
Beberapa kali Ali berusik seakan tidak nyaman dengan posisi tidurnya, Ali pun kerap kali mencari posisi ternyaman namun tetap tidak menemukan bantal empuk yang biasa menemani malamnya.
"Mengapa jadi keras gini?" gumam Ali dengan mata yang terpejam dan tangan menyingkirkan sesuatu yang keras yang menjadi bantalannya.
Helmi menahan nafas saat Ali merasa tidurnya tidak nyaman karena lengan berototnya, namun nalurinya menyuruh untuk kembali mendekap Ali hingga wajah Ali masuk ke dalam dekapannya dan tertidur di dada bidang miliknya.
Jika biasanya bagi wanita lain posisi seperti ini adalah posisi ternyaman saat tidur namun berbeda dengan Ali yang malah merasa sesak nafas dengan sekitarnya, melihat Ali yang sudah mulai mengerjap ngerjapkan matanya Helmi buru buru menutup mata guna sedikit menghilangkan rasa gugup yang menyerangnya. Ini adalah pertama kalinya dirinya berada dalam posisi yang serba salah.
"Mengapa tidur di sini?" tanya Ali bingung sambil mencoba membuka matanya.
"Ya Allah ngimpi gini amat, ngenes kan?" lanjut Ali lalu kembali tertidur dengan mengangkat kepalanya ke atas tubuh Helmi yang sedang berbaring.
Howammm
Ali menguap lalu sedetik kemudian dengkuran halus mulai keluar dari bibir mungilnya.
Fyuhhhh
Helmi bernafas lega saat melihat Ali kembali memejamkan matanya, namun bukannya bisa tertidur Helmi malah dibuat kelimpungan dengan tangan Ali yang bertengger di atas pusakanya, darahnya mendidih nafasnya tercekat dan adrenalin nya terpacu hingga sesuatu yang seharusnya tidur kini malah terbangun dengan tegap.
__ADS_1
"Shhhh" desis Helmi saat tangan Ali malah menepuk nepuk pusakanya sembari bergumam tidak jelas.
"Ini tak bisa dibiarkan" lirih Helmi lalu menatap ke bawah hingga matanya menatap wajah Ali yang damai dalam tidurnya dengan mulut yang sedikit terbuka, entah mengapa melihat bibir Ali yang terbuka miliknya semakin mengeras dan meminta untuk dikeluarkan.
Tanpa sadar tangan Helmi mengelus wajah Ali dan menekan nekan area bibir milik istrinya, dengan hati hati Helmi memindahkan Ali ke lengannya agar kepala istrinya tidak merasa pegal.
Senyumnya terbit saat mengingat bagaimana wajah Ali dahulu yang sempat di hina dan diolok-olok olehnya, kini malah ia sentuh dengan halus. diam diam Helmi menelusuri seluruh permukaan wajah istrinya yang dulu kusam kini sudah terlihat sedikit terawat meski tidak seterawat wanita di luaran sana, jejak hitam yang dulu ia sebut pun kini tak nampak lagi.
Tangannya berhenti tepat pada bibir ranum milik istrinya, mata Helmi menggelap meski hanya dengan menatap bibirnya saja.
Keesokan paginya setelah solat dan menyelesaikan aktifitas masaknya Ali berniat untuk mandi sepeti biasanya sebelum jam sarapan Helmi, namun alangkah terkejutnya Ali saat melihat tubuhnya yang kini banyak dengan tanda merah. Pikirannya melayang memikirkan mengapa banyak tanda kissmark di tubuh Ali, Ali bukan wanita bodoh yang tidak tahu bekas apa di tubuhnya ia jelas tahu itu adalah tanda percintaan suami istri.
"Siapa yang melakukan ini? tidak mungkin kan?"
***Cup,
Mmhhh***
Helmi mencium istrinya dengan sedikit kasar, ciumannya yang tadinya berniat hanya ingin mengecup saja namun alih alih hanya mengecup Helmi malah menekan kepala Ali agar ciumannya semakin mendalam.
__ADS_1
eghhh
Ali melenguh saat tangan Helmi dengan tidak sopan nya masuk ke dalam piyama tidurnya.
Tidak hanya di sana, Helmi dengan gila menyusuri leher milik istrinya dengan meninggalkan jejak di sana, adrenalin nya semakin terpacu saat istrinya melenguh dan sedikit mendesah. Helmi sudah tidak bisa menahan nya lagi, ia ingin meminta hak nya pada Ali sekarang juga namun saat menatap wajah lelah Ali Helmi urung membangunkannya ia memilih beranjak dari posisinya setelah puas memainkan sesuatu yang mirip dengan squisy milik istrinya.
Cup
Namun lagi lagi bukannya beranjak Helmi malah kembali meraup squisy menantang memintanya untuk dimainkan yang kini terpampang jelas di hadapannya, karena tadi Helmi mengeluarkan salah satu bukit milik istrinya.
Arghhhhh
Teriakan Ali di bawah sana membuyarkan traveling nya semalam, dengan langkah yang lebar Helmi melangkah turun ke bawah menghampiri istrinya. Saat sampai di sana Helmi segera mengetuk pintu takut sesuatu terjadi pada istri kecilnya.
Tok tok tok
"All, are you oke?" tanya Helmi mengetuk pintu kamar mandi.
Sedangkan di dalam sana Ali berteriak histeris di dalam tanpa mendengar panggilan Helmi, ia menangis sesegrukan. Bayangannya membayangkan bagaimana reaksi Helmi saat tahu ada tanda merah di badannya tepatnya di leher dan dadanya. Ali memukul mukul tubuhnya sembari terus menangis ia merasa telah gagal menjadi seorang istri.
__ADS_1
Brak