
"All, are you oke?" teriak Helmi dari luar harap harap cemas takut sesuatu terjadi pada istrinya.
tok tok tok
"All, buka pintunya" teriaknya lagi mencoba menarik narik gagang pintu Bathroom, jantungnya berdegup kencang saat masih tak mendapat jawaban dari Ali di dalam sana, hanya terdengar teriakan dan tangisan Ali yang menggema di dalam sana.
"Al, kalo gak dibuka juga aku dobrak yah!" ancam Helmi, dengan kening yang mulai berkeringat. "Aku gak bohong! satu.... dua....." masih tidak mendapat jawaban hingga akhirnya pertahanan Helmi roboh karena rasa cemas yang menyerangnya.
***Brakk
Akhhhhh
Glek***
Helmi meneguk ludahnya sendiri saat melihat pemandangan di depannya saat ini. Matanya bahkan lupa untuk berkedip, otaknya berhenti berfungsi lupa dengan tujuan awal dia mendobrak pintu.
"M-masss" ucap Ali lirih nyaris tak terdengar, dia takut dengan wajah Helmi yang memerah saat ini. Ali tahu, meskipun semalam ada lelaki yang melakukan tak senonoh padanya itu tidak akan membuat Helmi marah karena Ali yakin seratus persen dengan ucapan Helmi yang tak tertarik padanya sama sekali, namun yang Ali takutkan adalah jika Helmi merasa harga dirinya diinjak injak saat tahu istrinya di jamah pria lain.
"m-mmm?" Helmi gelagapan, membalik tubuhnya tanpa ingin melanjutkan pemandangan di depannya.
"Mas maafin aku,," lirih Ali dengan Isak tangis yang tak berhenti, ia tau saat ini Helmi pasti jijik melihatnya.
__ADS_1
"Aku juga gak tahu kenapa jadi gini," ujarnya "Aku berani bersumpah mas, kalo aku gak tahu sama sekali siapa yang bikin tanda ini di sini" lanjutnya sesenggukan
Kening Helmi berkerut bingung, mengapa istrinya menangis dan meminta maaf seolah telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Dengan terpaksa ia membalik tubuhnya namun terhenti saat kakinya tertumpu sesuatu.
"Apa yang kau lakukan Ali!" tanya Helmi dengan sedikit membentak saat istrinya bersujud di bawah kakinya.
"Aku minta maaf mas, aku berdosa tidak bisa menjaga diri dari orang lain, tapi aku berani bersumpah bahwa aku tidak tahu apa-apa" ucapnya dengan air mata yang terus turun membanjiri pipinya.
"Bangun" titah Helmi mencoba mengangkat tubuh Ali namun alih-alih terangkat Ali malah semakin mendekap kakinya dan menekan kepalanya di bawah kakinya.
"Enggak mas, aku tau aku salah. Tapi aku juga gak tahu mas, maafin aku"
"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Helmi dengan suara yang halus agar Ali tidak ketakutan.
Ingin sekali Helmi tertawa terbahak-bahak saat mengetahui istrinya menangis hanya karena hal semalam, mengapa istrinya tidak berpikir jika dia yang melakukannya? mengapa harus menerka orang lain yang melakukannya.
"Aku tidak berbohong mas," ujar Ali membuyarkan lamunan Helmi saat mendapati ekspresi wajah Helmi yang terlihat menerawang. Ali pikir Helmi sedang berpikir keras dengan apa yang dilakukan Ali semalam.
"Benarkan pakaian mu" ucap Helmi pada Ali yang memang kancing bajunya sudah terbuka.
"Mas, tunggu kamu percayakan sama aku?" tanya Ali menghalangi langkah Helmi.
__ADS_1
Helmi semakin dibuat kelabakan dengan aksi istrinya saat ini, dengan rambut yang acak-acakan istrinya terlihat semakin menggoda apalagi dengan keadaan yang memperlihatkan sesuatu yang sebenarnya tidak muat di bungkusannya terlihat berlomba-lomba untuk keluar.
"Minggir," titah Helmi dingin, dia tidak bisa berlama-lama dengan posisi ini bersama Ali bisa bisa dia khilaf seperti semalam.
Namun diluar dugaannya, Ali malah menarik Helmi keluar kamar dan mendorongnya ke atas ranjang. Mendapat perlakuan yang tidak ada dipikirannya dari sang istri membuat Helmi kelimpungan sendiri.
"Aku tau kamu gak percaya dengan pengakuan ku tadi, karena kamu pasti berpikir merebut kamu dati teman aku ajah bisa apalagi ngelakuin hal hal lain sama orang lain?" ujar Ali mendorong Helmi kebelakang hingga terpaksa Helmi menahan bobot tubuhnya dengan kedua sikunya.
"Asal kamu tahu, aku yakin seratus persen kalo semalam aku gak make love ama siapa pun," lanjutnya melempar piyama tidurnya ke sembarang arah hingga kedua bukitnya semakin terlihat jelas di mata Helmi.
"Karena apa? karena aku gak ngerasa sakit di area pangkal paha aku" lanjutnya lagi naik ke atas tubuh Helmi merapatkan tubuhnya hingga jarak mereka terkikis.
"Jadi aku bakal buktiin ke kamu, kalo aku masih Virgin dan bukan j****g yang selalu kamu sebutkan" ujarnya lagi, lalu membekap mulut Helmi dengan mulutnya sendiri,
Ali sendiri bingung bagaimana cara memainkan bibir, ia hanya beberapa kali melihat adegan di film Korea yang selalu ditontonnya, namun Ali mencoba sebisa mungkin agar bisa membangunkan hasrat Helmi. Padahal Ali sendiri tidak sadar jika yang didudukinya adalah pusaka yang sudah bangun sedari tadi.
***mmmhhh
lummphhhh
Shhhhh
__ADS_1
Ahhhh, awhhhh***