Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
42.Teman Maksiat


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaannya Helmi buru buru pulang dengan membawa beberapa berkas yang harus di pelajari nya untuk rapat pemegang saham besok, akhir akhir ini Helmi memang selalu pulang tepat waktu.


Namun baru saja membuka pintu mobil seseorang menepuk pundaknya dengan keras.


"Hey Brother! kemana ajah Luh? susah banget ketemu loh akhir akhir ini" ucap Verrell santai, ia merupakan teman seperjuangannya di dunia malam. "Party yok, udah lama gak main bareng di alam terbuka" lanjutnya dengan cengengesan.


"Gue udah tobat" ucap Helmi dengan bangganya menepuk nepuk punggung teman maksiat nya.


"Yah gak bisa gitu dong, kalo loh tobat tobatan bisnis gue pasti kelar sialan!" gerutu Leo menoyor kepala Helmi yang baru datang entah dari mana.

__ADS_1


"Hahah jadi do'a mampus loh" ucap Helmi balik menoyor kepala teman maksiat nya. "Lagian kalo kelar pun pendapatan Luh masih banyak, yang kelar cuma satu bisnis yang 7 lagi masih berjalan kan?" goda Helmi


"Ih syetan loh, Luh tau sendiri kan gue ping suka bisnis Club, gak mau pusing kayak loh" ucap Leo mencebik.


"Itu sih terserah loh, gue cabut yah buru buru" ucap Helmi lalu berbalik pergi, namun sebelum itu Verrel lebih dulu menahan lengannya dengan paksa.


"Loh beneran udah tobat?" tanya Verrel tak percaya dengan pengakuan pria yang terkenal dengan gila s*ex nya.


"Kapan kapan main ke apartemen gue, biar gak gabut" ucap Helmi dengan wajah serius namun dengan binar bahagia yang terpancar saat ia mengundang kedua temannya ke rumah.

__ADS_1


Verrel baru sadar saat mobil Helmi telah menghilang dari hadapannya, rasanya seperti mimpi seorang Helmi mengundangnya ke tempat pribadinya yang menurutnya sangat privasi bahkan kemungkinan besar orang tuanya pun tidak tahu mungkin hanya Oma Diana saja yang tahu.


"Le, loh yakin si Helmi gak kesurupan?" tanya Verrell menepuk bahu Leo yang sama tak percaya dengannya dengan apa yang dilihat mereka pada diri Helmi.


"Gak percaya sih, cuma aneh aja biasanya dia bakal langsung gas kalo masalah party party an, apa dia punya kesenangan yang lain kali yah?" tanya Leo dengan kening berkerut mencoba menerka hal apa yang membuat Helmi teralihkan dari kegilaan nya dengan Club malam.


"Yaelah, Luh mah mikirnya kejauhan, Luh sadar gak si Helmi nyuruh kita dateng ke apartemennya?" tanya Verrel geleng geleng kepala dengan otak bisnis Leo.


"Emang dia nyuruh yah? gue pikir itu cuma haluan gue doang?" tanya Leo tak percaya jika ajakan itu benar nyatanya bukan hanya angan-angan nya saja

__ADS_1


"Ishhh syetann! untung ajah luh temen gue, kalo bukan udah gue cincang habis Luh" umpat Verrel kesal dengan pertanyaan balik Leo, ia memilih berjalan ke arah mobilnya dibanding harus meladeni Leo yang tiba tiba lemot hanya karena bisnisnya diancam bangkrut.


"Verrell sialan! tungguin gue" teriak Leo berlari ke arah mobil Verrel yang sudah mulai menyala. "Sialan, kalo loh balik duluan gue harus naik taksi gitu hah?!" bentak Leo setelah duduk di kursi penumpang.


__ADS_2