Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
31.Malu


__ADS_3

Di terbangkan ke angkasa bak seorang putri raja, tapi dihempaskan kembali oleh realita yang ada, mungkin itulah kata yang tepat untuk Ali saat ini.


"Apakah ini rasanya terluka karena realita?" tanya Ali menendang ranjang dihadapannya, tanpa memedulikan rasa sakitnya.


Malu, itulah yang Ali rasakan saat ini, mengapa dia bisa begitu bodoh saat Helmi memberinya buket. Ia bahkan dengan girang menerimanya. Sebenarnya Ali tidak marah dia hanya kesal dan malu ajah karena ulah dirinya sendiri.


"Lain kali aku harus hati hati" tekad Ali berjanji pada dirinya sendiri tidak akan mudah tertipu dengan aksi Helmi yang lihai menipu.


Sedangkan Helmi setelah membersihkan diri ia turun ke bawah mencari makanan, ia bahkan lupa dengan ucapan tadi pagi pada Ali yang melarangnya memasak karena tak becus.


"Arghhh" desis Helmi frustasi menyugar rambutnya ke belakang, menyesal dengan ucapannya yang selalu kasar pada istrinya.


"Padahal aku sedang sangat ingin memakan masakannya" Desah Helmi, dengan terpaksa memasak makan malamnya sendiri.


Helmi sengaja memasak porsi lebih karena instingnya mengatakan istrinya belum makan malam terlihat dari tempat sampah yang hanya ada satu boks bekas makanan mungkin sisa siang tadi.


Setelah makanan siap Helmi memilih makan lebih dahulu sembari menunggu istrinya yang pasti keluar untuk makan malam, namun sampai selesai makan Ali tak muncul sama sekali. Setelah membereskan sisa makanan dan mencuci bekas makan Helmi sepeti malam malam biasanya, akan masuk ke ruang kerjanya lebih dulu untuk melihat apa yang sedang istrinya lakukan dari balik cctv.

__ADS_1


"Sepertinya dia memilih tidur dibanding makan" ucap Helmi dengan senyuman melebar.


Tanpa sepengetahuan Ali setiap malam Helmi selalu mengendap ngendap masuk ke dalam kamar Ali saat merasa jika istrinya sudah tertidur pulas.


Seperti saat ini setelah melihat lampu kamar Ali yang sudah mati, dan tubuh Ali sudah tertidur di atas ranjang tanpa memakai selimut. Helmi biasa masuk ke dalam kamar menggunakan kunci otomatis yang bisa terbuka oleh remot di tangannya karena memang apartemen ini di lengkapi dengan fitur otomatis.


"Dasar ceroboh" ucap Helmi menghampiri tubuh Ali yang terbaring terlentang di atas ranjang.


Tanpa sadar nalurinya membawanya untuk menyentuh perut Ali yang hanya ditutupi oleh daster pendek nya.


"Mengapa aku berharap ada penerusku di sini?" monolog Helmi mengusap perut Ali tanpa bosan sesekali ia menenggelamkan wajahnya ke perut rata milik istrinya.


Jika dilihat saat ini Helmi terlihat seperti orang gila di mata orang orang yang mengenal dalam pribadinya, namun Helmi akan terlihat seperti pria yang begitu mencintai istrinya jika orang lain melihatnya saat ini. Lihatlah saat ini bahkan dengan lancangnya Helmi tidak hanya mengusap perut sang istri tangannya merayap naik ke atas dengan wajah mesum dan bibir yang tak berhenti tersenyum.


Plak


"Aku sedang datang bulan"

__ADS_1


Glek


Helmi membeku saat mendapat tepisan tangan dan mendengar suara yang pastinya suara istrinya jika bukan istrinya siapa lagi. Jantungnya berhenti berdetak batinnya berteriak rasanya ia ingin menghilang saat ini juga, sungguh Helmi tidak berani hanya sekedar mengangkat kepalanya saja.


ctak


Cahaya lampu kembali terang menyinari seluruh ruangan di sana, dapat di lihat dengan jelas sosok pria bertubuh tegap sedang berdiri setengah badan di sisi ranjang kanannya dengan tatapan menunduk.


"Kemarilah suami," goda Ali. Ingin rasanya Ali berlari ke masjid mencari speaker untuk berbagi tawa dengan orang lain. Melihat bagaimana suami arogannya tertangkap basah.


Sebenarnya Ali tidak bisa tidur karena rasa lapar di perutnya, namun ia urung untuk keluar karena takut bertemu dengan sang suami, ia masih malu dengan kejadian sore tadi. Ali mencoba memejamkan matanya dengan lampu yang sengaja di matikan, namun tetap saja rasa lapar memaksanya untuk bangun.


Tepat saat dirinya akan bangun suara pintu di buka membuatnya urung, adrenalin nya terpacu saat Helmi menggerayangi perutnya awalnya Ali ingin berteriak namun ia urungkan ia memilih diam karena takut jika Helmi mengusap perutnya bukan karena ingin mengusapnya melainkan ingin menyapa kecebong yang ia pernah semburkan.


Sampai tangan Helmi naik ke atas Ali dibuat tak bisa bernafas oleh ulah suaminya dengan terpaksa Ali menepis kasar tangan suaminya yang bersandar di buah simalakama miliknya.


Mungkin ini imbas, mereka sama sama malu oleh ulah pasangannya.

__ADS_1


__ADS_2