnya menuju hotel.


"Wahhhh gak terasa besok akhirnya kamu sah jadi istri orang ta" ucap Bianca.


"Gak sabar aku sih cepet-cepet halal hahaha" canda Lita.


"Udah kebelet dia bi hahaha" goda Simon.


"Mon, kamu coba telpon Nicholas gih. Tanya dia dimana, udah siang nih" ucap Lita.


Nicholas memang mengabari ia akan menyusul karena pagi hari ia harus menemui dokter kandungan untuk membicarakan hasil testnya. Sebelumnya hasil test Raina sudah keluar dan hasilnya bagus. Sel telurnya banyak dan juga sehat, jadi hari ini gantian Nicholas yang akan mengetahui hasil testnya.


Simon lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi Nicholas.


"Bro, dimana?" tanya Simon.


"Gua udah di jalan kesana. Mungkin empat puluh menit lagi sampe sana" jawab Nicholas.


"Oke, ati-ati Nic, see you" ucap Simon.


****

__ADS_1


Benar saja empat puluh menit kemudian Nicholas sudah tiba di hotel dan langsung check in kamar. Ia mendapat room nomor 521 tepat di sebelah kamar Bianca.


Nicholas lalu menyusul Lita, Simon dan Bianca yang berada di cafe hotel. Malam ini mereka mengadakan makan malam bersama yang dilanjutkan dengan pesta lajang, sehingga sekarang mereka sedang mempersiapkan dekorasi sederhana untuk makan malam dan juga persiapan pesta.


Dari kejauhan Nicholas melihat Bianca yang sedang berdiri sambil bercengkrama dengan Simon dan Lita. Ia tampak cantik dengan balutan busana sepanjang lutut berwarna putih dengan corak bunga-bunga berwarna pastel, rambutnya diikat ke atas memamerkan lehernya yang indah.


Saat ini Nicholas sedang benar-benar sedih, ia sedang bertengkar hebat dengan Raina hingga Raina memutuskan untuk tidak ikut pergi hari ini dan bahkan besok juga ia tidak mungkin hadir di pernikahan Simon dan Lita. Tetapi bukan itu yang membuat Nicholas sedih.


***Mundur sedikit saat Nicholas menemui dokter bersama dengan Raina pagi tadi***


"Selamat siang Pak Nicholas dan Ibu Raina, saya sudah melihat dan mempelajari hasil test Pak Nicholas. Sebelumnya saya mohon maaf karena hasilnya ternyata kurang baik" ucap Dokter Tom.


"Ku.. kurang baik gimana dok?" tanya Raina, raut wajahnya berubah seketika.


"Jadi setelah dicek ****** Pak Nicholas sangat baik sebetulnya tetapi istilahnya lambat berenangnya bu jadi sulit untuk melakukan pembuahan pada sel telur, tetapi kita akan coba treatment supaya bisa lebih baik lagi bu" jelas Dokter Tom.


"Bisa iya dan bisa tidak bu. Saya belum berani untuk claim seratus persen bisa sembuh tetapi bisa diperbaiki pak, bu. Coba dengan menghindari alkohol dan rokok jika bapak merokok. Lalu makan bergizi, hindari stress, olahraga teratur dan saya akan kasih suplement-suplement untuk meningkatkan mobilitas ******. Hasil akhirnya nanti tetap "Yang Diatas" yang berkehendak" ucap Dokter Tom.


Nicholas tidak mampu berkata-kata, memang ia masih setengah hati ingin memiliki anak tetapi bagaimana jika selamanya ia tidak mampu mempunyai keturunan? Hatinya sangat sedih membayangkan kemungkinan itu.


Ia meninggalkan ruangan dokter dengan tatapan kosong dan hati yang hampa rasanya. Sepanjang perjalanan pulang Raina menyalahkan Nicholas atas apa yang terjadi.


"Ini semua salah kamu Nic!!! Pasti kamu kebanyakan nongkrong sama temen-temen kamu selama ini, minum alkohol terus atau terpapar rokok atau apalah aku gak tau! Gimana mau punya anak Nic kalo gini?!!! kalo treatmentnya gagal gimana?!!" pekik Raina kesal. Sebenarnya ia merasa sangat sedih tetapi dalam benaknya ia merasa ini adalah kesalahan Nicholas bukan dirinya yang bermasalah.

__ADS_1


Mendengar cacian dan amarah Raina, Nicholas pun tidak tahan lagi untuk tidak meledak.


"Ya kamu mau gimana Rai?!! Kamu pikir aku mau ya kayak gini? Kamu juga bisanya nyalahin aja bukan pikir ke depannya mau gimana!!! Kamu sedih, aku juga sedih!!" ujar Nicholas dengan marah.


"Pokoknya ini semua akibat ulah kamu sendiri!!! Bingung aku tuh ya, kamu kok jadi bikin hidup aku sengsara sih Nic! Mau taro dimana muka aku hah, pewaris tunggal Sayap Emas Company gak punya keturunan!!! Gimana aku menghadapi papa!!" ucap Raina.


"Oke, kalo kamu anggep aku bikin kamu sengsara lebih baik jangan ada aku di hidup kamu biar puas kamu!" ujar Nicholas, ia semakin kecewa mendengar ucapan Raina yang menyakiti dan menghina harga dirinya sebagai laki-laki.


"Iya kamu benar!" jawab Raina lalu membuka pintu mobil dan langsung memberhentikan taksi di jalanan lalu pergi begitu saja.


Nicholas tidak menahan Raina untuk kembali ke dalam mobil. Ia sendiri juga sangat kalut dan masih berusaha mencerna atas apa yang terjadi padanya dan tubuhnya. Selama ini ia sangat menjaga pola makannya, tidak merokok, bahkan minuman beralkohol hanya sesekali saat ada jamuan, ia juga sering berolahraga.


Sekalipun ia ragu memiliki keturunan tetapi sekali atau dua kali selama dia dan Raina merencanakan program kehamilan, Nicholas mulai membayangkan dirinya menggendong bayi, darah dagingnya sendiri. Sekarang angan-angan itu rasanya dirampas dalam sekejap.


"Atau memang nasib dan karma untukku karena menikah tanpa cinta?!" kata Nicholas dalam hatinya.


**** Kembali ke masa sekarang ****


Nicholas memandangi Bianca penuh cinta, seluruh indera di tubuhnya seakan haus akan Bianca. Dalam situasi seperti ini, ia butuh tempat bersandar, tempat berkeluh kesah dan tempat dimana ia dapat merasakan ketenangan dan kedamaian.


Bianca yang sedang bercengkrama menangkap bayangan Nicholas dari kejauhan. Nicholas melambaikan tangan ke arah Bianca dan memberi tanda pada Bianca untuk menghampirinya. Bianca lantas meminta ijin Lita dan Simon untuk beranjak sejenak.


Semakin dekat Bianca melangkahkan kakinya ke arah Nicholas, semakin ia dapat melihat guratan-guratan kesedihan di wajah Nicholas. Mata Nicholas pun memerah, ia menahan tetesan air yang hendak keluar dari matanya.

__ADS_1


Bianca lalu menarik tangan Nicholas menuju tempat dimana tidak ada orang yang dapat melihat mereka. Begitu Bianca melepas lengan Nicholas dari genggamannya, Nicholas langsung memeluk erat tubuh Bianca dan menangis.


Bianca merasa bingung atas apa yang terjadi pada Nicholas, yang ia tau Nicholas butuh tempat untuknya saat ini mencurahkan kesedihannya. Bianca dengan ragu-ragu lalu memeluk punggung Nicholas dengan tangan kanannya dan jari-jari tangan kirinya mengelus kepala Nicholas, ia berusaha membuat Nicholas tenang.


__ADS_2