
Pada dasarnya manusia akan sadar jika sudah kehilangan hal yang ternyata dia butuhkan dalam hidupnya. Seperti saat ini, fokus Helmi terbagi saat rapat dengan pemegang saham pun dia tidak konsentrasi. Terkadang menatap jam di lingkaran tangannya, ataupun menatap pintu ruangan entah apa yang sedang ditunggu semua orang pun merasa heran sendiri.
"Tuan, apa anda baik baik saja?" tanya David saat melihat guratan gusar di mimik wajah Tuannya.
"Ya aku baik baik saja, cepat selesaikan meeting nya, perut ku sudah keroncongan" jawabnya padahal jelas jelas Helmi tidak merasa lapar sedikitpun meskipun tadi pagi tidak memakan apapun selain satu gelas susu coklat yang David bawakan.
Setelah menyelesaikan meeting Helmi kembali ke ruangannya, menyandarkan kepalanya ke kursi kebesarannya dengan mata yang terpejam. Ingatannya kembali lagi pada hari hari kemarin, dimana terasa sedikit indah dari sebelumnya. Setiap jam makan siang David selalu mengantarkan ransom man dari Ali namun sampai detik ini, tidak ada ketukan di pintunya sama sekali. Apakah Ali benar benar telah berubah?.
"David, apa ada kiriman makanan?" tanya Helmi setelah teleponnya tersambung ke ruangan David.
"Tidak ada Tuan, apa anda menunggu pesanan makanan?" tanya David di sebrang sana dengan kering yang mengerut bingung.
"Tidak" jawab Helmi lalu memutuskan panggilannya sepihak.
"Arghh" Helmi menyugar rambutnya sambil menggeram frustasi. Entah apa yang diinginkan Helmi saat ini tapi yang jelas pikirannya terpenuhi oleh berbagai pertanyaan tentang sikap Ali yang berubah Total.
Sedangkan di tempat lain tepatnya di Cafe pelangi yang letaknya dekat gedung apartemen Ali, Ali sedang bekerja mengantarkan makanan yang dipesan oleh pelanggannya.
"Silahkan Tuan, selamat menikmati" ucap Ali hingga lesung pipinya sedikit terlihat.
"Terima kasih, tapi bisakah temani saya makan?" tanya sang pelanggan berharap Ali mau menemaninya makan siang
"Maaf Tuan, saya di sini sebagai waiters. Jadi pekerjaan saya hanya sebagai pengantar makanan saya tidak bisa menemani anda karena harus kembali bekerja, saya minta maaf sebenarnya saya juga sungkan untuk menolak tapi bagaimana lagi saya di sini bekerja pada orang lain, sekali lagi minta maaf" ucap Ali hati hati takut pelanggannya tersinggung sebisa mungkin dia menolaknya dengan cara halus.
"Tidak apa apa Nona, saya mengerti pekerjaan anda jadi tidak masalah Nona" ujar sang pelanggan dengan tersenyum lebar namun tatapannya tidak bisa berbohong jika dia sangat tertarik dengan pesona Ali yang penuh tata Krama, di kota seperti ini sudah jarang sekali wanita yang menolak ajakan pria meskipun orang asing apalagi ini dirinya terlihat cukup keren tidak kurang sedikit pun tampang dan isi dompet tidak berbohong
Ali sedikit merasa risih saat pria yang tadi mengajaknya makan bersama terus terusan menatapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Ali, sebenarnya Ali ingin menegur tapi bagaimana bisa? siapa tahu hanya Ali saja yang salting sedangkan si pria di sana bukan memandang Ali melainkan memandang seluruh keindahan cafe namun tepat di tempat Ali berada di saat si pria menatapnya.
Di waktu istirahatnya Ali menyempatkan untuk memberikan kabar baiknya pada Oma Diana yang selalu menanyakan kabarnya kadang jika Ali bosan dia akan berteleponan dengan Omanya. Seperti saat ini Oma menelepon Ali di jam makan siang.
__ADS_1
"Terdengar ramai sekali, apa kamu sedang hang out Ali?" tanya Oma Diana di sebrang sana.
"Aku sedang di cafe Oma, Oma sedang apa?" tanya Ali
"Biasa Oma sedang perawatan dengan Mpok Surti, biar kelihatan awet muda" jawab Oma Diana cekikikan di sebrang sana.
"Walah Oma, kalo Oma perawatan aku gak boleh kalah juga dong? takut kalau saing nih" ucap Ali yang di sahuti oleh tawa Mpok Surti dan Oma Diana. "Kalo gitu Ali tutup dulu yah, Ali belom solat" pamit Ali
"Oh Iyah silahkan solat dulu, menantuku memang sangat taat beribadah" puji Oma Diana bangga dengan Ali yang tak lupa mengerjakan solat.
"Assalamu'alaikum Oma" ucap Ali
"Waalaikumsalam"
Tut
"Ali!" panggil Devi teman sesama waiters nya melambai-lambai kan tangannya. "Sini," lanjutnya memanggil Ali.
"Iyah Ada apa Dev?" tanya Ali sengaja memanggil langsung dengan nama karena usianya sama.
"Baru hari pertama kerja ajah, udah dapet surat cinta plus tips gede ajah nih" goda Devi mengedipkan matanya, sedangkan Ali dia tampak bingung dengan ucapan Devi yang terdengar ambigu di telinganya.
"Maksudnya apaan sih Dev?" tanya Ali
"Kamu tau kan, pelanggan yang tadi duduk di meja 15 yang di layani olehmu?" tanya Devi yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Ali, "Dari tadi dia nungguin kamu loh, terus tiba-tiba ada telpon masuk jadi dia nitip ini ke aku terus sama tipnya nih" ujar Devi memberikan 4 lembar uang warna merah dan secarik kertas dengan pena hitam.
"Ini tips apa sedekah ke tunawisma?" tanya Ali heran dengan uang yang dititipkan pada Devi.
"Hahahah, dasar Ali. Luh tuh polos apa gimana? ini tuh tips mengagumi, karena kalo yang namanya hanya tips paling gede gocap atau dua puluh ribu gak da kertas cinta cintaan tuh" goda Devi lagi. "Kalo gitu Aku tinggal dulu yah, jangan lupa dibaca suratnya gue pengen baca juga suratnya" lanjutnya lagi sambil cekikikan
__ADS_1
"Apaan sih?" gumam Ali lalu membaca isi dalam kertasnya.
^^^... hey kamu mbak waiters, lain kali bisa dong kita makan bareng kalo lagi jadwalnya kosong, oh ya Aku Jefry, ini no telepon aku 08****** jangan lupa telpon gue yah, tadinya gue mau nunggu mbak cuma mbak nya lama, love you mbak, lain kali kita kenalan resmi yah...^^^
From Jefry Perkasa*.
"Gak tau ajah kalo aku udah punya buntut, dasar buaya" gerutu Ali lalu membuang kertasnya ke dalam tong sampah. Ali kembali bekerja mencatat pesanan pelanggannya meskipun dia sedikit risih dengan tatapan para pria yang menatapnya mungkin mereka pelanggan tetap di sini, yang baru melihatnya bekerja di sini makanya hari ini Ali menjadi pusat perhatian pelanggan terutama pria.
"Al, kalo udah ganti ship kita hang out ke mall yuk? hari ini gajian loh, sayang nya ini hari pertama loh kerja, tapi gak papa loh punya uang tadi kan?" tanya Devi mengajak Ali untuk hang out bersama.
"Aku sih oke oke aja" jawab Ali santai tanpa penolakan sedikitpun.
"Oh yah, mana dong suratnya? gue pengen baca juga kali" ucap Devi penuh semangat.
"Udah aku buang ke tong sampah" jawab Ali enteng, yang langsung membuat Devi memekik terkejut.
"What?" Devi memekik terkejut karena ulah Ali yang menurutnya bodoh. "Al kamu tahu? surat itu jackpot baut loh merubah nasib hidup" gerutu Devi rasanya ia ingin membelah kepala Ali yang sok jual mahal.
"Kamu tau Al? dia tuh Jefry Perkasa putra tunggal pimpinan Perkasa Group, apa kamu tidak tahu bagaimana kaya ratanya seorang Jefry di masa depan? hah?" tanya Devi frustasi dengan ulah teman barunya.
"Yang kayak tuh bapaknya percuma kaya kalo hasil nyokong orang tua, aku lebih suka yang mandiri di banding nunggu warisan" jawab Ali santai sambil memasukkan buah buahan ke dalam mulutnya.
"Ah sial! dikasih nomer hape Jefry ajah harusnya bersyukur Al, dia kaya raya. Atau jangan jangan kamu pengen yang mandiri tuh menjurus ke Helmi pemimpin perusahaan Troom Corp?" tanya Devi dengan tatapan menyelidik. "Jangan berhayal terlalu tinggi Al, Ons bareng Helmi sekali ajah susah, apalagi memilikinya seutuhnya, mustahil bagi rakyat kayak kita mah. Kalaupun Iyah kamu bisa memilikinya aku yakin tidak akan pernah ada cinta di antara kalian karena selera Helmi bukan masyarakat rendahan" ujarnya panjang lebar.
"Kamu benar Dev, aku salah posisi" lirih Ali dengan suara menurun di ujung Kalimatnya hingga tak terdengar oleh Devi.
"Apa?" tanya Devi yang tak mendengar gumaman Ali
"Gak papa, katanya mau hang out? sekarang yuk mumpung masih siang, itu yang ganti ship udah datang" ajak Ali mengalihkan pertanyaan Devi. Sedangkan Devi ia cukup masa bodoh, dengan santainya menyetujui ajakan Ali yang mengajaknya untuk cepat berangkat.
__ADS_1