
Hubungan yang tadinya kaku kini mulai sedikit mencair, meskipun terkadang masih ada rasa belum terbiasa yang menyerang mereka.
"Hmm" Helmi berdehem menetralisir kan kegugupannya, entahlah sejak aksinya yang selalu mencuri kesempatan terpergok oleh sang istri Helmi selalu merasa gugup dan masih menyisakan malu jika berhadapan langsung dengan sang empu.
"Mengapa selalu memasak makanan berat di pagi hari?" tanya Helmi mencoba mencari topik obrolan, karena memang sang istri selalu memasak repot setiap pagi.
"Aku tuh tipikal orang yang belum makan kalo gak masuk nasi, yah jadi tiap pagi aku tuh harus makan nasi" jawab Ali tanpa mengehentikan aksinya yang sedang menata makanan di atas meja.
"Tidak apa kan kalo kamu makan masakan berat setiap pagi? apa perlu aku buatkan roti saja?" tanya Ali menawarkan diri.
"Tidak usah, aku akan makan ini saja" jawab Helmi yang sebenarnya sedikit keberatan mengingat makanan yang di masak Ali di pagi hari adalah makanan berlemak, dia takut tubuh kekarnya akan di selimuti lemak.
Sambil menunggu Ali yang masih berkutat di dapur Helmi meraih gadgetnya dan menggulir email di gadget nya. Jika sedang fokus seperti ini Helmi berkali kali lipat lebih tampan di bandingkan saat berbicara yang pastinya membuat jiwa kita terluka.
"Ini mas," ucap Ali memberikan satu sandwich pada sang suami dan segelas susu coklat.
Helmi menatap tak percaya dengan apa yang Ali lakukan, bibirnya sedikit terangkat saat sadar jika sang istri begitu peka terhadap keinginannya, padahal ia sudah mengatakan tidak usah repot-repot.
__ADS_1
"Mengapa membuatkan aku sandwich? aku sudah bilang akan makan makanan ini" ucap Helmi menunjuk cah kangkung dan ikan goreng dihadapannya.
"Emang kamu mau kalo tubuh kamu nanti banyak lemakan?" tanya Ali menggoda sang suami dengan menaik turunkan alisnya.
"Emang kenapa kalo banyak lemakan? lagipula meskipun lemak menempel di tubuhku aku yakin kadar ketampanan ku tidak akan berkurang" jawab Helmi dengan penuh percaya diri sambil memasukkan sandwich ke dalam mulutnya.
"Tapi aku gak mau kalo kamu berlemak mas, nanti kamu gak kuat lagi" ujar Ali yang langsung membuat sang suami tersedak oleh makanan nya sendiri.
Uhuk uhuk
"Makanya kalo makan hati hati mas," ujar Ali tanpa meraa bersalah, menepuk nepuk punggung sang suami dan memberinya segelas air.
"Mas lanjutin makannya jangan malah bengong liatin aku kayak gitu, kenapa? aku cantik?" tanya Ali santai menyuapkan nasinya ke dalam mulutnya.
"Gak usah ngehallu" ujar Helmi tanpa menata Ali yang terlihat santai dengan mengunyah makanannya.
"Mass, aku minjem uang boleh?" tanya Ali pada sang suami.
__ADS_1
"Buat apa? emang uang di ATM habis?" tanya Helmi menatap Heran pada sang istri yang masih tidak bosan untuk mengajaknya berbicara.
"Masih ada sih, cuman ini tuh bukan buat kebutuhan aku yang kamu omongin sebelumnya. Kan mas cuma bilang kalo uang ini buat risiko sehari hari aku doang"
"Terus kenapa?" tanya Helmi menghentikan aktifitas makannya.
"Aku tuh pengen buka usaha kecil kecilan mas," ujar Ali menatap sang suami dengan lekat
"Emang uang yang aku kasih gak cukup Al?" tanya Helmi tak percaya dengan ambisi sang istri.
"Cukup mas, malah lebih... Aku tuh pengen ngilangin kepenatan ajah mas yah itung itung ngabisin waktu sama jauh bermanfaat di banding terus terusan keliling mall buat ngabisin duit" ucap Ali.
"Mau buka di ruko mana? udah dapet tempatnya?" tanya Helmi setelah sekian lama diam.
"Belum mas, tapi nanti siang aku mau lihat lihat ruko di dekat gang masuk ke sini kayaknya strategis juga" ucap Ali semangat saat mendapat lampu hijau dari sang suami.
"Bagus, kalo kamu butuh apa apa telpon aku aja, aku punya banyak kenalan tangan furnitur, siapa tahu kamu butuh buat renovasi toko kamu" ujar Helmi sebelum beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Ah makasih mas," ucap Ali memeluk Helmi dengan rasa haru yang membuncah.