Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)

Right Person, Wrong Time (Perselingkuhan Dengan Cinta Pertama)
Lembaran Baru


__ADS_3

Fritz pagi-pagi sekali sudah berangkat, bukan menuju kantor tetapi ia pergi ke sebuah coffee shop. Ia hanya ingin sendiri hari ini. Fritz memikirkan bagaimana pernikahannya yang sempurna bisa sehancur ini. Ia benar-benar memikirkan semuanya...


Ia berselingkuh dengan Rena adalah suatu kecelakaan dan Bianca melakukannya untuk membalas apa yang ia perbuat, "tetapi bagaimana jika Bianca melakukan itu karena ia memang menginginkan itu terjadi dengan Nicholas?!" batin Fritz.


Kemarin dengan mudah ia berkata tidak apa-apa terhadap Bianca tetapi saat ini jika ia pikir kembali, ia juga merasa tidak semestinya Bianca tidur dengan laki-laki lain terlebih itu adalah cinta pertamanya. Fritz memikirkan jika mungkin saja Bianca masih menyimpan rasa pada Nicholas dan juga sebaliknya.


Di sisi lain, ia tidak ingin bercerai karena memikirkan Karen putri semata wayangnya. Namun jika diteruskan akankah pernikahannya bisa kembali seperti semula? Saat ini ia juga membayangkan bagaimana Nicholas menyentuh dan berhubungan badan dengan istrinya.


Ia mengepalkan tangannya dan wajahnya merah menahan emosi dalam dirinya.


"Fritz...." seseorang menyapanya.


"Albert???" sapa Fritz mendapati sahabatnya saat masih kecil sudah berdiri di hadapannya. Membuyarkan lamunan dan juga emosinya.


"Apa kabar bro? Lama gak ketemu.." ucap Albert.


"Bukannya lu tinggal di Amerika sekarang?" tanya Fritz.


"Iya tapi lagi ada kerjaan di Indonesia, gua udah di Jakarta sekitar dua minggu" ucap Albert.


Albert adalah sahabatnya sejak kecil, ia tinggal bersebelahan saat kecil. Bahkan keluarga Fritz dan Albert juga sangat dekat. Saat Fritz dan Albert duduk di bangku SMA, Albert sekeluarga pindah ke Amerika karena papanya dapat tugas kantor disana. Sejak itu hubungan keduanya merenggang dan lambar laun mereka tidak lagi saling berhubungan.


Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbincang-bincang, membahas kebodohan masa kecil sampai cinta monyet antara keduanya.


Sebelum berpisah Albert mengundang Fritz dan keluarga untuk makan bersama di rumahnya besok malam lalu mereka bertukar nomor ponsel supaya bisa saling menghubungi.


***


"Bi, lama kita gak ketemu. Gimana kabar kamu?" tanya Lita yang sengaja mampir ke rumah Bianca pagi-pagi.

__ADS_1


"Aku.. entahlah ta sepertinya semua gak bisa sama lagi seperti dulu..." lirih Bianca.


"Kamu belum bisa maafin Fritz?" tanya Lita.


"Bukan cuma itu, aku gak bisa maafin diri aku sendiri..." ucap Bianca dengan mata berkaca-kaca.


"Ada apa sih bi, kamu cerita sama aku. Sebenarnya ada apa yang aku lewatkan selama ini?" desak Lita.


Bianca menghela napas panjang dan menghapus butiran-butiran air yang membasahi mata bulatnya.


"Ta, aku hampir saja berhubungan intim dengan Nicholas di malam pernikahan kamu dan Simon..." ucap Bianca membuat mata Lita membelalak kaget, belum sempat ia bereaksi ucapan Bianca berikutnya membuat Lita benar-benar mematung tidak percaya.


"dan akhirnya kami benar-benar melakukannya di Barcelona.." lirih Bianca.


Butuh beberapa saat hingga Lita mampu berbicara.


Bianca yang tidak sanggup lagi menyimpan semua beban batinnya akhirnya mencurahkan segalanya. Setiap kejadian yang ia dan Nicholas alami sejak mereka bertemu lagi sampai malam di Barcelona.


"Bi, kamu masih mencintai Nic?" tanya Lita, walaupun ia sudah tahu akan jawabannya.


Bianca mengangguk, ia tidak ingin berbohong dengan sahabatnya lagi kali ini.


"Bersama Nicholas rasanya sangat tepat ta, tapi aku juga mencintai, sangat mencintai Fritz. Gimana mungkin aku mencintai keduanya?! Aku bahkan jauh lebih buruk daripada Fritz yang berselingkuh karena ketidaksengajaan ta..." ucap Bianca merasa dirinya begitu tidak layak.


"Bi, Raina keguguran semalam.." ucap Lita.


Air mata Bianca tumpah, ia bahkan menyalahkan dirinya atas keguguran yang dialami Raina. Ia berpikir jika saja Nicholas tidak bersamanya, pasti semua tidak akan terjadi. Nicholas pasti menemani Raina dan Raina tidak mungkin terjatuh.


"Ta, maaf aku harus segera bertemu dengan Fritz. Aku harus bicara sama Fritz dan minta maaf untuk semuanya.." ucap Bianca lalu bangkit dari duduk.

__ADS_1


"Aku anter kamu Bi, kondisi kamu kayak gini bahaya kamu nyetir sendirian" ucap Lita.


Setibanya Bianca di kantor, Lita memutuskan untuk menunggu di mobil. Namun Bianca tidak mendapati Fritz ada di kantor dan menurut assistennya Fritz belum datang sejak pagi.


"Halo sayang, kamu dimana? aku di kantor kamu" ucap Bianca panik karena pagi ini Fritz pergi tanpa pamit padanya.


"Di luar, kenapa?" tanya Fritz ketus.


"Aku perlu bicara.." suara Bianca bergetar.


"Oke aku ke kantor sekarang, kamu tunggu sepuluh menit lagi aku sampai" ucap Fritz yang kebetulan sudah dalam perjalanan menuju kantor.


Melihat Fritz masuk ke dalam ruangan, Bianca langsung menghampiri Fritz dan meminta maaf atas semua kesalahannya.


"Sayang, maafin aku... Ini semua kesalahanku, kebodohanku.. Gak seharusnya aku bohong sama kamu sejak awal tentang Nicholas, ga seharusnya aku pergi bersama laki-laki lain dan gak seharusnya aku berhubungan dengan siapapun kecuali kamu.... please, maafin aku...." ucap Bianca penuh air mata.


Ia bahkan ingin bersimpuh di hadapan Fritz tetapi Fritz menariknya berdiri, ia melihat Bianca sangat menyesali perbuatannya. Sama seperti ia menyesali perbuatannya dengan Rena dulu.


"Bi, kamu liat aku Bi.. Kita berdua tahu percis jika rumah tangga kita benar-benar hancur saat ini. Kamu butuh waktu menata hati kamu, begitu juga aku. Kita gak tahu kedepannya akan bagaimana. Satu kesalahan yang kita lakukan, akibatnya sangat besar untuk kehidupan kita. Kita saling bantu ya.. Aku juga belum mau kehilangan kamu. Seburuk apapun yang kamu dan aku telah lakukan, biar waktu yang menyembuhkan luka di hati kita.. please sayang, jangan lagi ada rahasia diantara kita..." lirih Fritz.


Segala keraguannya seakan hilang melihat Bianca seperti ini. Seumur hidup mengenal Bianca, ia selalu bersikap tenang tetapi kali ini Fritz melihat betapa hancurnya Bianca. Tentu saja cintanya terhadap Bianca lebih besar dari apapun.


Bianca memeluk erat Fritz, ia berjanji pada dirinya untuk tidak pernah lagi berhubungan dengan Nicholas. Ia hanya ingin memperbaiki keluarganya yang telah ia rusak.


"Sayang, kita liburan berdua ya.. kita lupain semua yang udah terjadi, kita cari suasana baru" ucap Fritz lalu menciumi puncak kepala Bianca.


"Iya sayang.. aku mau.. sayang, jangan pernah tinggalin aku ya.. Membayangkan aku kehilangan kamu, rasanya aku gak sanggup" lirih Bianca.


"hey, aku gak kemana-mana sayang" ucap Fritz. Bahkan baru kali ini Fritz mendengar Bianca benar-benar mencurahkan ketakutannya hidup tanpa dirinya. Fritz juga berjanji dalam hatinya untuk membuka lembaran baru bersama Bianca..

__ADS_1


__ADS_2