
Sore harinya Helmi lebih dulu pulang ke rumah, di banding menjemput sang istri karena istrinya mengatakan jika hari ini ia akan pulang malam.
Helmi berkutat di dapur layaknya seorang chef profesional, malam ini ia ingin menyiapkan makan malam romantis dengan sang istri, ia sungguh tahu jika istrinya di ajak dinner seperti pasangan lain, ia sungguh yakin dirinya tidak hanya kenyang makan melainkan kenyang omelan pula.
Setelah mencuci bekas masak, Helmi buru buru membersihkan tubuh untuk melaksanakan solat Maghrib yang sebentar lagi tiba.
Malam ini ia telah mempersiapkan baju muslim sederhana namun terkesan elegan, Helmi sengaja membuat baju khusus rancangan Victoria secret untuk sang istri, namun ia juga meminta pada pihak sana untuk tidak menempelkan lebel brand nya hanya karena ia takut istrinya tak ingin memakai baju ini jika tahu brand nya dan pastinya istrinya akan mencari tahu berapa harganya.
Helmi segera mengambil baju dengan warna senada dengan milik istrinya, kemeja purple motif polos dengan lengan tiga perempat di padukan dengan celana hitam selutut. Namun saat ia melihat pantulannya di cermin Helmi merasa geli sendiri masa Iyah istrinya hijabers suaminya bani bastard.
"Yakin ini mah gue harus pake sarung biar kayak mas santri" ujarnya cekikikan, lalu ia mengambil satu sarung dengan merek ketjubung motif salur warna purple namun bercorak hitam. Tak lupa ia memakai peci putih hingga menampilkan pesona Helmi yang berbeda.
"Masih tetep tampan meski harus sarungan" ujarnya cekikikan.
Helmi turun dari lantainya menuju basemen, Sepanjang perjalanan semua pasang mata menatapnya dengan penuh kekaguman, ketampanan Helmi bertambah berkali lipat ganda saat mengenakan pakaian santri. Sebenarnya Helmi cukup risih dengan tatapan mata mereka namun ia mencoba acuh demi membuat sang istri terpesona.
"Mengapa aku sangat ingin terlihat tampan di depannya?" batin Helmi bertanya tanya.
"Untuk apa juga aku mengharapkan istriku melirikku?" tanya Helmi lagi.
Sepanjang perjalanan batin Helmi bertanya tanya, dia baru sadar jika tingkahnya saat ini berbeda dari sebelumnya mengenal Ali, pantas saja orang orang yang bertemu dengannya kadang tersenyum kaku seolah terkejut dengannya. Kali ini ia baru menyadari jika ia pun merasa terkejut dengan perubahan dirinya, ia lebih banyak bicara dan tersenyum pada orang orang di sekitarnya, anehnya ia juga sangat menurut pada ucapan sang istri padahal sebelumnya tidak pernah ada yang bisa mengendalikannya.
__ADS_1
Saat sampai di tempat tujuan dilihatnya sang istri sudah berdiri di Halte dengan tatapan yang fokus pada layar ponselnya.
"Cewek,, syuittt syuitttt" panggil Helmi tepat di depan Ali ia menghentikan mobilnya.
"Cewek, pulang bareng Abang yuk" ujar Helmi gencar menggodaku sang istri, padahal sedari tadi istrinya nampak tak menghiraukannya, seolah tak mendengar.
"Rumahnya dimana neng biar Abang anter"
Helmi turun dari mobil saat sang istri tidak merespon nya sedikitpun, ia cukup kesal karena sang istri fokus ke ponselnya, namun ia di buat bingung saat istrinya mundur ke belakang saat ia mulai melangkah mendekati sang istri.
"Cantik cantik kok sendirian?" tanya Helmi menoel dagu sang istri yang masih berusaha mundur ke belakang.
"Awhhh sayang sakit" ringis Helmi memegangi pipinya yang bisa di pastikan memerah akibat geplakan istrinya sendiri.
"Mas?" Ali terkejut saat pria yang sedari tadi menggodanya ternyata suaminya, ia pikir tadi adalah pria pria jalanan yang suka menggoda para wanita, meskipun ia dibuat sedikit bingung saat yang menggoda nya keluar dari mobil dengan memakai sarung, Ali dapat melihat gerak gerik seseorang yang berjalan mendekati nya dari ujung matanya.
"Maaf sakit yah?" tanya Ali mengusap usap pipi sang suami sesekali ia pun meniup dengan halus.
"Sakit banget yang, lagian kamu kenapa sih kayak yang di sentuh maniak se*x aja" gerutu Helmi kesal dengan sang istri yang tidak mengenali suaranya.
"Lagian salah siapa yang malah godain anak orang?" tanya Ali malu malu, lalu sedetik kemudian ia tercengang saat melihat penampilan sang suami yang bak seorang pak hajji. Entah pujian apalagi yang pantas Ali pujikan pada ketampanan suaminya saat ini.
__ADS_1
"Mas, kok ganteng banget sih?" tanya Ali yang lebih menjurus pada memuji, ia menatap sang suami dari atas sampai bawah.
"Kamu ajah yang baru sadar kalo suami mu ini memang tampan" jawab Helmi dengan kepedean tingkat tinggi.
Cup,,,cup,,,cuppp
"Ahhha suami aku tampan bangett!" teriak Ali mengecupi wajah sang suami dengan perasaan campur aduk.
Jantung nya berdegup dengan kencang saat ia memeluk sang suami sambil berjingkrak jingkrak bahagia, entahlah karena memang inilah impiannya mendapatkan suami dengan penampilan santri, atau ia memang mulai mencintai suaminya yang monoton.
"Aku jadi tambah cinta deh" ucap Ali menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
Jantung Helmi berdetak dengan kencang saking bahagianya dengan ungkapan sang istri yang mengatakan jika ia tambah mencintainya, itu artinya sang istri memang telah jatuh cinta padanya. Apakah jantung nya berdetak dnegan kencang pun adalah tanda jika iapun sudah jatuh cinta pada sang istri?.
Helmi buru buru melepaskan pelukan sang istri dari tubuhnya ia takut Ali akan mendengar detak jantung nya, bisa bisa Ali akan menertawakan nya jika ia tahu bahwa jantung suaminya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Itu memang wajar sayang, karena pria tampan seperti ku patut di cintai setiap waktu" ujarnya dengan bangga, "Mau pulang atau tetap di sini?" tanya Helmi karena sang istri malah berdiri mematung menatap nya tanpa merasa bosan.
Dengan perhatian Helmi membukakan pintu mobil untuk sang istri.
"Terimakasih suamiku" ucap Ali dengan mata puppy eyes nya yang dibuat seimut mungkin.
__ADS_1