Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
45.Pertemuan


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah yang seharusnya dikerjakan di pagi hari, namun terhambat karena bangun siang hari. Ali berniat pergi membeli beberapa barang pokok untuk alat utama jualannya.


Ali memilih salah satu swalayan yang menyediakan alat dapur komplit, setelah melihat lihat cukup lama Ali mengambil salah satu kompor kaca, tadinya ia ingin memakai kompor tanam namun urung karena akan memakan banyak waktu menyelesaikan tempatnya.


"Masih muda udah pinter pilih barang," ucap seorang wanita paruh baya, yang berdiri tepat di samping Ali ia juga terlihat sedang memilih milih macam macam sendok di sana.


"Enggak kok Tante, apanya yang pinter ini saya juga lagi bingung cari barang barang" sanggah Ali sungkan di puji oleh orang asing.


"Loh ini pilihannya bagus, model kekinian tapi simple" pujinya pada kompor kaca yang sudah Ali masukkan ke dalam trolly.


"Ah tante bisa aja" ucap Ali malu malu, sambil melanjutkan pencariannya ke arah sendok.


"Umur berapa nak?" tanyanya penasaran dengan umur Ali yang memiliki keterampilan bagus dalam memilih barang.


"20 tahun Tante," jawab Ali dengan tersenyum manis.


"Oh masih muda dong, udah pinter pilih barang lagi, pastinya pinter pilih pasangan juga kan?" goda wanita disampingnya.


"Ahh tante bisa aja, emang Iyah gitu? kalo pilihannya sama barang bagus, ngejamin bagus juga dalam milih pasangan?" tanya Ali penasaran.


"Mungkin aja, karena kamu kan udah ngerti cara milih mana barang bagus mana juga barang yang ribet, biasanya sifat gitunya ke bawa sama milih pasangan" ujarnya. "Contoh anak Tante, dia bener bener gak tau cara milih alat dapur, jangankan alat dapur cara berpakaian ajah dia nyeleneh, apalagi sama pasangan. Bisa dibilang bodoh" ucapnya dengan nada sedikit kesal namun masih bisa menampilkan senyuman nya.


"Oh ya nama kamu siapa?" tanyanya pada Ali


"Ali Tante, kalo Tante?"


"Arini," jawabnya.

__ADS_1


🦋


Setelah menyelesaikan rapatnya Helmi kedatangan tamu dari perusahaan Perkasa Group, ia pikir yang datang adalah Tuan Jhon Perkasa ternyata instingnya salah yang datang adalah pria yang pernah membuatnya kesal yaitu putranya Jefry Perkasa.


"Selamat datang Tuan Perkasa, maaf saya terlambat karena baru selesai meeting" ucap Helmi dengan senyum yang dipaksakan menjabat tangan Jefry yang sudah berdiri di sofa ruangannya bekerja.


"Tidak apa apa Tuan, saya mengerti dengan kesibukan anda" jawab Jefry tak kalah ramahnya.


"Silahkan duduk," ucap Helmi mempersilahkan pria yang kemungkinan besar 8 tahun lebih muda darinya.


"Sebelumnya saya minta maaf Tuan, karena ayah saya tidak mengkonfirmasi terlebih dahulu pada anda jika saya yang akan menemui anda ini memang sedikit mendadak" papar Jefry yang tak enak karena sedari tadi Helmi menatapnya dari atas sampai bawah.


"Hm, tidak apa apa, lagipula anda putranya mau anda atau ayah anda yang datang sama saja, sama sama Tuan perkasa" ucap Helmi dengan sedikit tawa, sedangkan Jefry hanya menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal ia cukup bingung dengan gosip di luar sana jika Helmi merupakan pria yang tak pernah berbasa basi, namun apakah benar yang ada dihadapannya kali ini benar benar Helmi apa mungkin ini kembaran nya?


Setelah membahas tentang kerja samanya di salah satu pembangunan Hotel yang sebelumnya sudah berjalan 30% Jefry memilih untuk langsung undur diri, ia benar benar merasa di buat tidak nyaman dengan tatapan menyelidik nya Helmi.


"Tuan saya pamit dahulu, terimakasih atas waktunya dan saya senang bekerja sama dengan anda" ucap Jefry mengakhiri pertemuan dengan menjabat tangan Helmi.


Setelah mengantar Jefry sampai ke luar, Helmi buru buru masuk ke dalam ruangan mencari ponselnya entah berada di mana.


"Sial, dimana ponsel milikku?" gerutu Helmi mengobrak Abrik meja kerjanya, namun saat tangannya tak sengaja menyentuh saku celananya ia baru sadar jika sedari tadi ponselnya berada di sakunya.


"Ah ****, ternyata ini" ucapnya lalu membuka layar ponsel dan menekan aplikasi kamera,


"Bukankah aku tetap tampan?" monolog Helmi mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya dengan mengaca di layar kamera ponselnya.


"Tapi mengapa tadi saat dengan si bajingan itu aku terlihat tua?" tanyanya pada diri sendiri lalu menghembuskan ponselnya ke meja, dan memijat pangkal hidungnya yang tiba tiba merasa pusing dengan keadaan.

__ADS_1


Brugh


"Sorry," ucap Jefry saat dirinya menabrak tubuh seorang wanita tepat di loby perusahaan dekat meja resepsionis.


"Gak papa its okey," ucap sang wanita mengangkat wajahnya ke atas, sedetik kemudian kedua orang berbeda kelamin itu sama sama menunjuk terkejut.


"Kamu,,," ucapnya berbarengan.


Hahahhah


Tawa Jefry pecah saat wanita yang ditabraknya adalah wanita yang selalu membuatnya gagal pokus dan susah tidur setiap waktu, Ali yah wanita lembut yang mampu memporak porandakan perasaan pria.


"Ngapain di sini?" tanya Ali bangkit lalu menepuk nepuk pantatnya yang terkena debu.


"Loh harusnya aku yang tanya ke kamu, ngapain ke sini?" tanya balik Jefry.


"Ngelamar kerja" jawab Ali ketus.


"Udah aku bilang Al, kalo mau kerja mending di perusahaan aku," ucap Jefry kesal.


"Perusahaan kamu? emang punya?" tanya Ali meledek.


"Maksud aku perusahaan papah, cuman kan nantinya milik aku juga" jawab Jefry sombong dengan tangan yang dilipat di dada.


"Aishh sombongnya," ucap Ali menggeplak lengan Jefry dengan tertawa.


"Aku pergi duluan yah Al, papah aku udah nelpon, nanti kalo kamu gak di terima di sini telepon aku yah? masih ada kan kartu namanya? kalo enggak chat di Instagram aku ngefollow Ig kamu loh" paparnya mengedipkan sebelah matanya genit.

__ADS_1


"Ah sialnya kehidupan di follow sama buaya," jawab Ali dengan tawa renyah.


"Next time Al gue cabut dulu" ujar Jefry lalu berlalu dari sana.


__ADS_2