
Tadinya siang ini Helmi ingin membantu sang istri di warungnya mumpung hari ini weekend, namun urung karena Verrel dan Leo mengajaknya menongkrong di sebuah cafe yang berada di kawasan mall Tabata, tak lupa Helmi pun menelepon David mengajak sang asisten untuk sekedar menghilangkan sedikit kepenatan.
David memang tidak satu universitas dengan Helmi tidak seperti Verrel dan Leo yang sama sama lulusan Harvard sepertinya, namun David tetaplah teman mereka karena David di pernah bersekolah di tempat yang sama seperti Mereke hanya saja David masuk karena jalur beasiswa.
"Ah sial!" umpat Verrel saat lagi lagi pikiran nya tidak bisa hilang mengingat wajah wanita yang berkenalan dengannya beberapa hari lalu.
"Temen luh kenapa?" tanya Helmi pada Leo dan David sembari menyesap rokoknya,
"Biasa orang lagi di mabuk cinta emang kayak gitu,," kekeh Leo yang memang tahu betapa gilanya Verrel pada wanjta yang sempat di temuinya beberapa hari lalu.
"Luh ajah gak tahu gimana rasanya jatuh cinta" desis Verrel yang sebal karena Leo selalu meledekinya.
"Emang manusia kayak Luh bisa jatuh cinta juga yah?" tanya David dengan alis berkerut.
"Gue juga manusia kali, contohnya Luh ajah, hari ini Luh ke sambet apa sih nyampe banyak tanya?" memang tak biasanya David banyak bertanya, biasanya di setiap perkumpulan David adalah pria paling banyak diam tanpa ingin bertanya atau sekedar menjawab.
"Kali kali olahraga bibir, otot bibir gue sering kram akhir akhir ini, jadi gue pikir harus sedikit banyak bergerak biar gak jadi setruk" papar David acuh.
"Ah Sialan loh culun! gue ngomong apa di jawab apa" umpat Verrel menoyor kepala David, sedangkan Helmi dan Leo hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka yang memang berbalikan Verrel yang banyak ngomong dan David yang banyak diam.
🦋
Jefry selalu bolak balik ke cafe tempat Ali bekerja dulu, berharap akan bertemu kembali dengan sosok Ali, wanita yang terlihat lembut namun saat bicara ketusnya minta ampun.
"Dev, Ali sekarang kerja dimana sih?" tanya Jefry saat kebetulan Devi yang melayaninya.
"Sekarang mah dia gak kerja dimana mana," jawab Devi sedikit grogi karena meski Jefry setiap hari datang kemari ia tak pernah bertanya apapun selain mengamati sekitar dan tersenyum sekilas ke arahnya.
"Terus ngapain? diem di rumah? atau kuliah?" rentetan pertanyaan keluar begitu saja dari mukut Jefry dengan tak sabaran.
"Dia buka angkringan, baru beberapa hari sih, kemarin kemarin kerjaan dia diem di rumah"
"Angkringan dimana? emang Ali tinggalnya dimana?" tanya Jefry penasaran.
"Pak Jefry banyak tanya banget yah? udah kayak wartawan ajah" ucap Devi kesal karena Jefry hanya bertanya tentang Ali, Ali dan Ali terus tidakkah Jefry tahu jika ia juga ingin di tanyakan olehnya?.
__ADS_1
"Ishh Luh mah, cepetan jawab ajah, nanti gue kasih tips" ujar Jefry dengan alis naik turun dan mengangkat lima jarinya.
"Lima puluh ribu?" sinis Devi.
"Lima juta kalo loh kasih tahu gue dimana tempat tinggal Ali dan tempatnya dagang" ucap Jefry tersenyum lebar.
"What? lima juta?" pekik Devi, saking antusiasnya Devi menarik kursi di samping Jefry dan menanyakan kebenaran nya. "Yang boong Ah?" tanya Devi dengan girangnya.
"Yah benerlah ngapain boong? emang muka gue memperlihatkan kalo gue tukang boong gitu hah?" sinis Jefry sebal.
"Pembayaran nya kapan?" tanya Devi.
Tanpa berlama lama Jefry mengeluarkan ponselnya dan menyuruh Devi mengetik no rekeningnya di M-banking miliknya.
"Ali tinggal di apartemen sebrang gak tahu No berapa, cuman kalo angkringannya, dia jualan Korean food di depan kampus Prapatan depan" jawab Devi sambil mengetikkan no rekening nya.
"Oke Thanks" ucap Jefry lalu beranjak pergi setelah melakukan pembayaran makanannya.
🦋
Ali yang saat ini sedang sibuk melayani pembeli di bantu oleh pak Yanto dan putranya, kini terpaksa mematikan kompornya terlebih dahulu saat ada seseorang yang katanya mencarinya dengan kepentingan pribadi.
"Gak tau atuh neng tapi kata putra saya mah pengusaha," jawab Pak Yanto.
Ali buru buru keluar dari dapur, ia berjalan menuju luar angkringan karena memang di sana terdapat dua meja yang di sediakan nya.
"Maaf ada kepentingan apa yah pak?" tanya Ali pada seseorang yang sedang duduk membelakanginya.
"Hello baby," sapa Jefry mengedipkan sebelah matanya dengan genit, lalu bangkit dari duduknya.
"Baby baby, emang pak Jefry gak liat yah kalo saya tuh remaja bukan bayi lagi" ucap Ali ketus, ia kesal karena Jefry mengganggu pekerjaan nya.
"Tapi kamu imut kaya baby" ucap Jefry dengan bibir yang tak berhenti menebar senyum.
"Ya kali baby Dugong" cebik Ali, "Mau apa pak Jefry cari saya, ganggu orang kerja aja" ketusnya.
__ADS_1
"Kalo sama pelanggan jangan jutek jutek gitu dong, nanti pelanggan nya pada ilang gimana?" Jefry semakin gencar menggoda wanita yang menjadi list wanita idamannya.
"Kalo mau beli makanan, pak Jefry bisa pesen ke pak Yanto pelayan di sini, kalo saya bagian di dapur" ujar Ali melipat tangannya di dada dengan mata yang sesekali menelisik seluruh tempatnya berjualan, takut ada tempat kotor yang akan membuat pengunjung merasa jijik.
"Saya suka dessert dan pancake buatan kamu, rasanya pas tidak terlalu manis, citra rasanya mirip dengan rasa di restoran yang biasa saya makan," puji Jefry benar adanya jika pancake yang Ali jual memang sangat pas di lidah nya.
"Terima kasih, cuman muji kan gak minta diskon?" tanya Ali cekikikan.
"Boleh juga tuh diskon," goda Jefry
"Enak saja, orang aku baru buka dua hari udah ada yang minta diskon ajah" ucap Ali dengan bibir mengerucut.
"Oh ya Al, gimana kalo kita kerja sama" tawar Jefry
"Kerja sama gimana?" tanya Ali.
"Kamu kirim 100 boks dessert dan 50 boks pancake ke perusahaan aku, dalam setiap minggunya beda beda rasa" papar Jefry menwarkan kerja sama yang menggiurkan.
"Banyak amat?" tanya Ali dengan kening berkerut. "Kalo tiap hari makan dessert sama pancake bisa bosen Pak, nanti yang ada mereka gak mau makan dessert saya lagi" ujar Ali
"Enggak Al, kan aku pesen langsung ke kamu, setiap boks nya itu ukurannya kecil seukuran cup jelly gitu jadi biar nagih, nah terus seblak sama japlak nya juga,"
"Jadi intinya aku pesen makanan pedasnya 150 boks setiap hari menunya apa ajah yang penting Gonta ganti, sama dessert dan pancake nya juga terserah kamu mau dessert atau pancake yang lebih banyak yang penting 150 biji" papar Jefry.
"Aku bingung harganya mas, kalo harus di cup kecil mah"
"Itu mah gampang Al, sekarang satu boks dessert Segede gini harganya 50 ribu, jadi kalo di cup kecil 15 atau 20 ribu karena aku persennya banyak, jadi bisa dong nego jadi 15 ribu per cup?" tawar Jefry yang saat ini sudah duduk berhadapan dengan Ali.
"Boleh juga tuh," ucap Ali, "Tapi harga Korean food nya beda beda tergantung menu, ada yang 35 ribu sampe yang paling murah tuh 10 ribu" ucap Ali.
"Yah itu sih terserah kamu yang penting nanti kamu kirimin nota nya," ucap Jefry. "Aku kasih DP 3 juta dulu gimana?" tanya Jefry.
"Oke deh siap" ujar Ali bersemangat.
"Deal?" tanya Jefry mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Deal" jawab Ali dengan mengatupkan kedua tangannya di dada. Jefry hanya cengengesan lalu menarik kembali uluran tangannya.
Tanpa mereka sadari dua pasang mata menatap mereka dengan tatapan berbeda. Yang satu tersenyum iblis dan yang satu nampak begitu kesal.