
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, namun sang istri masih tidak ada tanda tanda akan bangun. Setelah pulang semalam Helmi tidak tidur kembali ia memilih mengerjakan beberapa berkas yang harus ia kerjakan.
"Sayang bangun yuk,,,," panggil Helmi menggoyangkan lengan sang istri dengan halus.
"Kan aku udah bilang, aku lagi datang bulan jadi gak usah bangunin aku, aku tuh masih ngantuk" gerutunya tanpa berniat membuka matanya.
Helmi hanya menghela nafas saat mood sang istri tiba tiba buruk ia tahu jika wanita datang bulan mood nya sangat cepat berubah-ubah ia kemudian bangkit dari duduknya lalu mengecup kening sang istri.
"Aku berangkat dulu yah sayang," ujar nya.
"Emang kamu gak capek jam segini udah mau berangkat lagi?" tanya Ali sinis, membuka kelopak matanya lalu menyilangkan kedua tangannya di dada dengan posisi terlentang.
"Enggak kok, mana ada aku capek, kalo lembur bareng kamu baru kayaknya capek" ucapnya cengengesan dengan tangan mengusap usap kening sang istri.
"Mas, wajah kamu kok tebal banget yah?" Ali tak habis pikir dengan suaminya yang saat ini meraba raba tubuhnya.
"Kamu ngomong apa sih?" tanya Helmi melirik sang istri sebentar lalu tangannya kembali fokus pada dua gundukan yang sedang di mainkan nya, tangannya terulur membuka kancing piyama sang istri hingga menampakkan dua daging favoritnya yang menyembul di bawah kacamata.
"Gak da yang mau kamu jelas------ akhhhhh
ucapannya terjeda saat sang suami meraup buah dadanya seperti bayi yang kehausan. Ia tidak ingin terbuai dengan godaan sang suami yang saat ini menggila dengan kedua buahnya sampai sampai ia kewalahan tak bisa menahan suara laknatnya saat sang suami memainkan area paling sensitif di bawah sana.
"Mass-------- rengek Ali menarik rambut sang suami dengan nafas ngos-ngosan.
"Kenapa sayang?" Helmi mendongak ke atas menatap sang istri dengan tatapan berkabut tertutup oleh gairah yang membuncahnya.
"Aku lagi datang bulan inget" ucap Ali menatap tajam sang suami yang hanya tersenyum tanpa malu.
__ADS_1
"Aku tau, tapi bukankah kamu hanya melarang ku menikmati antara pusar dan lutut, kalo dada boleh boleh aja kan?" tanya Helmi yang masih tidak peka dengan tatapan tajam sang istri.
Plak
Ali menampar wajah sang suami saat suaminya kembali meraup buah kembarnya tanpa ampun.
"Rupanya kamu hanya berkilah" ujar Ali tersenyum smirk sambil membelai pipi sang suami yang sempat ia tampar.
"Sayang sakittt,,," rengek Helmi lalu merebahkan kepalanya diantara dua gunung yang jadi favoritnya.
"Kamu pinter yah mas, banyak banget alasannya, otak kamu juga cerdas mencari cara untuk berkilah" sinis Ali beranjak bangun dari posisinya.
"Udah mau jam 8 mas, cepet sana," ujar Ali lalu masuk ke dalam bilik kamar mandi.
Helmi yang ingat jika harus menemui Jack kembali buru buru melenggang pergi dati sana setelah berpamitan pada sang istri. Tadi subuh Helmi memang menghubungi Jack untuk bertemu kembali hari ini di kantornya, Jack setuju dan memberitahukan jika ia punya waktu luang pada pukul 8 pagi.
Sampai di sana, ia langsung masuk ke dalam ruangannya. Jack dan David yang sadar pintu di buka dari luar segera berdiri menyapa sang pemilik ruangan.
"Selamat pagi Tuan," ujar Jack dan David bersamaan sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Hm, ambilkan aku kopi dan air" titahnya pada David yang langsung di angguki.
"Duduklah, maaf aku terlambat" ucap Helmi pada Jack yang masih berdiri.
"Maaf Tuan, jika boleh tahu hal penting ap yang ingin anda bicarakan?" Jack gugup ia takut Helmi membatalkan kerja samanya, bagi Jack bisa bekerja sama dengan Helmi adalah sebuah kehormatan yang sangat ia nantikan.
"Apa yang terjadi semalam?" air wajah Helmi cepat berubah, ia bertanya dengan suara dingin dan mata elang yang menatap tajam sang lawan bicara.
__ADS_1
Jack hanya bisa menelan ludahnya kasar saat di lempari tatapan tajam oleh sang penguasa. Badannya bergetar tapi sebisa mungkin ia menahan Tremor yang menyerangnya.
"Saya tidak mengerti Tuan?" ucap Jack yang memang tidak mengerti kemana arah pembicaraan pria di hadapannya.
"Kau tahu dengan siapa kau berhadapan?" tanya Helmi menggertakkan gigi nya hingga menimbulkan sedikit suara, "Jangan hanya karena semalam saya beramah tamah pada anda, anda menjadi tidak tahu malu,"
"Katakan apa yang kau lakukan hingga aku berada di dalam kamar Hotel?!!!!" tanya Helmi berteriak hingga menggema di seluruh ruangan.
"Hah?!" Jack di buat melongo ia jelas tidak mengerti mengapa Helmi bertanya seolah ia tahu segalanya, apa Helmi tidak sadar jika kekasihnya lah yang membawa dia ke dalam kamar. Tak ingin kena amukan Jack mulai sedikit menjelaskan meski peluh membanjiri wajahnya.
"Tuan, saya juga tidak mengerti mengapa setelah anda menyelesaikan makan malak bersama anda merasakan pusing kepala, hingga anda mencoba mencari pegangan untuk menahan bobot tubuh anda" paparnya.
"Saya juga panik Tuan, saya berniat meminta bantuan pada anak buah saya, namun seseorang menghentikan niat saya," lanjutnya.
"Lalu?" tanya Helmi masih penasaran ia tidak akan mudah percaya dengan ucapan rekan bisnisnya bisa saja rekannya menusuknya dari belakang.
"Kekasih anda datang bersama para bodyguard nya dan membawa anda ke dalam lift menuju salah satu kamar di sana," ucap Jack yang mulai ketakutan apalagi saat bibir Helmi mulai terbuka seolah akan mengeluarkan kata, ia buru buru berbicara sebelum pria di hadapannya memotong ceritanya.
"Saya juga sudah melarangnya, karena saya ragu dan tidak percaya, saya terlalu lama berada di luar jadi saya tidak tahu yang mana kekasih anda, karena yang saya tahu anda tidak mungkin memiliki kekasih, namun saat ia menyuruh saya bertanya pada orang orang yang menatap saya, saya mulai percaya dengan jawaban mereka yang mengatakan jika itu benar, saya tidak bertanya hanya pada satu orang melainkan ke beberapa orang yang sedang makan malam di sana" lanjutnya dengan nafas ngos-ngosan namun merasa lega karena ia berhasil menyelesaikan ucapannya.
"Apa wanita ini?" tanya Helmi memperlihatkan sosial media milik Angel wanita yang pernah menjadi partner ranjangnya.
"Betul Tuan, wanita ini yang membawa anda, dan mungkin ini ada hubungannya juga dengan kepala anda yang terasa pusing dan tubuh anda yang tiba tiba ambruk tak sadarkan diri" ujar Jack menganggukkan kepalanya.
"Thank you bung, maaf aku membuang waktu mu sia sia, aku percaya dengan penjelasan mu, tapi jika terbukti anda berbohong, jangan salahkan saya jika anda harus menjadi hidangan peliharaan saya"
Jack hanya meringis ngeri mendengar ancaman dari pria di hadapannya, ia tahu jika yang sedang mengancamnya tidak akan bermain-main dengan ucapannya, untuk itu ia juga merasa sangat ketakutan.
__ADS_1