
Nicholas merengkuh Bianca dalam pelukannya, ia tidak ingin kehilangan Bianca lagi dalam hidupnya. Sekalipun hanya sebagai teman tetapi Nicholas tidak keberatan asal Bianca tidak pergi dari hidupnya.
Bunyi ponsel Bianca membuat Nicholas terpaksa melepas pelukannya.
"Rena bilang kita bisa ketemu besok siang Nic karena hari ini ia sudah punya acara lain" ujar Bianca.
Bianca mengiyakan pesen dari Rena dan meminta Rena mengirimkan alamat dan nama tempat dimana mereka akan bertemu besok. Ia lalu pamit ke Nicholas dan kembali ke kamarnya.
Nicholas merasakan sesak dalam dadanya. Ia betul-betul tersiksa oleh perasaannya saat ini. Bagaimana mungkin ia mencintai Bianca sedangkan Raina sedang mengandung bayinya. Ia juga sudah bertekad untuk belajar mencintai Raina sepenuh hatinya.
"Beib, kamu dimana?" tanya Nicholas melalui sambungan telepon.
"Aku mau ke kantor sebentar beib, ada meeting yang harus aku hadiri tapi gak lama kok. Kamu gimana disana? mau kemana hari ini?" tanya Raina kembali, ia terus berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Nicholas di Barcelona bersama Bianca.
"Oh paling aku keliling aja beib disini, tekanan darah kamu gimana masih rutin cek kan?" tanya Nicholas.
"Masih agak tinggi beib tapi aku rutin periksa juga" jawab Raina.
"Ya udah kamu minum vitamin, minum obat ya. Jangan banyak keluar rumah, istirahat yang cukup beib. Bye beib.." ucap Nicholas lalu mematikan sambungan telepon.
***
Rena tengah bersiap untuk makan malam terakhirnya bersama dengan Alan. Enam hari ini mereka sudah mengunjungi banyak tempat-tempat indah, mereka juga sudah saling mengenal lebih jauh lagi dan masa lalu masing-masing.
__ADS_1
Hari ini Rena harus memberikan jawaban pada Alan tentang lamaran yang Alan ajukan untuknya. Tentu saja Rena ingin menerima lamaran Alan. Ia bahkan sudah merasakan kalau ia jatuh cinta pada Alan.
Rena melihat pesan masuk di ponselnya dan isinya ajakan bertemu dari Bianca. Rena mengusulkan untuk bertemu besok siang karena malam ini ia akan menghabiskan waktu bersama Alan. Ia hanya ingin masalahnya dengan Fritz ataupun Bianca segera berakhir dan meresmikan hubungannya dengan Alan.
"Biarlah Alan menjadi ayah dari bayiku ini" pikir Rena. Ia juga yakin Alan akan menjadi ayah yang baik untuk bayinya. Bahkan kemarin malam saat Alan mengajak berbicara bayinya dalam perut, Rena dapat merasakan tendangan kecil dalam perutnya. Ia dan Alan sangat bahagia dan Alan terus mengelus perut Rena, seakan bayi itu adalah darah dagingnya.
***
Alan sudah menyiapkan cincin yang sangat istimewa untuk Rena, ia bahkan meminta seorang perancang perhiasan ternama untuk membuatkannya. Sebuah cincin emas putih yang bertaburkan berlian, dengan ukiran huruf R di balik cincinnya. Harganya tentu saja sangat mahal mencapai milyaran rupiah tetapi Alan merasa itu sebanding untuk Rena.
Rena sudah bersiap ketika Alan tiba untuk menjemputnya. Alan tampak sangat mengagumi kecantikan Rena yang terlihat sangat berkelas dan menyimpan guratan angkuh di wajahnya, walaupun ternyata ia tidak seperti itu.
"Malam ini, aku akan ajak kamu ke tempat yang special" ucap Alan.
Alan membawa Rena ke sebuah mansion yang sangat cantik dan megah. Rena sempat berpikir jangan-jangan Alan membawanya ke kediaman orang tua Alan tetapi ia tidak mengeluarkan pertanyaan apapun. Ia yakin Alan pasti mempersiapkan hal-hal spesial untuknya, sama seperti malam-malam sebelumnya.
"Suka Al, ini mewah sekali dan terawat dengan baik" ucap Rena.
Alan lalu membuka pintu untuk Rena dan para pelayan sudah berbaris rapih menyambut kedatangan mereka.
Di dalam mansion ternyata tidak kalah bagusnya dengan apa yang Rena lihat dari luar. Bangunan megah dua lantai dengan bangunan utama di bagian depan. Terdapat pintu kaca yang menghubungkannya dengan bagian belakang rumah. Jika mansion milik Alan bernuansa klasik, berbeda dengan mansion ini yang terkesan sangat modern. Terdapat kolam renang yang sangat besar dengan jacuzzi di sampingnya. Entah berapa luasan mansion ini tapi mungkin cukup untuk menampung ratusan orang di dalamnya bahkan lebih.
Alan mengajak Rena berkeliling di mansion itu, tentunya tidak setiap sudut karena terlalu besar dan Alan tidak ingin Rena kelelahan. Ia hanya menunjukkan beberapa bagian utama dan penting saja.
__ADS_1
Terakhir mereka sampai di sebuah pendopo yang letaknya berada di samping kolam. Di dalamnya terdapat sebuah dapur mini dan juga meja makan yang tidak terlalu besar. Alan meminta Rena untuk duduk di kursi sementara Alan berdiri di balik counter dapur.
"Malam ini akan jadi malam yang spesial Ren, aku akan memasak untuk kita" ucap Alan tersenyum lalu memakai apron masaknya.
Alan tampak begitu hebat dalam memasak membuat Rena kaget. Alan sudah terbiasa masak sendiri terutama makanan western dan juga masakan khas Indonesia. Belakangan ini ia jarang ke Indonesia karena kesibukannya, maka ia mulai belajar masakan-masakan Indonesia. Resepnya ia dapatkan dari sang nenek.
"Ini dia, untuk hidangan pembuka aku siapkan pempek Palembang. Khusus malam ini aku masak makanan Indonesia, aku jamin kamu pasti kangen banget kan?" tanya Alan.
"Bangetttt... pempek kesukaan bangettt!! Orang-orang di Palembang biasa makan pempek jadi sarapan, kamu tahu gak?" tanya Rena. Ia begitu senang menemukan makanan Indonesia. Sejak ia tiba di Barcelona, ia belum pernah makan masakan Indonesia.
"Oh iya?! Ayo dimakan pempeknya, ini aku bikin loh dari pagi. Jadi kamu dateng aku tinggal goreng aja. Kuahnya juga aku bikin sendiri" ucap Alan.
Rena mencicipi pempek buatan Alan dan Rena sangat menyukainya, walaupun tidak seenak di Palembang tetapi ini juga tetap enak dan mengobati kerinduannya pada kota kelahirannya.
Alan lalu menyiapkan menu utama mereka yaitu nasi padang. Rena yang melihat sepiring nasi putih, dengan tumisan sayur kol dan kacang panjang, rendang dan juga telur dadar khas pasang langsung menyantap makanan di hadapannya. Penutupnya Alan menyiapkan es cendol untuk Rena, membuat Rena tertawa.
"Kok ketawa sih Ren?" tanya Alan.
"Aku pikir kamu bakalan ajak aku makan di resto mewah kayak kemarin-kemarin tapi ternyata kamu ajak aku ke sini buat cicipin masakan kamu. Aku juga belum pernah ngedate makan padang Al hahahaha tapi ini bener-bener bikin aku bahagia. Apalagi ngeliat usaha kamu yang totalitas bangettt...." ucap Rena dengan mata berair.
"No... don't cry Rena sayang... I do this because i love you so much.. Aku cinta kamu Rena" ucap Alan lalu mengeluarkan cincin di sakunya dan berlutut melamar Rena.
"Rena, tujuh hari kita lewatin bersama ini membuat aku semakin yakin untuk menjadikan kamu satu-satunya wanita dalam hidup. Aku ingin bersama kamu dan juga bayi kita sekarang dan selamanya.. Rena, will you marry me?" tanya Alan menatap kedua mata Rena.
__ADS_1
Air mata Rena jatuh begitu saja melihat ketulusan Alan, " Yes, i do Alan...I love you very much" jawab Rena lalu menerima lamaran Alan.
Alan begitu bahagia mendengar jawaban Rena, ia segera memakaikan cincin di jari manis Rena lalu memeluk dan menciumnya mesra.