Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
58.


__ADS_3

Pagi harinya Helmi dan Ali berangkat bersama seperti biasanya, setelah sampai di tempat angkringan Ali segera membuka sabuk pengaman yang sedari tadi melindunginya, namun saat ia akan membuka pintu lengannya di tahan oleh sang suami yang membuatnya sedikit bingung, padahal jelas jelas ia sudah pamitan seperti biasanya namun kali ini suaminya malah menahannya.


"Kenapa mas?"


"Nanti malem aku gak langsung pulang yah, ada perjamuan penting dengan salah satu kolega ku, jadi tidur dan makanlah lebih dulu aku pasti makan di luar" hampir saja ia lupa jika hari ini ada pertemuan penting dengan Mr Jack dari perusahaan medical center.


"Dimana? terus kapan?" Ali menegakkan posisi duduknya agar lebih jelas melihat wajah sang suami yang sedang meminta izin darinya.


"Di restoran yang ada di hotel Axton, nanti malem mungkin pukul tujuhan" ucap Helmi mengelus kepala sang istri yang tertutup oleh kerudung agar sedikit membuat sang istri mengerti dan mengizinkannya, karena ini adalah kerja sama yang sangat ia impikan sedari dulu.


"Emang gak bisa yah mas kamu pulang dulu? masih ada waktu, kamu biasa nyampe rumah jam 5 atau setengah 6 masih ada waktu beberapa jam, kamu bisa berangkat nanti setelah isya" Ali sedikit protes pada suaminya, ia sungguh takut jika sang suami akan kembali berkeliaran seperti dulu, ia tidak ingin hal itu terjadi lagi cukup masa lalu yang menjadikan diri Helmi tercoreng.

__ADS_1


"Kalo harus pulang, butuh dua kali lipat perjalanan sayang, tanggung kan?" ucap Helmi lagi.


"Yaudah mas, hati hati pulangnya jangan malem kalo udah selesai pertemuan langsung pulang aja ya mas, gak usah nginep di hotel nya awas aja yah" Helmi hanya terkekeh sambil mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendapati tatapan tajam sang istri.


Ali yang saat ini memang berbeda dari Ali yang sebelumnya lemah lembut mandiri dan elegan, kini istrinya berubah 180° istrinya kini menjelma menjadi wanita yang sulit di tebak keinginannya, sifat mandirinya pun jarang terlihat karena istrinya kali ini lebih menonjolkan sifat manjanya padanya. Sedikitpun ia tidak merasa risih saat istrinya bermanja-manjaan padanya, ia malah mnyukai Ali yang manja padanya karena itu dapat membuktikan jika bagi Ali dirinya adalah pelindung baginya.


Tidak terasa dari pagi hingga siang dan sampai sore pekerjaan menumpuk Helmi dapat terselesaikan, ia dengan fokus membaca seluruh berkas yang ada di tangannya.


"Tidak usah Dav, istirahatlah lebih dulu aku yakin kamu pasti merasa lelah" ujar Helmi tanpa menatap David yang hanya menunduk hormat


"Apa kau tidak ingin di temani?" tanya David karena biasanya Helmi akan memintanya menemaninya kemanapun saat ada pertemuan di luar kantornya

__ADS_1


"Aku bukan anak kecil Dav, jadi pulanglah dan beristirahat dengan cukup sebelum kita meninjau proyek kita di Kalimantan" ucap Helmi mengusir sang asisten dengan gerakan tangannya.


"Baiklah Tuan, saya akan pulang, jaga diri anda baik baik" ucap David membungkukkan tubuhnya tanda hormat lalu menuju keluar dari ruangan.


Sebelum berangkat menuju tujuan Helmi lebih dulu mempelajari kembali berkas yang akan ia bicarakan nanti denga Tuan Jack. Ia tidak ingin jika penjelasannya nanti berbelit-belit hingga menimbulkan Tuan Jack yang sudah datang jauh jauh terpaksa harus kembali pang jika istrinya tak betah.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya pria ya g di tunggunya sedari tadi kini datang dengan setelan jas gagahnya.


"Selamat datang Tuan, Silahkan duduk" ujar Helmi menarik salah satu kursi di sana untuk Ali duduki.


Semua orang mendengar jika seorang Helmi ternyata bisa sedikit lembut juga, tanpa membuang waktu mereka segera membahas.

__ADS_1


"Shittttt," umpat Helmi memegangi kepalanya yang saat ini terasa berdenyut hebat.


__ADS_2