
Sudah pukul 10 malam tapi Helmi masih belum menonjolkan batang hidungnya juga, entah kemana perginya pria yang berstatus sebagai suami Ali hingga belum pulang sampai malam hari.
Ali meringkuk di atas sofa sambil berselancar di media sosial nya, dia memang cukup banyak memiliki pengikut di Instagram nya, hanya saja pengikutnya tidak sebanyak para selebgram hanya beberapa ratus saja. Ali berencana akan menggunakan akun sosmed nya untuk menjual Desert jualannya.
Bukan berarti uang pemberian Helmi tidak cukup menyukupi kebutuhan hidupnya hanya saja Ali ingin mencari kesibukan untuk menghilangkan kepenatan nya yang menjadi ibu rumah tangga tak berfaedah.
cklek
Ali buru buru bangkit dari posisinya, mengambil Alih tas kerja Helmi dan mencium takzim punggung tangan kanannya.
"Kenapa baru pulang mas? padahal ini udah malam, apa banyak pekerjaan hingga kamu harus lembur terus?" tanya Ali beruntun tanpa mendapat jawaban dari Helmi.
"Tadi siang aku kirimin dessert bikinan aku ke David, kamu coba gak?" tanya Ali tetap mengekori Helmi dibelakangnya.
"Tadinya aku mau kirim atas nama kamu, cuman kan kalo pake atas nama kamu harus jelas kamu pesen makanan atau enggak. Takut jebakan dari rival kamu kan jadi ribetlah, sebenarnya enggak ribet kalo aku punya nomer telpon kamu mas, hanya saja kamu tau sendiri aku gak punya nomer telpon kamu, Jadi aku kirim ke David asisten kamu" ujar Ali panjang lebar menjelaskan situasi yang sebenarnya tidak penting dijelaskan, namun bagi Ali itu adalah sebuah keharusan bagi seorang istri menjelaskan apapun yang di lakukan nya pada sang suami.
__ADS_1
"Maaf yah mas, aku gak izin sama kamu juga" ucap Ali akhirnya menyimpan tas kerja Helmi di atas nakas lalu menyiapkan air hangat dan baju tidur untuk Helmi.
Sebenarnya hati Helmi cukup berbunga bunga saat mendengar penuturan dari istrinya yang selalu dia abaikan, merasa waktu yang dilewatinya menjadi berwarna dengan ucapan ucapan sang istri.
Jantungnya berdegup, saat sesekali Ali melemparkan senyuman khasnya di saat mengerjakan tugasnya sebagi istri.
"Kamu udah makan malam belum mas?" tanya Ali saat melihat suaminya mulai melepaskan atribut yang menempel di tubuhnya.
"Tidurlah, apa kau tidak pegal terus bicara dari tadi?" tanya Helmi dingin, Ali hanya tertawa cekikikan.
"Kenapa kau malah tertawa?" ucap Helmi salah tingkah dengan respon yang Ali berikan.
"Lucu aja mas, kamu tuh jarang nyahut, ataupun nanya. Intinya jarang bersuara, tapi sekalinya ngomong pedes banget sih mas? mau di daftarin les privat cara bersosialisasi yang bener gak mas?" ucap Ali menggoda suaminya yang hanya cengo.
"Aku panasin makanannya yah? aku ke bawah dulu mas" ucapnya pamit lalu berlalu menghilang dari pintu.
__ADS_1
Helmi baru menampilkan senyum lebarnya saat Ali sudah menghilang dari balik pintu.
Setelah menyelesaikan mandinya Helmi turun ke bawah karena perutnya yang mulai keroncongan sedari tadi. Dari bawah sana Helmi dapat melihat istrinya sedang sibuk menata makanan di atas meja, ada rasa haru saat dirinya di prioritaskan oleh orang yang terikat hubungan dengannya.
"Mas makan sendiri yah, aku ngantuk" ucap Ali mencoba menahan rasa kantuk yang mulai menyerangnya. "Maaf gak bisa nemenin kamu makan, aku ke kamar duluan yah nanti kalo udah makan cuciannya simpen di wastafel aja biar nanti pagi aku cuci" pesannya sebelum masuk ke bilik kamarnya.
Helmi tidak mempermasalahkan itu, lagipula dia dapat melihat bagaimana istrinya kelelahan seharian ini. Jadi Helmi bisa memakluminya.
Sebenarnya Ali masih ingin menggoda Helmi yang mau memakai baju pilihannya, tapi rasa itu terkalahkan eh rasa kantuk yang menyerangnya Ali lebih memilih membaringkan tubuhnya dibanding menggoda suaminya.
Setelah melahap habis makanannya Helmi menyimpan piring bekas di atas wastafel namun urung, ada rasa ingin sedikit membantu meski hanya membantu mencuci piring bekasnya sendiri.
Sebelum menaiki tangga langkah Helmi tiba tiba membawanya ke pintu kamar Ali yang tidak tertutup rapat, Helmi sedikit mengintip istri kecilnya yang sudah tertidur pulas tanpa memakai selimut. Hati kecilnya menyuruh Helmi untuk membenarkan selimutnya, namun alih alih hanya membenarkan letak selimut Helmi malah naik ke atas ranjang dan menutup tubuh mereka dengan selimut sembari memeluk erat tubuh mungil Ali dari belakang
"Tidak ada salahnya bukan jika aku tidur di sini?" batin Helmi sebelum ikut masuk ke alam mimpi menyusul Ali.
__ADS_1