Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
11.Tentang mengasihani


__ADS_3

Tubuh Ali menggigil hebat, dia sudah tidak berdaya. Sudah tiga jam yang lalu Helmi mengurungnya di dalam kamar mandi, tidak hanya itu sebelum dikurung Ali sempat di guyur oleh air panas seolah tidak puas Helmi merendam paksa tubuh Ali di bathtub berisi air panas.


"Mmmm,,,, masss!" teriak Ali saat suaminya menenggelamkannya ke dalam bathtub.


"kau pikir siapa berani mengasihani ku? hah?! apa kamu pikir aku terlihat pantas di kasihani?" Helmi menggila ia tidak suka saat Ali mengatakan ia hanya ingin menemaninya tidur, Ali juga mengatakan "Jangan dipendam sendiri, aku tau kamu sedang tidak baik baik saja, jangan risau kamu tidak sendirian" Helmi tidak suka kata kata Ali yang terdengar mengasihani.


"Mas maafkan aku" lirih Ali dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Helmi yang tidak ingin terlalu melampiaskan amarahnya pada Ali segera berlalu keluar dan mengunci Ali di kamar mandi


Prang, prang,


Helmi membanting semua barang yang ada di dalam kamar, dia sungguh merasa dirinya hina saat ada seseorang yang mengasihaninya.


"Masss,,,," lirih Ali dengan tubuh menggigil kedinginan,


"Maafin aku,,, tolong buka pintunya" pinta Ali kembali mencoba menarik gagang pintu kamar mandi, berharap bisa terbuka.


"Masss,,,, maafin aku" Ali terus meminta tanpa merasa letih, dia terus terusan menangis meminta agar Helmi membukakan pintu untuknya.


Sedangkan Helmi dia hanya diam sambil menghirup rokoknya, kamarnya terlihat seperti kapal pecah, pecahan kaca dimana mana, dan jangan lupakan buku buku tangan Helmi yang di penuhi darah.


"Masss buka pintunya, aku mohon" pinta Ali di dalam sana dengan suara lemah. Helmi hanya diam tanpa berniat membuka pintunya, ia kembali menghirup aroma rokok dan mengempulkannya dengan santai.


Sedikit bingung yang di rasakan Helmi saat dirinya sama sekali tidak mendengar rintihan Ali, namun ia mencoba untuk tidak peduli. Sialnya sisi malaikat Helmi mendesaknya untuk melihat keadaan Ali yang tidak terdengar setelah tadi ia mendengar suara kran yang dihidupkan.

__ADS_1


"Apa dia bunuh diri?" tanya Helmi pada dirinya sendiri, sejurus kemudian dia membuka pintu, Helmi tidak ingin apartemennya di pakai menjadi tempat bunuh diri.


***Assalamu'alaikum warahmatullah


Assalamu'alaikum warahmatullah***.


Baru saja membuka pintu hati Helmi terasa berdesir hangat saat melihat Ali sedang melakukan solat di tempat dan dengan pakaian yang tidak layak untuk beribadah.


"Akhirnya kamu bukain pintu juga mas,," ucap Ali dengan tersenyum lebar meski tidak bisa dipungkiri mata Ali yang kelelahan dan bibir serta tubuh Ali yang kedinginan.


"Aku ke kamar dulu ya mas" pamit Ali lalu berjalan sedikit membungkuk di hadapan Helmi, Ali terperanjat kaget saat melihat kamar Helmi seperti kapal pecah, ia mencoba mengabaikan itu semua dan berlalu ke kamarnya.


Setelah mengganti pakaian dan mengeringkan rambutnya, Ali kembali berkutat di dapur untuk membuat jus dan roti. Pagi ini dia memilih membuat jus jeruk dan roti selai kacang karena hanya itu yang tersisa setelah menyelesaikan kegiatannya di dapur, ia kembali masuk ke kamar Helmi di lihat nya tidak ada Helmi di sana mungkin Helmi sedang mandi.


Ali memilih kemeja kerja Helmi berwarna Lilac yang di padukan denga jas berwarna biru navy, entah mengapa Ali menyukai warna dark untuk di pakai oleh Helmi, tapi dia juga ingin Helmi terlihat sedikit bersinar dengan kemeja Lilac nya.


Setelah semuanya selesai Ali masuk ke dalam kamarnya sendiri, tanpa mengisi perutnya lebih dahulu Ali memilih merebahkan diri di ranjang miliknya.


Helmi keluar dari dalam kamar mandi, awalnya dia cukup heran melihat kamarnya yang sudah kembali rapih sepeti semula, namun dia tersadar jika di rumah ini todak hanya ada dirinya melainkan ada Ali yang berstatus sebagai istrinya pastinya Ali membereskan seluruh kekacauan yang diciptakannya.


"Ckk! dasar wanita gila," umpatnya, lalu berjalan menghampiri lemari pakaiannya, tapi di pintu lemari di manekin tempatnya menyocokkan baju sudah terdapat satu set pakaian kerja di sana, Helmi pikir itu terlalu mencolok karena terdapat warna Lilac di sana.


"Dasar kampungan" ucapnya lirih lalu mengambil satu set pakaian hitam. Setelah selesai memakai baju lengkap Helmi berlalu meninggalkan kamar, namun saat di meja makan ia melihat sudah ada susu, jus, dan roti yang sudah tersaji di sana.

__ADS_1


"Ckk!" Helmi berdecak tanpa ingin memakan makanan yang telah di siapkan istrinya.


Sebenarnya Helmi tidak tega menyiksa Ali, namun menurutnya Ali sudah di luar batas, dia tidak suka orang lain mencampuri urusannya apalagi mengasihani dirinya. Namun dia juga nampak kesal karena selama menikah dengannya Ali hanya menyiapkan roti di pagi hari, dan sayur yang nampak tidak sehat di siang hari dan malam hari.


"Apa ada masalah Tuan?" tanya David saat melihat wajah Tuannya nampak muram.


"Tidak ada" jawabnya dingin, lalu masuk ke dalam lift yang sudah di tekan oleh David. "Pesankan aku sarapan" titah Helmi pada asistennya, David hanya melongo akhir akhir ini bos nya selalu minta dibelikan sarapan padahal biasanya ia selalu sarapan di rumah bersama Omanya.


"Mengapa akhir akhir ini anda selalu meminta di belikan sarapan? apakah Nona tidak menyiapkan sarapan untuk anda?" tanya David mencoba memberanikan diri menanyakan hal yang sangat mengganjal di pikirannya.


"Ckk! kau sangat menyebalkan, dia memang menyiapkan ku sarapan, tapi apakah harus roti selai kacang setiap hari? sayur sop setiap hari? tidak ada lagi makanan, aku tidak berselera" ucapnya menggeram


"Anda tinggal meminta di masakkan makanan yang anda inginkan tuan? apa susahnya, lagian gajih anda tidak mungkin tidak cukup membeli satu toserba, jadi anda berhak meminta" ujar David mencoba memberi saran pada atasannya.


"Shittt!" Helmi menggeram, ia baru sadar jika dirinya tidak pernah memberikan nafkah pada Ali, pantas saja Ali tidak pernah memasak makanan yang lain selain makanan yang ada di dalam lemari pendingin.


"Ada apa Tuan?" tanya David lagi


"Kirimkan semua jenis sayuran, lauk pauk dan seluruh bahan masak komplit ke apartemen baruku" titahnya pada David, sedangkan David hanya melongo mendapat perintah ambigu dari atasannya.


"Cepat lakukan" titah Helmi menatap tajam asistennya yang hanya terbengong-bengong.


"Tuan, bahan untuk apa? rendang, gulai, atau balado?" tanya David.

__ADS_1


"Ckkkk! aku menyuruhmu mengirim seluruh jenis bahan masakan kirimkan semuanya sekarang juga" titahnya tak terbantahkan.


__ADS_2