
Saat tiba di restoran Helmi yang tadinya ingin makan di ruang VVIP terpaksa harus mengurungkan keinginannya karena sang istri merengek tidak ingin makan di ruang VVIP dengan alasan di sana sangat sepi, tidak ada yang bisa dilihat. Padahal jika di VVIP justru pemandangan alamnya terbuka hingga menampakkan pepohonan yang rindang dan indah dengan tanaman yang terhampar luas, sebenarnya Helmi cukup tidak mengerti dengan alasan sang istri, tapi mau gimana lagi mau gak mau ia harus mau menuruti keinginan istrinya.
"Mas, mahal benget sih?" bisik Ali saat salah satu pelayan memberikan buku menu.
"Emang kamu mau makan apa?" tanya Helmi gemas dengan tingkah sang istri yang sedari tadi membolak-balik buku menu, entah makanan apa yang dicarinya.
"Minum teh aja mas, makan mah nanti di rumah ajah" ucap Ali menunjuk salah satu teh yang dibuat khusus oleh negara Inggris.
"Teh nya yang ini, kalo makannya menu makan siang best seller 2 porsi" ujar Helmi tanpa meminta persetujuan dari sang istri.
"Mas, kamu nafsu amat pesen dua porsi?" tanya Ali bingung dengan ulah suaminya.
"Lagian kenapa sih Al harus liat liat harga dulu? kamu makan tiap hari di sini aja uang ku gak bakalan habis" ucap Helmi dengan nada angkuhnya.
"Ck!" Ali mencebik kesal mendengar penuturan sang suami yang menurutnya terlalu sombong.
"Loh ini kan Helmi putranya jeng Vero kan?" tanya seorang wanita paruh baya dengan tampilan hedonnya.
"Hm," Helmi hanya berdehem dingin tanpa ingin meladeni atau sekedar menyapa wanita paruh baya yang menyapanya.
"Sayang kemari," panggilnya pada wanita cantik dan seksi yang berada di pintu lobby.
"Yes mom," ucap seseorang yang dipanggil nya.
__ADS_1
"Ini ada Helmi" ucapnya antusias.
"What Helmi?" pekiknya kegirangan. "Mana mom?" tanyanya tak sabaran hingga netranya menangkap sosok pria yang duduk tepat dihadapannya.
"Hai Hel?" sapa Nadia dengan ekspresi salah tingkah nya, sedangkan Ali hanya menatap kagum pada sosok Nadia yang terlihat sangat cantik dan mudah tersenyum apalagi tubuh Nadia sangat ramping namun tetap dengan tonjolan yang sedikit besar di beberapa tempat.
cantik
Itulah kata yang tepat untuk Nadia saat ini.
"Ternyata kamu baik juga yah gak kayak gosip di luaran sana" ucap Nadia yang entah sejak kapan sudah duduk tepat di samping Helmi yang berhadapan dengan Ali, entahlah sejak kapan Nadia duduk di sampingnya Ali pun tak menyadarinya saking terpesonanya dengan wajah Nadia yang sangat cantik.
Sedangkan Helmi hanya diam tanpa ingin menjawab ucapan ucapan Nadia yang sebenarnya mencoba mencari topik.
"Terimakasih," ucap Ali setelah sang pelayan selesai menata makanannya.
"Tante duduk aja di sini gak papa, kita sekalian makan siang bareng" ucap Ali menarik kursi di sampingnya.
"Sorry, aku tidak bisa berdekatan dengan rakyat yang tak selevel dengan saya" ucap Nyonya Silva tersenyum sinis.
Ali tidak merasa tersinggung atau sakit hati atas ucapan wanita yang masih betah berdiri di samping wanita yang kemungkinan besar putrinya.
Sedangkan Helmi raut wajahnya sudah berubah lebih dingin, tangannya terkepal menahan emosi saat wanita paruh baya yang Helmi tau teman ibunya menghina istrinya tepat dihadapannya.
__ADS_1
"Mbak, mau pesen makan apa? biar makan barengan gak enak juga kan kalo aku sama mas Helmi doang yang makan" ucap Ali masih dengan bibir yang tersenyum pada wanita muda yang masih gencar mencari topik pembicaraan dengan suaminya.
"Gak usah," ucap Nadia dengan senyum terpaksa, "Helmi baik juga yah, mau ngajak makan bareng pelayan nyah di meja yang sama lagi" ujar Nadia menatap Ali dari atas hingga bawah.
"Pergilah, kamu mengganggu acara makan istriku" ujar Helmi dingin namun tangannya mengambil Beefsteak milik Ali dan memotong motongnya jadi beberapa bagian.
"Sayang cepat habiskan" ucap Helmi yang kini sudah beralih duduk di samping Ali, sedangkan Nadia dan ibunya menatap tak percaya dengan aksi gila Helmi yang memanjakan wanita yang terlihat seperti pelayan.
"Hahah, aku tau itu hanya trik mu Hel, karena aku tahu betul selera mu seperti apa" ujar Nadia tersenyum pongah menatap Ali dengan tatapan meremehkan.
"Aku tidak peduli dengan padangan mu!" desis Helmi sinis lalu beralih menatap wajah sang istri yang hanya diam seperti wanita bodoh.
"Apa ingin aku suapi sayang?" tanya Helmi yang langsung membuat Ali terperangah namun hanya sesaat karena di detik berikutnya sepotong steak masuk ke dalam mulutnya.
"Cepat habiskan aku harus kembali bekerja" lanjutnya mengusap ujung bibir sang istri yang terkena saus dengan ibu jarinya lalu ******* bekas saus ditangannya.
"Mas, jijik" ucap Ali bergidik ngeri melihat kegilaan suaminya.
"Hel, tante pulang dulu, kapan kapan main ke rumah yah" ucap Nyonya Silva dengan bibir yang dipaksakan tersenyum ia merasa tidak nyaman dengan tindakan Helmi yang seolah lupa dengan sekitarnya.
"Sayang ayok pulang," ajaknya menarik sang putri agar bangun.
"Tapi mom," ucap Nadia yang seolah enggan pergi dari sana, namun terpaksa bangun karena sang ibu menariknya dengan kasar, "Awhh, mom sakit"
__ADS_1