Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
49.Talking


__ADS_3

"Hai Lady's" ujar Verrel menepuk pantat Angel yang sedang duduk di meja bartender sembari menggoyang goyangkan gelas minuman di tangannya, "Loh belum tobat juga? kirain gue Helmi tobat bareng eluh,"


"Cih! Tobat, tobat apaan?" ujar Angel yang sepertinya tidak merasa risih dengan tangan Verrel yang bergerilya mulai dari pinggulnya hingga punggungnya.


"Mau bersenang senang bersamaku? aku pikir kamu butuh pelepasan untuk menghilangkan kepenatan" ujar Verrel yang kini tangannya sudah meraba ke bagian depan Angel.


"In Here our Hotel?" tanya Angel beralih duduk di pangkuan Verrel sembari mengalungkan kedua tangannya.


"Di kamar khusus ajah biar gak lama" ujar Verrel lalu meraup bibir dengan lipstik merah milik Angel, tanpa melepaskan tautan bibir mereka Verrel mengangkat tubuh Angel lalu berjalan naik ke lantai atas tepat di mana kamar yang biasa ia Helmi dan Leo pakai untuk bersenang-senang.


Yah begitulah Angel, ia mudah di ajak untuk menggapai nirwana bersama dengan pria yang dikenalnya, tanpa memiliki rasa menyesal atau berharap lebih setelah bercin*ta dengan siapapun, namun berbeda jika berhubungan dengan Helmi karena sebelumnya Angel sudah menaruh hati pada pria yang di idolakan banyak kaum wanita karena kekuatan nya di atas ranjang.


🦋


Sedangkan Helmi untuk malam ini memilih untuk tidak menyentuh sang istri, karena istrinya terlihat sangat lelah akibat ulahnya siang tadi hingga istrinya kelelahan belum lagi Ali menyiapkan persiapan pembukaan angkringan nya.


"Yang, mulai buka angkringan mau kapan?" tanya Helmi mendekap tubuh sang istri di bawah selimut tebalnya.

__ADS_1


"Hari jum'at mungkin mas," ujar Ali menenggelamkan wajahnya di dada sang suami dengan mata yang terpejam.


"Kenapa Jum'at?" ia cukup merasa aneh karena istrinya memilih memulai usahanya di hari Jum'at.


"Jum'at kan deket ke hari weekend, jadi niatnya tuh pas hari Jum'at sekalian promosi jadi mudah mudahan hari Sabtu weekend nya banyak yang mampir" papar Ali tanpa membuka matanya, "Doain yah mas, biar usaha aku lancar" ucap Ali berharap rencananya tergapai.


"Pasti sayang, aku pasti ngedukung kamu" ucap Helmi mengecup pucuk kepala sang istri sambil menghirup dalam dalam aroma lavender dari tubuh istrinya.


"Makasih mas," ucap Ali dengan nada lemah seolah ia sudah siap masuk ke alam mimpinya namun sedetik kemudian matanya terbuka lebar lebar hingga kesadarannya kembali sadar 100%.


"Akhir akhir ini kamu banyak bicara yah?" tanya Ali dengan bibir melebar saat sadar jika suaminya sudah tidak sekaku dulu.


"Benarkah? aku pikir dari dulu aku emang banyak bicara" ia sedikit terkejut dengan penuturan sang istri yang mengatakan ia lebih banyak bicara, padahal jika dipikir-pikir kemarin-kemarin pun ia banyak bicara.


"Bibir kamu banyak manfaatnya, udah tobat yah dari ngeluarin kata kata pedes nya?" tanya Ali yang hanya di balas kecupan singkat di bibirnya.


"Aku menyukai bibir ini yang tidak merasa lelah meski Berjam jam berbicara," ujar Helmi dengan tatapan sendunya.

__ADS_1


"Benarkah? aku janji gak bakalan berhenti bersuara kalo kamu suka aku yang banyak bicara," ujar Ali memeluk era tubuh tegap sang suami dengan senyum ya g tak memudar sedikitpun.


"Apa harus begitu?"


"Harus banget lah, susah loh cari perhatian dari seorang Helmi Putra Nugraha, bagi aku nyari perhatian kamu tuh lebih sulit dibanding harus nyari semangka di kebun melon" ia merasa bangga karena bisa mengajak Helmi berbicara lebih panjang, tidak seperti kata kebanyakan orang yang mengatakan jika sang suami sangat sulit untuk diajak sekedar berbincang basa basi.


"Benarkah? aku pikir kita sering melempar kata meski hanya singkat," ucap Helmi membantah ucapan sang istri.


"Maksud aku pillow talk, bukan saling sindir" ujar Ali mengerucutkan bibirnya.


"Emang harus gitu pillow talk" Helmi masih tidak mengerti dengan pemikiran istrinya yang terlalu sulit di tebak oleh pria kaku seperti nya


"Wajib, apalagi pasangan suami istri kayak kita, pillow talk tuh harus banget dalam sebuah hubungan, kamu tau manfaatnya gak?" tanya Ali yang hanya di jawab oleh alis Helmi yang terangkat, "Karena dengan mengobrol seperti ini kita jadi sedikit demi sedikit paham apa yang di inginkan dan tidak diinginkan oleh pasangan kita, dampaknya juga bisa mempererat ikatan pernikahan kita, bisa juga dengan bercin*ta seperti yang biasa kita lakukan namun pillow talk lebih harus agar pasangan tidak merasa jika dia hanya dibutuhkan sebagai alat pemuas nafsu saja" ujar Ali menjelaskan pada Helmi, bukan tanpa karena dirinya menjelaskan hal yang mungkin bagi suaminya tidak penting. Itu karena Ali berharap Helmi bisa membagi kesedihannya, dan bisa merasakan jika masih ada dirinya yang benar benar peduli padanya.


"Tidurlah aku ngantuk" ucap Helmi memejamkan matanya dengan tangan yang setia mengelus rambut sebahu milik Ali.


Tanpa Ali sadari sebenarnya Helmi menahan rasa ingin menangis, ia terharu dengan ucapan yang Ali jelaskan, seakan Ali tahu apa yang diinginkannya. Helmi sedari dulu memang selalu menginginkan kehangatan dalam sebuah keluarga, ia hanya ingin berbincang hangat dengan anggota keluarganya meski hanya sekedar guyonan, kini seolah Ali paham dengan keinginan nya karena sedari dulu mamah dan papah nya sibuk dengan dunianya masing-masing mereka hanya memberikan uang dan kehidupan nyaman tanpa tahu jika putranya kesepian.

__ADS_1


__ADS_2