Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
17.Gusar


__ADS_3

Helmi mondar mandir di depan pintu rumah, pikirannya gusar memikirkan kenapa Ali masih belum pulang di jam yang sudah menunjukkan pukul 20:00 mau menelepon pun Helmi tak punya Nomor telpon Ali. Bisa saja dirinya meminta nomor telpon Ali pada Oma Diana, tapi masa Iyah Oma Diana harus tahu jika pernikahan mereka tidak baik baik saja, bisa bisa Oma akan memaksa mereka tinggal di sana. Tapi saat memikirkan mereka harus tinggal di sana entah mengapa membuat Helmi senyum senyum sendiri dengan gerakan cepat ia segera menyambar handphonenya di atas sofa.


Cklek


Yang di tunggu akhirnya datang, harusnya Helmi senang karena seseorang yang membuatnya gusar kini telah ada di hadapannya. Tapi justru hatinya menolak dan menggerutu kesal.


"Sial! giliran mau laporin ke Oma dia malah datang, dari tadi kemana ajah tuh bocah"


"Mas,," Ali melambai-lambai kan tangannya di depan wajah Helmi yang malah bengong dengan tatapan kesal.


"Hahh? mmmm,,,, apa?" tanya Helmi kikuk.


"Kamu kenapa sih dari tadi kayak yang linglung deh, aku panggil panggil gak nyahut, Kamu budeg?" tanya Ali mengernyit.


"Enak ajah, orang sesempurna gue budeg," umpat Helmi lalu pergi berlalu dari sana meninggalkan Ali dengan sejuta pertanyaan.


"Aneh" gumam Ali lalu masuk ke dalam kamarnya yang memang berada di lantai bawah.


"Ah lelahnya" gumam Ali merebahkan badannya di atas ranjang. Bagaimana tidak lelah, dari siang berkeliling mall namun Devi hanya membeli satu makanan yang letaknya di lobby utama tempat pertama yang mereka injak. Tapi dengan gilanya Devi mengajak Ali berkeliling mall masuk ke outlet satu ke outlet lainnya memilih milih barang seperti mau membayar namun berujung di kembalikan ke tempat semula. Sebenarnya Ali cukup kesal juga, Devi menguasai waktunya tidak tahukah Devi jika Ali pun ingin masuk ke outlet lain selain outlet pilihan Devi. Maka dari itu Ali menunggu Devi pulang setelah mengantar Devi ke luar, Ali kembali masuk ke dalam mall membeli beberapa barang yang sudah masuk ke dalam list belanja nya.

__ADS_1


Sedangkan Helmi saat ini malah uring uringan ingin bertanya kemana saja Ali sampai baru pulang di malam hari, namun ego Helmi cukup tinggi hingga dia membiarkan semuanya menjadi pertanyaan dibenaknya.


"Ah siall!" umpat Helmi menyugar rambutnya frustasi. "Mengapa dia tidak mengeluarkan sepatah katapun? apa dia tidak tahu di mana letak kesalahannya?"


"Terserah, apapun yang kamu lakukan aku tidak peduli" kata kata yang kemarin kemarin sering ia ucapkan pada Ali kini terngiang ngiang kembali di telinga nya ia sungguh menyesal pernah mengucapkan kata kata gila itu, ingin rasanya ia menarik lagi ucapannya namun waktu tidak bisa berputar kembali bukan?


"Arghhhh, dasar bodoh! untuk apa aku memikirkannya" umpat Helmi mencoba masa bodo namun tetap uring-uringan sendiri.


Kruk kruk


Suara cacing di perut Helmi sudah mulai berdemo memaksa Helmi agar segera memberinya makan, dengan langkah yang gontai Helmi berjalan menuju dapur telat pintu kamarnya terbuka aroma nasi goreng menguar tercium lezatnya. Sampai di lantai dasar Helmi melihat seorang wanita sedang berkutat di dapur dengan memakai apron di tubuhnya. Helmi hanya terbengong-bengong benarkah itu istrinya? tapi mengapa tidak memakai pakaian seperti biasanya? ini adalah kali kedua Helmi melihat rambut istrinya tanpa kerudung, apalagi ini pertama kalinya Helmi melihat Ali yang hanya memakai celana kulot dan crop top yang di tutupi apron.


Kriettt


Helmi menarik kursi makan untuk didudukinya "Astaghfirullah hal adzhim" teriak Ali saat matanya sedikit melirik ke belakang.


"Kenapa?" tanya Helmi santai lalu duduk di kursinya, sedangkan Ali ia hanya bisa meremas apronnya guna menghilangkan kegugupan, sungguh Ali tidak berniat menggoda Helmi sama sekali, dirinya sudah terlalu kenyang mendapat hinaan makian cibiran dari Helmi jadi untuk apa Ali masih berusaha tetap kekeh tampil istimewa di depan Helmi.


"Kenapa ada di sini?" tanya Ali tanpa mengehentikan aktivitas memasaknya.

__ADS_1


"Aku sedang menunggu pesanan" jawab Helmi ketus


"Oh," ucap Ali lalu menyajikan nasi gorengnya ke dalam piring.


"Mau?" tawar Ali saat dirinya mendudukkan bokongnya di depan kursi Helmi.


"Aku tidak berselera" sialll bukan itu yang Helmi inginkan mengapa mulutnya sulit sekali untuk mengatakan mau? padahal jelas jelas bibirnya sampai mengeluarkan iler,


"Baguslah kebetulan aku hanya masak satu porsi lebih sedikit saja" ucap Ali, lalu melahap makanannya dengan fokus. Nasi gorengnya tidak habis karena memang Ali memasak lebih takut dirinya masih lapar jika masak pas Pasan.


"Mengapa sisa nasinya di masukkan ke kitchen set?" tanya Helmi bingung


"Buat besok, tinggal manasin ajah nantinya" jawab Ali lalu mencuci piring dan ajan bekasnya setelah nya Ali buru melepas apron dan membenarkan rambutnya.


Gleg


Pemandangan yang sangat gila bagi Helmi, mengapa hanya melihat Ali membenarkan rambut saja nafsu Helmi sudah meningkat berlipat ganda.


"Aku tidur duluan" ucap Ali membuyarkan traveling Helmi yang sudah berkelana ke syurga ketujuh.

__ADS_1


"Hm" jawab Helmi singkat


__ADS_2