Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
64.Tiga Wanuta


__ADS_3

Setelah menemui Verrel yang katanya sedang sakit, Helmi, buru buru menjemput sang istri yang tadi sempat ia turunkan di salah satu restoran dekat gedung apartemen milik Verrel.


Ia celingukan mencari sosok sang istri kesana kemari hingga netranya menangkap sosok wanita berjilbab army polkadot dengan gamis serasi yang melekat di tubuh mungilnya.


Bibirnya tersenyum lebar kala sang istri sedikit berlari dengan wajah sumringah ke arahnya dan tangan yang membentang, dengan gerakan refleks ia juga membentangkan kedua tangannya dan memeluk erat tubuh sang istri saat istrinya telah masuk ke dalam pelukannya.


"Kita cari makan di tempat lain yah?" pinta Ali dengan puppy eyes nya yang terlihat menggairahkan jika di mata sang suami.


"Kamu belum memesan apapun baby?"


Helmi tak percaya jika selama ia tinggal istrinya tak memesan apapun, istrinya hanya menggeleng sambil tersenyum lebar hingga menampilkan lesung di pipinya.


Sedangkan diujung sana dua wanita yang tadi sempat Ali datangi memandang mereka dengan tatapan berbeda yang sangat sulit di artikan.


Nadia menatap Ali yang bermanja manja pada pria yang sangat ia idam idamkan dengan tatapan penuh amarah dan kebencian, sedangkan Angel yang melihat bagaimana mesranya pasangan suami istri di depannya hanya tersenyum kecut menertawakan dirinya yang ternyata sangat miris kehidupannya.


Awalnya ia pikir ia akan memiliki apapun yang diinginkannya termasuk pria yang sangat ia cintai karena kehidupannya yang serba kecukupan, ternyata ia salah cinta seseorang tidak bisa di beli oleh uang dan tidak bisa di gaet oleh kecantikan atau keterampilan. Cinta sangat sulit di prediksi kepada siapa ia singgah dan pasangan seperti apa yang diinginkannya.


Ada rasa haru saat melihat bagaimana mantan temannya begitu hebat bisa merubah pria yang sulit ditaklukkan, sulit diatur, keras kepala dan dingin. Ada juga rasa sakit saat ia sadar wanita hebat itu bukan dirinya melainkan wanita yang selalu ia injak injak, bahkan wanita yang sering ia rendahkan lebih elegant darinya yang padahal keluarga nya terbilang kaya raya. Ternyata kaya raya belum tentu elegant dan sifat elegant tidak di takdirkan hanya untuk orang orang kaya.


Mungkin ini saatnya ia harus bisa melepaskan obsesinya yang ingin memenangkan pria yang menjadi incaran semua wanita, dulu ia sangat ingin semua orang tahu bahwa dirinya hebat bisa memiliki seorang Helmi namun realita berkata lain. Ia tahu dia tidak akan mampu melepas pria yang sudah lama hinggap di hatinya, namun ia yakin ia akan ikhlas dengan terbiasa tanpa kehadirannya.


🦋


Setelah mengetahui jika ternyata Helmi telah menikah dengan wanita yang ditemuinya dulu di restoran Nadia menjadi sangat marah, apalagi saat melihat bagaimana Helmi memeluknya dan menggenggam posesif tangan wanita di sampingnya. Ia jelas wanita bodoh ia tahu jika Helmi sangat mencintai istrinya, namun ia tak bisa diam saja, ia takkan melepaskan Helmi begitu saja saat ada peluang.

__ADS_1


Wanita mana yang tak menginginkan Helmi, pria yang sangat sempurna baginya, baik dari materi tampang dan juga ranjang. Helmi menduduki urutan kandidat pertama jika skillnya di ikutkan lomba.


"Mommm!" teriak Nadia dengan nafas ngos-ngosan memanggilnya ibunya.


"Mommy!!!!"


"Momm! where are you momm!!!" teriak Nadia mencari ibunya kesana kemari dengan tergesa-gesa.


"Apa apaan sih kamu teriak teriak gak jelas kayak gitu hah?!" bentak Nyonya Silva yang datang dari arah dapur dengan piyamanya yang acak-acakan.


"Momm! gawattt!" pekiknya dengan suara lantang.


"Apa yang kamh khawatir kan hah?!" tanya Nyonya Silva dengan nada sinis menahan amarah dan gerakan tangan yang membenahi rambutnya.


"Ada apa dengan Helmi? apa kalian sudah saling berkenalan?" tanya Nyonya Silva sangat bersemangat mendengar kabar dari putrinya.


"Bukan mom, si j****g Veronica membohongimu,kamu tahu itu mom?" tanya Nadia menggebu gebu


"Maksudmu?" tanya Nyonya Silva tak mengerti dengan tatapan menyelidik.


"Helmi dan wanita yang pernah kita temui itu pasangan suami istri bukan antara pelayan dan majikan mom, dia membohongi kita" ujarnya lagi menghentak hentakkan kakinya kesal ia bahkan setengah berteriak dengan tangan mengusap kasar wajahnya.


"Whatt?!" pekik Nyonya Silva tak percaya dengan ucapan putrinya, bagaimana mungkin Veronica membohonginya itu semua tidak bisa ia biarkan, ia harus cepat cepat menelepon Veronica untuk mengkonfirmasi ucapan sang putri.


"Jangan menelepon Veronica mom!" tahan Nadia saat mommynya beranjak untuk mengambil ponsel miliknya.

__ADS_1


"Aku yakin si j*****g tua itu pasti mencari alibi dan berusaha keluar dari pertanyaan mu dan menghindar dari kemarahan mu momm!"


Nyonya Silva berpikir sebentar lalu mengangguk mengerti dengan ucapan sang putri ia sangat yakin jika nantinya sang teman sosialita pasti mencari seribu cara untuk mengelak tuduhannya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Nyonya Silva kebingungan.


"Aku punya ini" ujar Nadia memperlihatkan sebuah foto di layar ponselnya dimana di sana Ali dan Jefry sedang bercanda tawa di sebuah tempat angkringan.


"Aku tahu jika Helmi yang berselingkuh si miskin pasti memaafkannya apapun itu yang Helmi lakukan, tapi bagaimana jika kita sedikit bermain main dengan si kumuh itu mom?" tanya Nadia tersenyum smirk pada sang ibu yang masih menganga tak percaya dengan gambar yang ia lihat dimana dapat dilihat lawan bicaranya adalah Jefry putra Siska sesama teman sosialita nya.


"Mengapa kamu sangat yakin?" tanya Nyonya Silva sedikit tak percaya dengan usul sang putri yang mengajak memainkan wanita yang Helmi puja alias Aliyanza.


"Kita pancing amarah Helmi agar membenci j****g kumuh ini, aku yakin Helmi tidak akan memaafkan kesalahan siapapun tanpa terkecuali" ujarnya penuh percaya diri


Ia sangat yakin rencananya akan berhasil, karena ia tahu arti dari tatapan mendalam Helmi pada wanita yang digandengnya. Tatapan penuh cinta dan takut kehilangan, ia jelas tahu karena hal itupun berlaku padanya saat dirinya menatap seorang Helmi incarannya.


🦋


Verrel masih terbaring di atas ranjangnya, pikirannya melana entah kemana, raganya masih merasa lesuh dan lelah karena harus bolak-balik kamar mandi akibat mual yang selalu menyerangnya. Ia juga tak mengerti mengapa penyakitnya lebih ke seperti wanita hamil pada umumnya, sering muntah muntah saat mencium aroma yang padahal ia sukai namun anehnya kali ini ia malah merasa mual seolah jijik dengan aroma yang menyerang Indra penciumannya.


"Apakah ini saatnya aku bertobat pula Le?" tanyanya pada Leo yang sedang duduk di samping ranjangnya dengan kepala yang bersender ke head board ranjang milik Verrel.


"Tobat tobat dan terus tobat" gerutu Leo yang tak habis pikir dengan ucapan temannya, "Luh mah Baco*t doang tobat nyatanya Luh gak berusaha sedikitpun keluar dari maksiat" cibir Leo yang tahu bagaimana Verrel yang masih tak berubah.


Jika Verrel berubah bisa di pastikan Leo pun akan berubah, karena bagi mereka dunianya adalah pertemanan dan tanpa pertemanan untuk apa ia masih mencari uang banyak jika bukan untuk foya foya bersama teman gilanya.

__ADS_1


__ADS_2