
Membayangkan Ali dengan pakaian seksinya membuat hasrat ke lelakian Helmi bangun menggebu gebu minta di tuntaskan, tapi Helmi sebisa mungkin mencoba menahan rasa ingin menerkam istrinya karena harga diri. Helmi berharap Ali akan menyerahkan diri seperti biasanya, jika itu terjadi Helmi bersumpah tidak akan melepaskan Ali sedetikpun.
Tapi khayalan tetaplah khayalan sangat mustahil menjadi kenyataan, karena hingga detik ini Ali tidak kunjung keluar kamar lagi. Ingin sekali Helmi mengetuk pintu di depannya dan meminta hak nya pada Ali namun urung karena masalah harga diri.
"Come on Al, keluarlah apa kau tidak takut dosa?" umpat Helmi dengan perasaan frustasi.
Untuk menghilangkan rasa nyut nyutan yang melandanya, Helmi naik ke kamarnya dan menuntaskan solo karirnya di dalam kamar mandi, ini adalah kali pertamanya Helmi bersolo di sepanjang hidupnya. Namun tetap saja miliknya tidak bisa tidur meski sudah hampir satu jam Helmi menidurkannya.
"Siall! mengapa kau tidak ingin tidur boy?" tanya Helmi dengan tatapan mata ke bawah.
"Oke, kita pergi ke tepat biasa agar kau bisa tidur" ucap Helmi akhirnya memilih pergi ke bar dibanding bersolo tiada henti. Sampai di bar, biasanya ia akan minum minum sampai lelah lalu bercinta dengan wanita di sana, tapi kali ini Helmi datang dan langsung membawa satu wanita ke dalam kamar yang ada di bar ini, meskipun bercinta dengan j****g tapi dari bayangan Helmi dirinya sedang menggagahi tubuh mungil namun berisi milik istrinya.
"Ini gila Al,," racau Helmi ditengah aktifitas nya.
Sampai keesokan harinya Helmi datang saat jam menunjukkan pukul 6 pagi, saat membuka pintu dilihatnya istrinya sudah rapih dengan pakaian kerjanya. Helmi memelankan langkahnya karena biasanya istrinya akan bertanya dari mana saja, namun sial sampai di ujung tangga atas Ali sedikitpun tidak meliriknya ia hanya fokus pada masakan di depannya.
"Siall! mengapa tidak memanggilku,ayolah Al, panggil aku" gerutu Helmi, namun tetap saja Ali tidak memanggil nya sampai Helmi masuk ke dalam kamarnya.
Sebenarnya Ali sadar jika Helmi sudah pulang, namun dia merasa enggan untuk bertanya dari mana saja semalam karena Ali sudah tahu jika suaminya pasti pergi ke bar, ada rasa kecewa yang melandanya saat lagi lagi suaminya lebih menggagahi wanita lain ketimbang dirinya yang sah menjadi istrinya padahal Ali sudah berusaha mati Matian agar terlihat lebih fresh dan cantik. Setiap Minggu Ali akan pergi ke salon untuk merawat tubuhnya bahkan pakaian Ali jadi sedikit lebih modis dari dulu, namun sepertinya itu semua tak membuat Helmi meliriknya.
"Mungkin pada dasarnya aku tidak menarik" gumam Ali lalu melanjutkan pekerjaannya dengan pikiran melayang.
"Awhhhh" desis Ali saat tangannya tidak sengaja terkena wajan panas, Helmi yang kebetulan sudah turun langsung menghampiri Ali dan membawa tangan Ali ke keran wastafel.
__ADS_1
"Makanya hati hati kalo lagi masak" ujar Helmi tanpa menatap wajah Ali, jantungnya berdegup dengan kencang saat dirinya secara tidak langsung memeluk badan mungil Ali.
"Sorry,," ucap Ali dengan pipi merona menahan gejolak yang seolah olah ada ribuan kupu kupu yang menggelitik raganya.
"Tidak usah meminta maaf," ucap Helmi lalu membawa Ali ke kursi dan mendudukkannya di sana, "Lain kali kalo masak jangan banyak bengong" lanjut Helmi datar tanpa menampilkan ekspresi apapun padahal jauh dalam lubuk hatinya ia cukup khawatir.
"Iyah," jawab Ali gugup karena saat ini Helmi sedang mengoleskan salep bakar di jari tangannya
"Udahh" ucap Helmi meniup niup tangan Ali yang sudah diolesi salep. "Kamu duduk ajah, biar aku yang lanjut masak" lanjut Helmi, Ali hanya mengangguk setuju karena Ali pikir mungkin dirinya tidak akan bisa memasak karena tangannya yang melepuh.
Dengan bibir melebar Ali tidak henti hentinya tersenyum melihat Helmi yang sedang berkutat dengan penggorengannya, ada rasa haru saat Helmi memberinya sedikit perhatian, Ali pikir Helmi hanya monster kejam yang tak memiliki perasaan namun nyatanya Ali salah Helmi tipikal orang perhatian namun susah untuk diungkapkan.
"Kenapa?" tanya Helmi saat memergoki Ali yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman.
"Makanlah" titah Helmi lalu memberikan sepiring nasi goreng,
"Aku pikir kamu gak bisa masak" ucap Ali saat mencicipi masakan Helmi yang ternyata terasa lezat di lidahnya.
"Kamu baru mengenalku beberapa bulan, masih banyak hal yang aku kuasai selain memasak" ucapnya sombong.
"Mm begitu, ngomong ngomong kamu liat nasi goreng semalam gak? pas aku cari cari kok gak ada?"
uhuk Uhuk
__ADS_1
Helmi terbatuk-batuk saat Ali mempertanyakan nasi gorengnya, sebenarnya semalam Helmi mentahbiskan nasi goreng milik Ali dan tidak memesan makanan di gofood. Itu hanya akal akalannya saja, karena pada dasarnya ia sangat penasaran dengan rasa masakan Ali yang selalu di puji oleh David kelezatannya.
"Mmm, itu.... aku buang ke tempat sampah" ucap Helmi berbohong, karena tidak mungkinkan jika dirinya harus mengaku jika semalam yang memakan makanan Ali adalah dirinya. "Tidak baik bagi kesehatan memakan masakan sisa kemarin" lanjut Helmi
Ingin rasanya Ali tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Helmi padahal dia jelas tahu, jika semalam Helmi melahapnya dengan waspada seperti maling. Jikapun dibuang ke tempat sampah rasanya tidak mungkin karena Ali tidak menemukan ada nasi sisa di tempat sampah, ingin sekali ia mengungkapkan penyataan sebenarnya namun urung karena Ali tahu suaminya pasti akan merasa malu
"Mm,, begitu," ucap Ali manggut-manggut.
Setelah menyelesaikan sarapannya Ali membawa piring bekasnya ke atas wastafel saat dirinya akan mencuci piring Helmi mengambil Alih pekerjaannya.
"Biar aku saja, tanganmu sedang sakit" ucap Helmi lalu mencuci piringnya dengan hati hati, meskipun Helmi pengusaha muda namun tak urung dirinya bisa melakukan pekerjaan rumah sendirian karena selama ini Helmi selalu mengerjakan tugas rumah sendiri tanpa dibantu pembantu.
"Aku berangkat duluan" pamit Ali lalu mengulurkan tangannya pada Helmi yang sudah selesai mencuci piring.
"Biar aku antar"
"Gak usah, lagipula aku kerja di cafe bawah Deket kok dari sini" ucap Ali yang langsung membuat hati Helmi berbunga bungan karena sebenarnya Helmi ingin tahu dimana tempat Ali bekerja, ternyata Ali bekerja di cafe yang sebenarnya milik Helmi sendiri.
"Mm, baiklah" jawab Helmi lalu memberikan tangannya pada Ali.
Setelah Ali pergi Helmi buru buru mengikuti Ali dari belakang ia masih penasaran apakah benar istrinya bekerja di cafe bawah atau hanya sekedar Alibi.
Namun ucapan Ali terbukti benar karena Ali masuk ke cafe dan memakai apron waiters nya, namun tatapan Helmi menyipit saat melihat istrinya di panggil oleh seorang pria yang dikenalnya.
__ADS_1