Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
57.Jalan Skenario


__ADS_3

Berbeda hal nya dengan pasangan suami istri yang sedang di mabuk cinta, seorang wanita tampak memikirkan berbagai rencana agar dapat memisahkan mereka. Ia telah menyusun berbagai rencana untuk memisahkan pasangan suami istri yang seharusnya dialah yang berada di posisi itu bukan wanita yang saat ini berstatus sebagai istrinya.


"Rencana kita harus berhasil ini adalah peluang untuk ku, nanti jika dia telah datang kabari aku, aku akan menyimpan satu anak buahku untuk mengatur semuanya" ucap Angel dengan tersenyum smirk, ia benar benar terobsesi dengan memiliki Helmi seutuhnya, ia tidak terima jika dirinya di campakkan hanya karena gadis kampungan seperti Ali.


Ia juga cukup kecewa pada Ali, dimana saat berada di pondok Ali menjadi sosok kakak meskipun umurnya lebih muda, ia masih ingat betul Ali lah yang selalu menyemangati dirinya agar tidak terlalu menekan diri sendiri. Ali juga yang menguatkannya saat ia ingin kabur Ali selalu mengatakan jika dia hanya perlu menjalani hidupnya di pondok dengan suka cita.


Terkadang Ali mengajaknya pergi ke kebun untuk belajar menanam sayur sayuran, Ali juga sering mengajaknya menongkrong di jendela guna melihat santri putra yang sedang patrol atau piket di bawah bangunan santri Putri.


"Jangan salahkan aku Al, kamu yang memulai duluan. Kamu yang menerima Helmi tanpa berpikir jika kamu tahu aku sangat mencintainya, apakah ketulusan mu juga palsu, seperti halnya wajahmu yang terlihat naif ternyata munafik" Angel cengengesan menertawakan dirinya yang tertipu oleh wajah naif Ali, ia sangat menyesali moment Dianna dirinya selalu menceritakan percintaan Helmi dengannya yang begitu erotis dan menggairahkan, kadang ia juga memperlihatkan foto foto Helmi dan dirinya yang sengaja ia cuci guna menghilangkan sedikit kerinduan.


Kadang kita tahu siapa kawan dan siapa lawan, bukan penjajah yang membawa senjata Laras panjang yang menakutkan melainkan musuh dalam selimut yang selalu kita agung agungkan kebaikan nya.


🦋


Setelah acara Dinner selesai, pasangan suami istri yang sedang di mabuk cinta langsung pindah tempat ke atas ranjang mereka. Tanpa membuang waktu sang suami melesakkan si Otong ke dalam si Anida milik sang istri, mengajaknya menikmati indahnya surga dunia hingga mencapai puncak nirwana.


"Maaf aku membuatmu lelah lagi" ucap Helmi setelah mencapai puncak ******* nya, ia sungguh tidak bisa menahan diri saat istri turun dengan menggunakan lingerie berenda bewarna hitam tanpa memakai piyama nya.


"Gak papa mas, aku suka kok kalo di bikin lelah kayak gini" jawab Ali mengusap peluh di kening sang suami ya g masih betah mengukung tubuhnya.


"Sekali lagi boleh?" tanya Helmi menggoda sang istri karena ia yakin istrinya pasti mengangguk setuju.


"Boleh," benar saja apa istrinya setuju dengan keinginannya, tapi ia sungguh yakin jika istrinya pasti merasa lelah.

__ADS_1


"Gak jadi deh, besok kita lembur yah?" ucap Helmi beranjak dari posisinya dan sembari mengedipkan sebelah matanya genit, lalu tangannya terulur mengambil tisu dan membersihkan milik sang istri dari percikan sisa cairan milik mereka.


Ali hanya diam saat lagi lagi suaminya membersihkan sisa perc*intaan mereka seperti biasanya, ia juga tetap diam pasrah saat suaminya membawanya ke bathroom untuk sekedar membersihkan milik mereka.


"Apa dia belum hadir?" tanya Helmi mengelus perut rata sang istri yang telah ia baringkan di atas ranjang.


Ali tersentak mendapat pertanyaan yang terdengar sepeti sebuah harapan, jantungnya berdetak cepat saat suaminya mengecup perut polosnya, ia terkesiap dengan semua perlakuan suaminya yang tiba tiba.


"Cepat hadir sayang, papah menunggumu" lirih Helmi mengecupi perut rata sang istri, lalu memakaikan kembali CD dan kacamata yang sempat ia buang secara asal.


"Maafin aku mas" ucap Ali saat suaminya merangkak naik ke atas ranjang dan menariknya masuk ke dalam dekapannya.


"Kenapa minta maaf sayang? hm?" tanya Helmi mengelus pucuk kepala sang istri sedangkan tangan satunya menarik selimut agar menutupi tubuh mereka yang hanya memakai sebagian kain saja.


Tumpah sudah air mata Ali dalam dekapan Suaminya, ia juga tidak tahu mengapa di usia pernikahan nya yang hampir satu tahun, masih belum ada tanda tanda kehamilan sepeti biasanya.


"Jangan nangis dong" Helmi menghapus air mata sang istri dengan ibu jarinya, rasanya ia tidak siap jika harus melihat sang istri meneteskan air mata karena ucapannya.


"Maafin aku, aku gak niat bikin kamu cemas sayang, aku cuma pengen tau aja, dia udah hadir apa belum" papar Helmi mencoba tersenyum untuk menenangkan sang pujaan hati.


"Mas, kita nikah udah hampir satu tahun, kita juga ngelakuin hubungan intim kayak gini sudah hampir tujuh bulan, jadi harusnya udah adalah tanda tanda kehamilan tapi ini enggak ada" ucap Ali tanpa bisa membendung air matanya yang kini luruh kembali dengan derasnya.


"Gimana kalo misalnya aku mandul?" lirih Ali dengan suara tercekat takut suaminya akan mencari tempat lain padahal bukankah Ali juga tahu jika kelakuan sang suami terbiasa keluar masuk lubang, tapi mengapa kali ini ia tidak bisa menerima jika sang suami mencari wanita lain untuk dijadikannya seorang ibu dari putranya. "Kamu pasti nyari wanita lain kan?"

__ADS_1


Helmi hanya cengengesan mendengar penuturan sang istri yang takut dan cemas dengan langkah yang akan ia ambil.


"Aku yakin kamu gak mandul, mungkin Allah lagi nguji kita aja, siapa tahu bibit aku yang gak premium" ujar Helmi cengengesan yang sontak mendapat cubitan keras di perut kotaknya. "Sakit sayang,"


"Lagian kamunya sih mas, aku ngomong serius tapi kamu malah kayak gini" rengek Ali dengan bibir mengerucut.


Cup


Helmi sungguh tak tahan melihat bibir ranum sang istri mengerucut, dengan gemas ia mengecup singkat bibir yang sedari tadi tak berhenti nyerocos, hingga membuat sang empu merengek manja.


"Ishhh,,, mass,,," rengek Ali


"Maaf sayang, lagian kamu gemesin banget sih" ucap Helmi mengelus pucuk kepala sang istri, namun sepertinya istrinya masih merasa cemas dengan arah pembicaraan mereka tadi, ia hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.


"Mungkin ini salah satu skenario tuhan untuk kita, coba kamu pikir kenapa Allah gak langsung ngasih kita momongan, salah satunya karena kita harus pacaran halal untuk tahu kekurangan kita satu sama lain, agar kita paham juga bagaimana sifat dan tabiat pasangan kita dan masih banyak lagi" ucap Helmi mencoba menjelaskan dan menghilangkan kecemasan pada sang istri


"percayalah tidak semata-mata Allah sedikit memperlambat kita untuk memiliki keturunan jika tidak ada baiknya, suatu saat kita akan berpikir, untung ajah gini coba kalo gitu gak tahu mau gimana, kita juga akan tahu bagaimana harusnya kita mensyukuri masa sekarang" lanjut Helmi bijaksana hingga membuat mata sang istri tak berkedip sedikitpun.


Ali mengangguk setuju lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami mencari kehangatan dan kenyamanan yang setiap malam ia cari cari.


"Tidur yang nyenyak sayang" ucap Helmi menguap lalu mengecup pucuk kepala sang istri dengan dekapan yang semakin mengerat.


Dalam benak Ali ia sungguh tidak menyangka jika suaminya yang ia tahu hanya penikmat malam ternyata bisa sebijaksana dan berpikiran luas seperti ini, benar kata suaminya ia harus bersyukur untuk masa sekarang. Karena saat ini ia juga mensyukuri kehidupannya saat ini, dulu ia sempat ingin menolak permintaan sang Ayah namun saat ini ia tidak menyesal bahkan sangat bersyukur dengan langkah tepat yang ia pilih meskipun perlu air mata untuk mencapai kebahagiaan nya

__ADS_1


Apakah kamu tahu jika orang yang cerdas adalah orang yang mencari tahu bagaimana istimewa dan indahnya skenario yang Tuhan berikan, seseorang yang lebih suka berpikir ini adalah sebuah kebaikan yang Tuhan berikan padanya meski jalannya tidak sesuai dengan yang ia harapkan.


__ADS_2