Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
44.Lembur Sampai Lupa bangun


__ADS_3

Sinar matahari sedari tadi sudah masuk ke dalam kamar yang memiliki jendela dengan fitur otomatis yang akan terbuka saat sinar matahari mulai menampakkan tubuhnya. Kedua insan yang masih asik dengan dunianya sendiri masih belum sadar jika matahari sudah bersinar terang di luar sana hingga suasana menjadi sedikit mulai panas, apalagi ponsel kedua insan yanga masih bergelung di bawah selimut tidak berhenti berdering sedari tadi.


"Howamm," Ali mulai menggeliatkan tubuhnya dan mulai merenggangkan otot otot nya yang masih terasa kaku dan pegal.


"Astaghfirullah" pekik Ali saat melihat sinar matahari yang mulai panas.


"Mas kita kesiangan" teriak Ali memukul mukul bahu sang suami agar bangun dan melepaskan pelukannya yang melilit erat di perutnya.


"Sebentar lagi sayang, lagipula kita udah solat subuh tadi emang semalem kamu gak capek aku gempur sampe subuh?" ucap Helmi tanpa mau sekedar membuka matanya atau melepaskan lilitan tangannya di perut sang istri yang tidur membelakanginya.


Yah mungkin Helmi masih merasa lelah karena aktifitas gila mereka semalam yang tidak mengenal lelah, mulai dari sore sampai maghrib lalu berlanjut dari pukul sepuluh malam sampai jam 4 subuh, gila bukan? namanya juga pasangan yang sedang kasmaran tidak sadar, dimabuk bercinta padahal sudah mulai tumbuh benih cinta tanpa terasa.


"Mas, ini kayaknya udah lewat jam 8 deh soalnya terik matahari nya panas banget" ucap Ali lagi masih mencoba melepaskan lilitan tangan sang suami.

__ADS_1


"Ck! masa sih?" decak Helmi tak percaya namun sesaat kemudian ia meloncat saking kagetnya dengan terik matahari yang sudah mulai panas.


"Sial aku harus rapat," teriak Helmi melihat jam yang sudha menunjukkan pukul setengah sebelas siang itu artinya ia hanya memiliki setengah jam waktu sebelum rapat.


Dengan terburu buru Ali dan Helmi bangkit dari ranjang mereka, dengan tertatih-tatih Ali berjalan mengambil satu set pakaian formal untuk suaminya tak lupa ia juga menyiapkan berkas dan laptop sang suami agar tidak membuang waktu.


"Mas cepet pake bajunya," ucap Ali membantu memakaikan kemeja Helmi sedangkan Helmi ia berusaha memakai celananya dengan tergesa-gesa.


"Aku pergi dulu, cup" Helmi berlari keluar setelah menyambar tas kerja, jas dan dasinya.


"Loh kapan kamu beli motor?" tanya Helmi mengambil kunci yang tergeletak di bawah lantai


"Kemarin, itu buat aku dagang" yah Ali memutuskan membeli motor terlebih dahulu untuk keperluan nanti di angkringan nya, meskipun ia tak bisa mengendarai motor tapi masih ada pak Yanto satpam di depan yang kadang membantunya mengantarkan Ali ke pasar dengan sepeda motor milik pak Yanto.

__ADS_1


🦋


"Tuan, mengapa pakaian anda berantakan seperti ini?" tanya David menyusul bos nya yang terlihat acak acakan dengan ikat pinggang yang belum di ikatkan dan kancing kemeja yang belum sepenuhnya tertutup, namun bagi kaum hawa itu adalah obat penyegar mata yang terlihat sangat seksi dilengkapi dengan rambut yang acak acakan dan mata sembab khas bangun tidur.


"Sialan kau David! mengapa tidak ke apartemen menyusul ku" gerutunya, lalu memberikan tas jas serta dasi, "Peganglah," titahnya pada David lalu membenarkan kemeja dan celananya saat mereka tiba di dalam lift.


"Tuan, apa semalam anda lembut hingga harus kesiangan?" cibir David pada atasannya, karena ini adalah pertama kalinya Helmi telat sampai jam 11 siang biasanya jikapun telat Helmi akan datang di jam 8 atau 9.


"Diamlah David, kau akan tau bagaimana rasanya menjadikan sesuatu memiliki kita seutuhnya dan hanya menginginkan kita menyentuhnya, aku yakin kamu akan terus terusan lembur tanpa menyisakan waktu" gerutu Helmi dengan tangan yang masih sibuk memakai jas dan merapikan dasinya.


Sedangkan David ia hanya bisa mengerut kan keningnya mendapati jawaban di luar pertanyaannya? apakah semalam bos nya mabuk, hingga oleng menjawab pertanyaan.


Saat sampai di lantai 14 Helmi langsung masuk ke dalam ruang meeting dimana semua orang sudah hadir di sana, ia langsung duduk di kursi pemimpin yang langsung di susul duduk oleh asisten nya.

__ADS_1


"Apa saya terlambat?" ucap Helmi dengan tersenyum ramah. Namun berbeda bagi mereka yang mendapat senyuman dari Helmi mereka merasa jika ada sesuatu yang membuat pemegang saham no satu itu merasa tersinggung, karena tidak biasanya Helmi tersenyum pada mereka, bahkan ini adalah senyuman pertama yang Helmi lemparkan kepada mereka, jadi wajar saja jika mereka berpikir Helmi tersenyum smirk


__ADS_2