
Nicholas hanya berdiri di balik rak, berharap Fritz tidak melihatnya. Melihat Fritz sudah keluar dari apotik, barulah Nicholas membeli obat migrain untuk Raina dan cepat-cepat membayarnya. Ia tidak ingin Raina mengomel karena menunggu terlalu lama.
Nicholas masuk ke dalam mobil dengan lesu, ia terus memikirkan Bianca yang dipikirnya sedang menantikan kehamilan keduanya. Ia kembali membayangkan malam itu, saat ia menciumi bibir dan tubuh Bianca. Nicholas masih ingat betul ******* demi ******* yang keluar dari mulut Bianca.
"Beib, kita kan belok ke kiri harusnya kok kamu malah lurus terus?" ujar Raina tiba-tiba memecah lamunan Nicholas.
"Oh iya...nanti aku puter balik aja di depan" jawab Nicholas.
"Mikirin apa sih kamu beib daritadi aku perhatiin bengong-bengong, diem-diem gak jelas" ucap Raina.
"Gak kok, gak apa-apa" ujar Nicholas lalu fokus menyetir.
Sesampainya di rumah, Raina langsung sibuk membongkar lemari pakaiannya. Ia ingin memilah-milih pakaian yang dapat ia kenakan untuk ke kantor minggu depan. Sebagai anak pemilik perusahaan tentu saja Raina ingin tampil memukau di depan para karyawan.
Nicholas lalu bersantai di halaman belakang rumahnya sambil memberi makan ikan koi dan bermain ponsel. Ia melihat Bianca memposting story di instagramnya, Bianca sedang pergi ke mall bersama Karen dengan tulisan "sesekali pergi berdua Karen" dan itu diposting sekitar satu jam yang lalu. Nicholas memutar otaknya jika satu jam lalu Bianca sedang pergi berdua Karen lantas siapa yang menghubungi Fritz? Mengapa Fritz menyuruhnya menunggu di kamar dan membeli banyak alat test kehamilan?
Ia tiba-tiba terpikir dengan sepupu Simon yaitu Rena, Nicholas ingat sewaktu pesta ia mendengar mereka berdua merahasiakan sesuatu yang tidak boleh Bianca ketahui.
"Apakah ini semua ada hubungannya dengan alat test kehamilan yang tadi dibeli Fritz??!" batin Nicholas, ia semakin curiga kalau Fritz berselingkuh dari Bianca.
***
__ADS_1
Fritz sudah tiba di kamar hotel dan langsung membuka plastik yang berisikan alat test kehamilan.
"Kenapa banyak banget gini Fritz?" tanya Rena, ia merasa bingung kenapa banyak sekali yang dibeli Fritz.
"Iya aku bingung harus beli yang mana jadi aku beli aja satu buah setiap merk. Coba kamu liat-liat dan pilih sendiri mau pakai yang mana" ujar Nicholas.
Rena lalu melihat alat test kehamilan dengan seksama, ini kali pertamanya untuk Rena memakai alat test kehamilan sehingga ia juga bingung harus memilih yang mana. Ia memilih satu yang merknya paling banyak dipakai orang-orang dan tidak asing bagi Rena.
Ia berjalan menuju kamar mandi sambil membawa sekotak alat test kehamilan. Di dalam kamar mandi ia mengikuti petunjuk pemakaian yang sudah ia baca sebelumnya, pertama ia buang kecil di dalam wadah lalu ujung alat dicelupkan dan didiamkan beberapa menit.
Selagi menunggu hasil, Rena memutuskan untuk menunggu di luar. Ia tidak sanggup melihat hasilnya dan menyuruh Fritz untuk melihat test kehamilan yang ia letakan di dalam kamar mandi.
Fritz menghela napas dalam, ia sendiri juga sama tegang dan sama takutnya seperti Rena. Tetapi Fritz juga tidak sabar untuk mengetahui hasilnya.
"Satu garis.. Negatif Ren" ucap Fritz lega.
"Jadi aku gak hamil?!!....Syukurlah... aku udah bener-bener gak bisa berpikir lagi kalau sampai hasilnya positif.. lega aku rasanya" ucap Rena, seakan beban berat diangkat begitu saja dari bahunya.
"Iya syukurlah Ren, aku bisa gila kalau sampai benar kamu hamil. Ren, aku benar-benar minta maaf atas kejadian malam itu. Aku mabuk dan gak sadar akan apa yang kita lakuin. Aku sangat mencintai istri dan anakku, aku gak mau dan gak akan pernah mau kehilangan mereka..." ucap Fritz serius sambil menatap mata Rena dalam-dalam.
Rena dapat melihat ketulusan dalam diri Fritz. Sejujurnya dalam diri Rena ada sedikit perasaan iri akan keluarga yang dimiliki Fritz. Rena selalu mendambakan sosok suami seperti Fritz yang bisa mencintai keluarganya sepenuh hatinya.
__ADS_1
"Fritz, apa yang terjadi antara kita malam itu benar-benar bukan cuma salah kamu, tapi salah kita. Aku juga mabuk malam itu Fritz dan gak ada sedikitpun niatan dalam diri aku untuk misahin kamu dari keluarga kamu... Hari ini aku menghubungi kamu juga karena aku benar-benar panik, siklus haidku selalu tepat Fritz baru kali ini aku terlambat dan aku tahu malam itu kamu tidak memakai pelindung Fritz" ujar Rena, berusaha menjelaskan apa yang terjadi dan posisi mereka saat ini.
Fritz menyeka wajahnya dengan kasar, ia benar-benar menyesali kecerobohannya malam itu.
"Aku... aku... aku benar-benar ceroboh Ren, aku sudah mengkhianati istriku..." ucap Fritz bergetar, pertahanannya runtuh kali ini, air mata menetes dari matanya tanpa bisa ia kendalikan.
Rena tidak tahu harus berbuat apa, melihat Fritz yang begitu tampan dan gagah, bersikap begitu lemah dan hancur di hadapannya kini. Memeluk Fritz juga rasanya bukan hal yang benar, mengingat apa yang pernah terjadi antara mereka.
"Kamu tenang aja Fritz, aku pastikan kamu dan keluarga kamu akan baik-baik aja...Aku gak akan mengganggu kehidupan kalian" ucap Rena bersungguh-sungguh.
Puas mencurahkan kesedihannya Fritz merasa jauh lebih lega. Ia juga lebih tenang karena hasil test kehamilan Rena ternyata negatif dan juga ucapan Rena barusan seakan meyakinkan Fritz kalau ia tidak akan pernah mengganggu dan menghancurkan rumah tangganya.
"Makasih Ren, kamu begitu pengertian sama aku dan keluargaku" ucap Fritz.
"Fritz karena urusan kita sudah beres sekarang, aku harap ini tidak mempengaruhi kerjasama kita karena direksi sudah memutuskan untuk bekerja sama dengan kamu. Sekalipun mereka batal bertemu dengan kamu tetapi mereka mencari tahu banyak tentangmu dan kamu memiliki reputasi yang sangat baik" ujar Rena yang saat ini sudah kembali seperti Rena yang biasanya, sangat berwibawa.
"Ya tentu saja Ren, terima kasih. Aku akan siapkan meeting dengan kalian secepatnya, nanti asisten aku akan menghubungi kalian ya Ren" ucap Fritz sumringah.
Selama ini ia berpikir ia sudah menggagalkan kontrak mereka, padahal kontrak ini akan sangat berpengaruh pada karirnya. Ia sudah membayangkan karirnya akan jauh melesat dan pendapatannya akan berkali lipat dari sekarang. Fritz pulang dengan semangat, ia tidak sabar untuk memberitahukan hal ini kepada Bianca.
***
__ADS_1
Sementara itu keesokan paginya, di kamar hotel Rena masih tertidur di ranjang santai sambil mengganti-ganti saluran televisi di hadapannya. Ia melihat tumpukan alat test kehamilan berada di atas meja yang letaknya tepat di bawah televisi. Ia lalu berdiri dan mengambilnya satu per satu, mengamati dan membolak balik kemasannya. Muncul ide untuk iseng-iseng mencoba alat itu lagi daripada dibuang, ia lalu mengambil satu buah dan memilihnya secara acak sambil memejamkan mata.
Ia pergi ke kamar mandi dan mengulangi langkah-langkahnya sesuai seperti kemarin. Sambil menunggu ia menuang air dan meminum segelas air hangat. Ketika Rena kembali ke kamar mandi dan melihat hasil testnya, tubuhnya terasa lemas seakan sendi-sendi tubuhnya tidak berfungsi lagi...