
Kring kring
Sambungan telepon di ruangan David berdering dengan keras, dengan santai David mengangkat gagang telepon nya dan menempelkannya di daun telinganya.
"Selamat siang pak David" sapa resepsionis di sebrang sana.
"Hmm" jawab David berdehem namun tangannya sibuk membuka berkas dan membaca isinya.
"Maaf Tuan, ada seorang anak kecil yang ingin menemui Tuan Helmi dia memaksa masuk padahal sudah saya katakan jika ingin bertemu dengan Tuan harus membuat janji terlebih dahulu" adu sang resepsionis dengan kesal
"Sebutkan ciri-ciri nya" jawab David yang bingung saat seorang anak kecil memaksa ingin bertemu dengan Tuannya, apakah dia salah satu fans Tuannya.
"Dia memakai rok panjang krem dan kemeja floral serta kerudung coksu, tingginya mungkin sekitar 145 cm umurnya terlihat sepeti bocah 16 tahun, sepertinya nona ini juga pernah datang kemari karena ia mengatakan jika dia pernah kemari tapi dulu tidak ada yang menghalanginya masuk" adu nya lagi.
David hanya manggut-manggut mendengar penuturan sang resepsionis lalu sedetik kemudian ia teringat dengan sosok Ali yang kecil dan terlihat lebih muda dari umurnya yang seharusnya.
"Tanyakan siapa namanya?" tanya David was was ia takut jika yang datang adalah Ali, yang paling ia takutkan adalah bagaimana jika Oma Diana tahu sang cucu mantu tercinta di hadang masuk ke kantor suaminya sendiri.
Cukup lama menunggu akhirnya resepsionis mengatakan namanya.
"Aliyanza Florida Tuan"
Jderr
Yang di takutkan kini terjadi, yang tak diinginkan kini malah jadi kenyataan.
sialll
David menutup telepon dan secepat kilat berlari menuju lift yang akan membawanya ke bawah.
"Adek, pak David tidak mengizinkan anda masuk menemui Tuan Helmi, ia hanya menutup teleponnya tanpa mengatakan sepatah katapun" ujar sang resepsionis menatap sebal pada Ali yang malah manggut-manggut dengan mata yang menelusuri seluruh lantai dengan tatapan kagum.
"Bagus yah dek interiornya?" tanya resepsionis dengan senyum yang dipaksakan.
"Bagus banget, cuman hawanya panas jadi gak enak, enakan di kampung AC nya alami enak di pandang lagi" ucap Ali tanpa mengalihkan tatapannya dari bangunan indah milik suaminya.
"Maaf dek, sebaiknya adek pulang, karena Tuan tidak mengizinkan anda masuk kesini, jika tidak ada kepentingan lain silahkan keluar" ucap resepsionis yang sudah kesal melihat Ali dengan 4 paper bag di tangannya yang kemungkinan berisi makanan.
"Dek, mending kalo mau jualan di jalan ajah tuh kayak pedagang yang lain jangan maksa ke Tuan Helmi, asal kamu tahu yah dek Tuan Helmi gak mungkin beli makanan yang tidak jelas higienisnya ia terbiasa memakan makanan restoran yang sudah jelas rasa dan kebersihan nya" sinis resepsionis
__ADS_1
"Jadi lebih baik kamu keluar sebelum saya panggil security" ujar resepsionis mendorong tubuh Ali agar mau keluar.
"Ih si mbak apa apaan sih, malu tau diliatin sama orang, dikiranya aku lagi ngemis kali yah?" tanya Ali yang sudah tersulut emosi karena sedari tadi wanita di hadapannya meremehkannya dan menatapnya denga jijik.
"Asal mbak tahu yah saya kesini mau ketemu sama su-
"Nona," ucapan Ali menggantung saat David datang tergopoh-gopoh dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Dasar asisten durhaka!" umpat Ali kesal melihat David yang baru muncul dihadapannya, setelah sekian lama ia di permalukan oleh wanita menor di sampingnya.
"Cepat bawa ini ke atas" titahnya memberikan 4 paper bag nya lalu berjalan ke arah lift mendahului David, yang sontak membuat semua orang menatap cengo ke arahnya termasuk resepsionis tadi yang mengejek nya
"Nona lewat lift ini saja" ujar David saat Ali menekan lift umum.
"Apa bedanya?" tanya Ali bingung padahal lift dihadapan nya sama saja.
"Itu untuk karyawan, dan ini khusus eksekutif Nona" ucap David menjelaskan lalu menekan tombol buka, setelah Ali masuk ia baru menyusul dan berdiri di belakang Nona-nya.
"Benar benar The power of money" Ali berdecak menatap bagian isi lift yang terkesan mewah.
Ting
"Apa Kamu sudah makan?" tanya Ali pada David yang langsung di balas gelengan kepala oleh David karena memang ia belum makan meskipun jam makan sudah terlewat.
"Ini untukmu, makanlah" titahnya memberikan 2 kotak makan dari salah satu paper bag yang di bawanya.
"Makan nasi dulu, abis tuh cobain teteobokki buatan aku rasanya enak atau enggaknya ngomong ke aku yah" ucap Ali tersenyum ramah.
"Masuklah, aku akan masuk sendiri ke ruangan suamiku" ucap Ali setelah David mengatakan terimakasih.
Tok tok tok
"Masuk," teriak Helmi dari dalam sana.
Cklek
"Kerja keras emang harus rapi jangan sampe lupain makan juga" ucap Ali menggerutu saat suaminya masih berkutat dengan layar di hadapannya.
Helmi hanya tersenyum sumringah saat tahu siapa yang datang dengan membawa makanan di kedua tangannya.
__ADS_1
"Kau mengantar makanan untukku?" tanya Helmi dengan tersenyum lebar lalu menghampiri sang istri yang mulai menata makanan di ata meja.
"Hmm, aku ingin kamu cicipin masakan aku, mas. jadi biar tahu yang aku masak masuk kriteria selera kamu apa enggak" ucap Ali dengan bibir yang tak kalah melebar.
"Apa ini ide jualan mu?" tanya Helmi menatap excited makanan yang ada di hadapannya.
"Hm, anak muda zaman sekarang kan hobinya Korea jadi ini ide bagus buat jualan mas" ucapnya lalu menggiring tubuh Helmi agar duduk di sofa.
"Banyak banget?" tanya Helmi saat melihat masih banyak makanan di dalam paper bag.
"Sengaja, biar tahu gimana rasanya kalo di banyak lidah" jawab Ali.
"Kamu mau ngasih itu ke siapa?" tanya Helmi meneguk minuman di yang Ali berikan.
"Yah ke staff kamu lah, emang gak semua staff kebagian cuman aku tetep mau mereka ngerasain masakan aku" ucap Ali mengutarakan maksudnya.
"Oh, jadinya promosi sebelum pembukaan gitu? hm?" tanya Helmi tersenyum geli dengan wajah sang istri yang nampak malu malu.
"Kurang lebih yah gitu" jawab Ali menunduk.
Helmi yang gemas lalu menarik pinggang Ali agar duduknya tidak berjauhan, lalu diangkat nya wajah sang istri yang menunduk menahan malu dan pipi yang merona.
"Jadi ceritanya memanfaatkan situasi? hm? pinter banget sih mau promosi di perusahaan oranga?" goda Helmi tersenyum lebar melihat bagaimana istrinya nampak menahan malu dengan wajah yang memerah bak kepiting rebus.
"Kalo ada peluang kenapa gak dimanfaatin coba?" tanya Ali mencoba mengangkat sedikit wajahnya.
"Nanti aku bagiin ke anak anak" ujar Helmi
Cup
Helmi mengecup bibir ranum istrinya yang sejak tadi menggodanya. Sedangkan Ali ia hanya diam mematung saat suaminya mencuri kecupan di bibirnya. Mendapat respon Ali yang diam Helmi kembali mencium bibir sang istri namun kali ini dengan sedikit *******.
Ciuman yang awalnya hanya sekedar kecupan kini malah semakin panas saat Ali merespon ciuman Helmi dengan membuka mulutnya hingga suaminya dapat dengan mudah mengeksplor seluruh permukaan bibirnya.
Suara kecapan demi kecapan memenuhi seluruh ruangan, entah siapa yang merubah yang jelas saat ini posisi Ali duduk menghadap Helmi dengan kaki yang mengapit kedua kaki Helmi yang terduduk rapat.
Satu tangan Helmi menahan tengkuk Ali, agar semakin memperdalam ciumannya sedangkan tangan satunya menegelus paha Ali yang saat ini memang terpampang jelas karena rok span yang di kenakan istrinya terangkat guna mempermudah istrinya duduk di pangkuannya dengan posisi ngangkang menghadap ke arahnya.
Ciuman mereka memanas saat lagi lagi Ali mengusap tengkuk sang suami hingga menimbulkan sensasi lebih.
__ADS_1
"J*****g!!!!"