
Sedangkan Helmi saat ini sedang duduk dengan begitu angkuhnya di hadapan kedua orang tuanya yang berkunjung ke perusahaan miliknya dengan mendadak.
"To The point ajah pah, sebenarnya papah mau apa?" tanya Helmi yang sedari tadi hanya diam memandang sang ayah yang berkeliling melihat seluruh ruangan yang terlihat berbeda dari biasanya.
Jika biasanya ruangan Milik Helmi bernuansa dark tanpa ada hiasan, namun sekarang berkat sang istri ruang kerjanya yang gelap kini terisi dengan sedikit hiasan yang nampak elegant. Tidak terlalu kuno seperti sebelumnya, apalagi di ruangannya terdapat beberapa foto dirinya dan sang istri yang baru baru ini ia simpan di ruangannya bekerja, dan jangan lupakan di ujung sana tepat di hadapan meja bekerja nya mengarah, terdapat sebuah Foto pernikahan nya yang amat panjang kali lebar tertempel di sana, seolah ia ingin semua orang tahu jika dirinya telah memiliki seorang istri yang sangat cantik.
"Biasanya hanya ada lukisan karya Bekinski yang kamu tempel, mengapa sekarang banyak sekali Foto foto mu dan istrimu? apa kamu begitu mencintai nya sampai semua ruangan hampir di penuhi oleh foto istri kecilmu?" tanya Tuan Nugraha tersenyum lebar, saat mengetahui jika putranya telah berubah ia yakin menantunya tidak pernah membuat putranya merasa kesepian tidak sepeti dirinya.
"Aku tidak bisa untuk tidak mencintai nya" ujar Helmi dengan tersenyum lebar menatap foto sang istri yang tersenyum lebar di panggung pernikahan sedangkan dirinya malah terlihat kaku dan dingin.
"Dia adalah segalanya bagiku, dia sangat mencintai ku dan menghargai ku, jadi tidak alasan untukku untuk tidak mencintainya" lanjutnya.
"Sadarlah Hel, dia hanya memanfaatkan uang mu saja" ujar Veronica sinis, "Dia adalah menantu yang tak memiliki sopan santun" lanjutnya merasa belum puas karena Ali telah mencuri hati putranya yang tak pernah mencintai nya.
"Istriku bukan wanita bodoh, ia tahu kepada siapa harus sopan santun dan kepada siapa harus kurang ajar" papar Helmi tak terima istrinya dibilang tak memiliki sopan santun.
"Aku mertuanya Hel, masa Iyah dia bertemu denganku di caffè tidak menyapa sama sekali, kamu tahu apa yang dia lakukan? dia malah mempermalukan aku di sana dan membela si ja***lang Arini mati Matian padahal aku mertuanya bukan si Arini, apakah ibumu ini tidak pantas di perlakukan sopan hah?!" bentak Nyonya Veronica naik pitam mendengar pembelaan putranya yang sedikit menampar nya.
__ADS_1
Sedangkan Tuan Nugraha ia hanya diam mendengarkan ocehan sang istri karena memang kunjungannya kemari hanya mengantar sang istri yang terus merajuk ingin menemui putranya, namun tak mau sendirian istrinya meminta nya untuk menemaninya.
"Hahahahah, istriku memang cerdas" ujar Helmi menjentikkan jarinya puas, ia malah penasaran bagaimana garangnya wajah Ali saat membela Nyonya Arini sedikitpun ia tak memikirkan perasaan atau tanggapan ibunya yang kini menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Hel, are You Crazy Son? Mamah diperlukan tidak baik di sana, sedangkan kamu malah seolah puas dengan tindakan istri Sialan mu" ucap Nyonya Veronica dengan mata melotot yang hampir keluar
"Lalu, apakah Mamah mau ia membelamu di sana? istriku tidak bodoh, ia membela Nyonya Arini pasti ada alasannya, bukankah kamu tak menganggap istriku menantumu?"
"lalu kenapa mamah ingin Ali membela mamah di caffè? hanya untuk mempermalukan istriku di sana bukan? aku sudha tahu kemana arah pembicaraan mamah, mamah tak Sudi memiliki menantu seperti Ali, dan jika sekali saja Ali memanggil mu dengan kata 'mah' aku yakin 100% mamah akan mengatakan 'siapa kamu? jangan pernah bermimpi mendapatkan putraku, dan jangan pernah sekali pun memanggilku mah' begitu bukan?"
"Terlalu dramatis jika harus meladeni sifat mamah yang tak pernah mau berubah, berhentilah mengejek atau merendahkan orang hanya karena mamah merasa suami dan putra mamah hebat, semua orang menertawakan mamah di belakang mamah, jadi berhentilah bersikap angkuh pada keluarga sendiri" ujar Helmi lalu beranjak dari sofa tempatnya duduk.
Helmi yang mendengar pembicaraan sang mamah menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya menghadap sang mamah dan menatapnya dengan tatapan meremehkan. Hatinya sudah terlalu keras untuk menghargai perjuangan mamah dan papah nya.
"Jika sebelum aku lahir ke dunia bisa memilih, aku tidak ingin dilahirkan dari rahim wanita seperti mu" ucap Helmi menatap tajam sang mamah dan bibir tersenyum mencemooh.
"Helmi!!!" bentak Tuan Nugraha yang sedari tadi hanya diam, ia tak menyangka jika putranya akan mengatakan kata kata yang pastinya membuat hati sang istri tersakiti.
__ADS_1
"Ini yang tidak aku sukai dari papah" ujar Helmi menunjuk nunjuk sang ayah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Dari dulu papah gak pernah bertanya ada apa dan kenapa? papah hanya langsung membentak dan menghukum ku hanya karena aduan mamah, papah tahu? selama ini aku diam bukan berarti baik baik saja pah" rubuh sudah pertahanan Helmi yang tak ingin menangis di hadapan orang tuannya.
"Papah tahu? sejak kecil dulu aku memang selalu menghancurkan barang barang mamah, bukan karena aku nakal seperti aduan mamah pah, aku hanya ingin ditemani bermain sebentar" ucapnya dengan suara bergetar dan tenggorokan yang tercekat.
"Tapi kalian? kalian tak membiarkan aku merasakan bagaimana hangatnya memiliki orang tua, aku sepeti anak yang tak memiliki orang tua jika tidak ada Oma, papah menghabiskan waktu hanya untuk bekerja bekerja dan bekerja, sedangkan mamah dia selalu sibuk dengan dunia sosialita nya yang tidak jelas. Jikapun papah libur, papah dan mamah hanya akan berlibur berdua tanpa berniat membawaku pergi bersama, apa kalian pikir aku bahagia hanya karena uang yang kalian penuhi di kehidupanku?"
"Aku tahu mamah yang mengandungku, tapi putramu tidak melihat bagaimana perjuangan mu selama mengandungku, putramu belum lahir. Jika memang mamah ingin aku menghargai mu setidaknya tunjukkan saat aku sudah lahir jika kalian benar benar orang tuaku bukan malah mengacuhkan ku"
"Aku Pun seorang anak yang menginginkan pelukan orang tua di saat malam hari yang penuh dengan petir. Kalian hanya membiarkanku tumbuh di pelukan seorang wanita yang sudah tua namun masih berusaha untuk menjadi sosok orang tua bagi cucunya, jadi wajar saja jika bagiku aku tak memiliki seorang ibu dan ayah, aku hanya memiliki Oma dan hanya Oma,"
"Maaf aku tidak bisa menghargai perjuangan kalian, jika kalian mau, aku akan membayar semua uang yang papah keluar kan hanya untuk membesarkan ku,"
Hati Ali begitu merasa iba saat mendengar semua penuturan Helmi, seorang anak yang sangat merindukan pelukan hangat yang seharusnya orangtuanya berikan namun tidak bisa karena ke egoisan mereka yang terlalu menyibukkan diri demi kepentingan mereka sendiri.
Ali bisa merasakan bagaimana sakitnya saat seorang ayah hanya mendengarkan aduan istrinya tanpa mendengarkan penjelasan dari pihak putranya, padahal dia seorang ayah dan seorang suami, harusnya ia mendengarkan penjelasan putranya pula.
__ADS_1
Tidakkah tuan Nugraha tahu? jika bukan pada orang tua kepada siapa lagi seorang anak harus mengadu, pria adalah seorang pemimpin apalagi setelah memiliki istri dan anak, ia harus benar benar bisa bersikap adil pada keduanya.
Percayalah anak tidak mungkin bersikap demikian jika tidak ada alasannya, seorang anak akan tumbuh bagaimana dengan situasi dan tanggapan sekitar nya. Mereka hanya anak anak yang masih bingung mencari arah dan haus akan sebuah kasih sayang jadi jangan salahkan mereka saat mereka salah mengambil arah. Sadarlah orang buta akan tersesat jika tidak ada yang menunjukkan arah padanya.