
Hari ini Oma Diana berniat mengunjungi cucu menantunya, dia sengaja berangkat pagi karena ingin tahu bagaimana situasi pagi hari di rumah pengantin baru yang menikah karena terpaksa pastinya.
Oma Diana bukan orang bodoh yang tidak tahu bagaimana kelakuan cucunya sudah pasti cucunya tidak akan memperlakukan baik menantunya, maka dari itu diam diam dia meminta David untuk selalu memberikan informasi tentang mereka.
Namun Oma selalu mendapat informasi yang tak mengenakkan dari David itulah sebabnya ia ingin melihat sendiri bagaimana kondisi kehidupan rumah tangga cucunya. Ia takut cucunya akan melakukan kekerasan pada menantunya, itu sebabnya ia buru buru berangkat ke apartemen yang menjadi tempat tinggal cucunya. Tidak hanya itu ia juga menyogok petugas apartemen agar memberikan kunci cadangan rumah yang Helmi tinggali.
click
Oma Diana masuk ke apartemen Helmi dengan membawa makanan di kedua tangannya, belum lagi Surti dan mang Asep selaku supir membawa dus dus makanan dan minuman ditangannya. Namun tepat kakinya melangkah masuk Oma Diana mendengar suara yang terdengar seperti rintihan di dalam sana.
"Apa yang dilakukannya?" tanya Oma Diana melotot mendengar suara rintihan Ali, apalagi tempat itu terlihat masih rapih makanan yang tersaji rapih di meja dan pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Oma menerka jika Helmi sedang menganiaya menantunya karena pintu yang tak tertutup rapat, apalagi teriakan dan rintihan Ali terdengar di Indra pendengaran nya.
"m-masss,,, awhhhhhhh" rintihan Ali di dalam sana membuat Oma Diana dan bi Surti buru buru berlari ke pintu membuka pintu dengan keras dan amarah yang membara.
"Dasar Gila!" teriak Oma Diana terkejut apalagi bi Surti hampir terjungkal ke belakang saat melihat pemandangan gila di depannya.
"Harusnya kau kunci pintunya!" gerutunya dengan suara lantang lalu menutup pintu dengan sangat kencang.
Oma Diana terus mendumel dengan kelakuan cucunya yang ceroboh, bisa bisanya cucunya lupa menutup pintu mentang mentang hanya hidup berdua saja di apartemen.
"Nyonya apa kita harus menata bawaan anda dulu?" tanya Surti dengan wajah merona sendiri melihat bagaimana gilanya pasangan muda yang barusan mereka pergoki.
"Yah cepat bereskan, sebentar lagi mereka pasti keluar"
Oma Diana sebenarnya malu juga memergoki cucunya yang sedang memproduksi keturunan ketiganya, namun apalah daya nasi telah jadi bubur waktu pun tak bisa di putar kembali.
"Nyonya sebaiknya kita pulang, saya sedikit tidak nyaman dengan suara di dalam" ujar Surti cengengesan.
__ADS_1
Oma hanya mendelik sebal mendengar penuturan sang pelayan yang sudah mengabdi padanya sejak lama, sebenarnya ia juga ingin segera pergi namun sayang. Jauh jauh ia kemari hanya ingin bertemu dengan cucu mantunya, dari mansion milik nya ke sini harus menempuh sekitar satu jam jika tidak macet jadi sangat disayangkan jika tidak bertemu tujuannya kemari
"Ya sudahlah, ayo kita pulang, simpan semuanya di atas meja saja" titah Oma Diana pada Bi Surti dan Mang Asep
Cklek
Tepat Oma Diana beranjak dari duduknya, Helmi keluar dari kamar hanya mengenakan celana panjang nya hingga memperlihatkan dada bidang miliknya.
"Ckk! harusnya kau pasang peredap suara agar suara laknat istrimu tak terdengar orang lain" gerutu Oma Diana pada cucunya yang hanya cengengesan tanpa malu telah dipergoki oleh Oma Diana.
"Cepatlah pulang, aku belum selesai" titah Helmi yang langsung mendapat pelototan dari sang Oma.
"Apa kau tidak melihat jam? hah?" tanya Oma Diana menunjuk pada jarum jam yang menunjukkan pukul 9 pagi. "Jangan abaikan urusan kantor hanya karena ranjang, ingat istrimu butuh banyak uang untuk tetap bertenaga" lanjut Oma Diana menoyor kepala Helmi.
"Iyah Oma, sebentar lagi aku berangkat, jadi Oma Pergilah" usir Helmi mendorong tubuh Omanya.
"Menantumu sedang kelelahan Oma, jadi lain kali saja ketemunya oke?"
Cup
Helmi menghadiahi kecupan di pipi sang Oma agar mau pulang, karena sebenarnya ia masih ingin menghajar istrinya yang sudah berani memprovokasinya.
"Ckk! ingat mainnya jangan kasar kasar, menantuku bisa kewalahan jika kau terus menghajarnya" ujar Oma Diana lalu melangkahkan kakinya keluar, namun tepat diambang pintu Oma membalikkan tubuhnya lalu menatap Helmi.
"Cih! aku tau kenapa kau mengusirku, kau pasti masih belum puas menghajar menantuku, awas saja jika dia kekurangan makan" ancam Oma Diana sengit
"Hahahah" Helmi tertawa sumbang mendengar gerutuan Omanya, "Tenang saja, dia sangat kuat mengimbangi ku" lanjut Helmi membayangkan betapa agresifnya Ali padahal ia adalah seorang pemula.
__ADS_1
"Dasar sinting!" umpat Oma lalu menutup pintu kembali.
Sepeninggal Oma Diana Helmi buru buru masuk kembali ke dalam kamar, netranya menangkap sosok wanita yang masih betah tiduran di atas ranjang dengan penutup seluruh tubuhnya hingga tidak nampak apapun
"Oma sudah pulang" ucap Helmi dingin,
"Baguslah," jawab Ali bernafas lega saat tahu jika nenek mertuanya telah pergi. Ia sungguh masih buk siap jika harus bertemu Omanya karena insiden tadi pagi
"Buka selimutnya, bukankah kau sudah berjanji?" tagih Helmi.
Sebenarnya tadi Helmi masih belum puas jika hanya bermain satu ronde, tapi setelah pelepasan Helmi yang pertama Ali meminta Helmi untuk melihat apakah Oma Diana masih ada atau tidak dan Ali berjanji akan bertanggung jawab menidurkan si Otong milik Helmi yang tidak tidur kembali padahal dia sudah muntah muntah masuk angin.
"Udah jam 9 loh mas," cicit Ali dengan tatapan puppy eyes nya.
"Ckk! aku tidak bertanya jam berapa, cepat tidurkan kembali atau aku akan menuntut mu karena berselingkuh" ancam Helmi dengan tatapan nyalang.
"Mas, kamu sudah tahu kan kalo aku masih Virgin itu berarti aku gak selingkuh mas" ujar Ali merubah posisinya menjadi duduk hingga tidak sadar jika atas dadanya terpampang jelas.
"Lagian emang kamu gak capek, tadi tuh kita mulai jam 6 lewat 15 mas dua jam lebih kita begituan kamu gak capek?" tanya Ali bingung dengan Helmi yang seperti nya masih tak percaya
"Apa kau akan terus menggodaku?" tanya Helmi menaikkan sebelah alisnya
"Maksudmu?" tanya Ali bingung, sedetik kemudian Ali kembali terkejut saat Helmi membuang seluruh celananya hingga memperlihatkan si otot yang besar berurat dan pastinya padat berdiri menantang.
Ali cengo tak percaya, tadi ua tidak sempat melihat milik Helmi yang On. Ia sungguh takut dengan si Otong sat ini yang melambai lambai minta dituntaskan.
"Sebesar itu? pantas saja sakit" lirih Ali dengan tatapan yang tak lepas dari pusaka abadi milik Helmi. Sedangkan Helmi ia hanya tersenyum menyeringai berjalan menghampiri Ali yang belum sadar dan menuntun tangan Ali agar menyentuh miliknya.
__ADS_1
"Tapi kamu suka kan? nikmat yah?" Goda Helmi yang langsung membuat Ali kelabakan namun sejurus kemudian Ali tak bisa melawan karena lagi lagi Helmi menyerangnya dengan brutal.