
Setelah mendapatkan informasi yang David berikan, Helmi segera datang ke tempat di mana semalam ia dan Jack bertemu benar apa yang dikatakan Jack, ia melihat jelas rekaman Video yang dikirim David ke Email-nya. Ia datang ke sana untuk menemui pelayan yang berani mengusiknya.
"Cepat bawa bajingan itu kemari!" teriak Helmi setelah masuk ke ruang dimana manajer hotel berada.
"Maaf Tuan, dia siapa yang anda masuk?" tanya sang manager hati hati, ia takut terkena imbas dari amukan pria di hadapannya, dapat dilihat jelas dari wajahnya jika ia sedang menggeram menahan amarah.
"Pelayan ini Tuan" ujar David memberikan Vidio berisi rekaman di mana salah satu waiters memasukkan serbuk yang di simpan di salah satu saku celananya.
"Maaf Tuan, biar saya periksa dulu sepertinya saya baru melihat pelayan ini," ujar sang Manajer lalu membuka salah satu file di laptopnya.
Setelah cukup lama mencari sang manager tetap tidak bisa mendapatkan data orang yang ada di layar tablet yang di perlihatkan David tadi.
"Cepat ke ruangan ku sekarang!" titah sang manager menelepon senior pelayan yang pastinya tahu siapa pria yang ada di layar tadi.
"Tunggu sebentar tuan, saya tidak menemukan data pria di ponsel tadi," ujar sang manager merasa sedikit bersalah.
Tok tok tok
"Masuk!"
Tanpa membuang waktu Helmi membanting tabletnya ke hadapan sang pelayan senior hingga membuat mereka yang berada di sana ketakutan.
"Siapa pria itu? kau pastinya tahu dia siapa karena kau pelayan senior di sini"
"Ma-maaf Tuan, itu adalah salah satu teman pelayan yang sedang cuti, dia menggantikan temannya yang sedang sakit agar tidak di pecat" ucap sang pelayan.
"Lalu kamu percaya begitu saja?" tanya Helmi geram, sedangkan sang pelayan hanya mengangguk.
__ADS_1
"BODOHH!!!!!" bentak Helmi spontan berdiri, ia merasa kesal dengan pelayanan di hotel ini. Dengan cepat ia segera pergi meninggalkan ruangan itu setelah meminta David untuk memberikan mereka pelajaran agar kesalahan seperti ini tidak terjadi lagi.
"Tarik saham kita Dav" ucap Helmi sebelum melenggang pergi.
Sedangkan si manager dan pelayan hanya bisa pasrah dengan nasib mereka, ini semua memang salah mereka yang teledor hingga membuat sang penguasa marah besar.
Sebenarnya Helmi ingin pergi ke tempat Angel untuk memberikannya pelajaran yang sangat berani membawanya ke kamar Hotel. Ia sangat yakin 100% jika amarah sang istri ada hubungannya dengan ini, Helmi pun yakin jika Angel pasti jelas melecehkannya ia bersumpah tidak akan memaafkan perbuatan Angel padanya.
"Istri saya gak ke sini pak?" tanya Helmi pada pak Yanto yang sedang melayani para pembeli yang lumayan banyak, yah angkringan milik istrinya kini telah ramai di kunjungi pembeli dengan berbagai usia, mulai dari anak anak sampai tua, karena di sana juga menyediakan pancake dan puding untuk sekedar mengemil.
"Tidak pak, tadi pagi neng Ali ngabarin bapak kalo dia gak masuk kerja katanya lagi gak enak badan" ujar pak Yanto.
Setelah mengetahui jika istrinya tidak ada di tempat kerja Helmi segera memacu kembali mobilnya menuju apartemen tempat tinggalnya.
Saat sampai di sana ia mendengar suara tawa wanitanya yang begitu renyah entah dengan siapa ia berbicara yang jelas istrinya nampak bahagia berbincang dengan lawan bicaranya. Tanpa membuang waktu Helmi segera masuk ke dalam dengan terburu-buru.
Helmi hanya tersenyum lebar saat kedua orang yang paling di cintainya sedang berbincang hangat di sana, hatinya terasa damai saat melihat bagaimana Oma nya terlihat sangat bahagia bersama sang istri.
"Oma,,, kenapa tidak mengabariku jika akan kemari?" tanya Helmi memeluk sang Oma lalu mencium pipinya.
"Hentikan Hel,, Oma tidak Sudi di kecup oleh mu yang sudah Tua," ujar Oma Diana yang merasa cucunya tidak berubah sama sekali, ia akan berubah menjadi anak kucing jika berdekatan dengan Oma nya ataupun dengan istrinya, berbeda hal nya jika bertemu orang lain ia akan berubah menjadi induk macan yang tidak bisa di senggol.
"Untuk apa kemari?" tanya Helmi lalu berpindah posisi duduk di samping sang istri dan menarik tubuh istrinya agar bisa ia rangkul.
"Massss,,," Ali menatap tajam suaminya yang tidak sopan pada neneknya sendiri.
"Oma kemari hanya ingin tahu bagaimana kabarnya cucu mantuku, Oma sudha tidak sabar menimang buyut Oma nanti" ujar Oma Diana dengan mata yang berbinar dan tatapan menerawang jauh.
__ADS_1
Ali hanya tersenyum memaksakan, ia juga cukup sedih dengan yang di alaminya ia masih belum mengandung juga meski usia pernikahan mereka sudah hampir satu tahun
"Oma, aku belum siap memiliki putra Oma, dia pasti akan mengganggu kesenangan ku dan merebut semua perhatian istriku, aku juga yakin jika aku akan di telantarkan oleh istriku karena ia sibuk mengurus baby nanti, aku belum siap menerima itu Oma" rengek Helmi memeluk lengan sang istri namun satu tangannya lagi mengelus telapak tangan sang istri yang gelisah.
"Aishhhh, anak ini. Kamu bukan anak kecil lagi Bodoh! istrimu pasti sibuk mengurus baby itu pasti maka dari itu kau harus ikut mengurus baby agar Ali memiliki sedikit waktu untuk mu, begitu saja bodoh" om Diana menghela nafas kesal dengan sikap cucunya yang di luar nalar, ia tak habis pikir dengan pemikiran cucu sata wayangnya.
"Aku belum siap Oma, apa masih tidak mengerti baru kali ini aku mendapatkan perhatian dari wanita yang seharusnya memperhatikan ku, Oma tau bukan ji----- ucapan Helmi menggantung karena sang oma yang menyela ucapannya.
"Oma tau itu, tapi pikirkan baik baik permintaan Oma, apa kamu mau melihat Oma yang tua ini mati terlebih dahulu sebelum melihat buyut nya lahir hah?!" tanya Oma Diana bangkit dari duduknya.
"Pikirkanlah baik baik, Surti ayo kita pergi" ajak Oma Diana pada asistennya yang masih betah memakan kue buatan Ali dengan terpaksa Surti bangkit merelakan kue yang masih ingin ia makan lagi.
Setelah perginya Oma Diana, Helmi memeluk tubuh sang istri dengan erat beberapa kali ia mengucapkan kata maaf sambil mengecupi pucuk kepala sang istri.
"Percayalah Tuhan punya banyak kebaikan dengan memberikan kita cobaan seperti ini" ujar Helmi menuntun sang istri agar duduk di atas pahanya dengan posisi mengapit kedua pahanya.
"Aku tau itu, salah satunya Allah memperlambat memberi kita keturunan karena mungkin salah satu dari kita masih belum siap meninggalkan masa lalu, Allah bersifat adil ia tidak mau jik putra kita akan menjadi broken home karena ke egoisan orang tuanya yang masih tidak bisa meninggalkan masa lalu hingga berujung berpisah atau sering bertengkar"
Jleb
Ucapan sang istri mampu membuat jantung nya berdebar ia tidak ingin berlama lama dalam ke salah pahaman ini.
"Sayang, aku tau kamu pasti mendapat pesan atau sesuatu tentang semalam, percayalah aku tidak melakukan itu semua" ucap Helmi menggenggam tangan sang istri sesekali ia pun mengecup punggung tangan sang istri yang menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Seperti mendapat Foto foto intim mu dengan Angel bagaimana gilanya Angel di atas tubuhmu dan bagaimana juga tangan mu yang tak tinggal diam bereaksi disana?" sinis Ali tersenyum remeh.
"Sayang aku bersumpah tidak melakukan itu semua aku berani mati, meskipun ia itu semua dalam keadaan aku yang tidak sadar, Angel licik sayang, dia menjebakku" ucap Helmi mencoba meyakinkan sang istri dengan tatapan memohon.
__ADS_1
"Aku tidak bodoh" sinis Ali lalu beranjak dari posisi duduknya menatap sang suami dengan tatapan tajam dan tangan yang dilipat di dada.