Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
46.Sisi Lain seorang Helmi


__ADS_3

Malam harinya setelah makan malam Ali di buat kelimpungan dengan tingkah suaminya yang menurutnya tidak wajar.


"Mas, kamu kenapa sih? itu skincare aku loh, jangan di gituin kan sayang banget" ucap Ali kesal saat krim malamnya di pakai Helmi hilang membuat wajah sang suami terlihat seperti memakai busa halus.


"Jangan ngajak aku ngobrol dulu yang, aku lagi maskeran" ucap Helmi tak kalah kesalnya pada sang istri.


"Maskeran apanya, ini tuh krim buat aku bukan masker" ujar Ali dengan nada yang sedikit di tahan karena jika tidak bisa saja Ali sampai berteriak saking kesalnya dengan tingkah absurd sang suami.


"Apa? krim?" pekik Helmi hingga bangun dari posisinya yang semula tiduran di ranjang.


"Itu tuh krim malah hari,"


"Bagusan pake krim apa masker?" tanya Helmi sungguh sungguh, " tapi kayaknya akan lebih bagus jika khasiat krim di pakai masker, lagipula akan lebih cepat bukan perubahannya?" lanjut Helmi dengan bibir tersenyum lebar membayangkan wajahnya yang pasti terlihat lebih lebih tampan dari sebelumnya.


Sedangkan Ali hanya bisa menghela nafas saat mendengar ucapan sang suami yang sebenarnya Ali yakin jika suaminya tidak tahu menahu cara memakai skin care.


"Cepet sih mas berubahnya, emang kamu mau, wajah kamu putihnya tuh gak menyeluruh karena kebanyakan pake krimnya? yang ada wajah kamu bakal telur rebus yang mulai mengelupas" papar Ali yang sontak membuat Helmi memekik lalu sedetik kemudian suaminya menghilang dari pandangannya.


"Sial, mengapa aku memakai banyak sekali" ujar Helmi mencuci wajahnya dengan pencuci wajah milik sang istri, ia beberapa kali melihat kanan kiri wajahnya melalui kaca, ia takut yang diucapkan istrinya benar benar terjadi padanya.


"Bukankah di iklan iklan cara memakainya memang harus tebal?" tanyanya saat melihat bayangan sang istri dari pantulan cermin di hadapannya.


"Kamu liatnya iklan masker wajah, krim, atau facial wash?" tanya Ali melipat dadanya lalu menyenderkan tubuhnya di wastafel tepat di samping sang suami.

__ADS_1


"Yah enggak tahulah, aku cuma liat sekilas" ujarnya masih melihat lihat wajahnya takut benar putihnya tidak merata.


"Makanya nanya dulu jangan sotoy" gerutu Ali


"Yah maaf, lagian emang kamu gak pusing apa nyampe hafal yang gituan sama cara makenya?" tanya Helmi menarik tubuh sang istri agar lebih leluasa menatap wajah mungil nya.


"Yah enggak lah, aku kan cewek pasti tahu untuk apa dan gimana cara pakenya" ujar Ali menatap keatas wajah sang suami yang terlihat lebih segar setelah mencuci wajahnya.


"Sejak kapan pake skincare? dari kecil?" tanya Helmi yang kini mulai menggesek-gesekkan tubuhnya pada tubuh sintal sang istri.


"Sejak kamu bilang, kalo aku kumel" sindir Ali dengan nada sinis.


"Emang aku pernah ngomong gitu yah?" tanya Helmi yang sebenarnya malu saat sang istri mengingatkannya kembali pada perlakuan nya dulu.


"Maaf," ujar Helmi merasa bersalah.


"Ish, baperan. Emang buaya baperan yah?" tanya Ali menggoda suaminya.


"Buaya mah setia Al"


"Tapi si Otong gak setia yah" ucapan Ali langsung membuat pergerakan Helmi terhenti, yang tadinya ia masih betah menggesekkan miliknya pada milik sang istri yang terhalang oleh kain, kini berhenti saat sang istri mengatakan jika miliknya tak setia.


"Itu kan dulu," ucap Helmi lalu menarik tengkuk sang istri dan mencum"Bunya dengan bringas.

__ADS_1


🦋


Tidak seperti pagi kemarin yang tertinggal, hari ini Ali memaksakan matanya agar tidak terpejam, tubuhnya memang masih lelah karena semalam sang suami kembali menggempurnya hingga pukul 1 dini hari.


Ia menyibukkan dirinya di dapur setelah melaksanakan solat subuh bersama sang suami, Ali memang menyuruh Helmi tidur kembali karena ia yakin suaminya bisa saja tidak fokus bekerja karena kurang tidur.


Setelah jam menunjukkan pukul 7 Ali bergegas naik ke atas membangunkan sang suami yang masih betah menggulung di bawah selimut padahal sinar matahari sudah mulai menyinari wajahnya yang terlihat sangat tampan di mata Ali.


Ali duduk berjongkok tepat di samping sang suami yang masih tertidur dengan posisi menyamping, rasa kagumnya berkali kali lipat saat melihat wajah damai suaminya saat tidur, tangannya terulur menyentuh wajah sang suami yang sedari tadi seolah memiliki magnet untuk di sentuh. Jemarinya menyusuri setiap lekukan wajah sang suami yang di pahat oleh ilahi dengan pahatan bak dewa Yunani.


"Aku tau, aku memang tampan" ujar Helmi dengan suara serak khas bangun tidurnya, lalu menarik tubuh sang istri hingga naik ke atas tubuhnya.


"Apa aku membangunkan mu?" tanya Ali mengecup singkat bibir sang suami, dengan posisi telungkup di atas tubuh suaminya yang terlentang.


"Kamu membangunkan dia sayang" ucap Helmi menekan pinggul sang istri agar tahu jika si Otong sudah bereaksi


"Otong gak da akhlak ini waktunya kerja" gerutu Ali saat suaminya malah ******* bibirnya.


"Kerja di ranjang aja gak usah di kantor" ujar Helmi membalik posisi hingga sang istri terkungkung di bawahnya lalu melempar asal selimut yang menghalanginya.


"Mas," rengek Ali saat bibir dan tangan suaminya sudah bermain di tempat yang membuatnya sedikit menggelinjang.


"Sebentar ajah sayang" ucap Helmi tanpa ingin melewatkan paginya untuk berolahraga bersama sang istri.

__ADS_1


__ADS_2