Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
22.Lelah


__ADS_3

Tubuh yang tadinya lelah saat melihat pekerjaan yang masih menumpuk kini malah bersemangat mengerjakan pekerjaannya di rumah saat Ali istrinya mengatakan akan menemaninya bekerja.


"Kalo udah ngantuk masuk kamar aja sana" ucap Helmi dingin padahal hatinya tergelitik geli saat melihat bagaimana Ali duduk dihadapannya dengan posisi menangkup wajahnya yang mungil.


"Gpp mas, aku temenin ajah. Mas gak ke ganggu kan aku temenin?" tanya Ali dengan kesadaran yang sudah tinggal 5 Watt.


"Berbaringlah di sofa" ujar Helmi lagi, sungguh dia merasa tidak fokus dengan kehadiran Ali yang duduk berhadapan dengannya. Bukan karena jijik melainkan semakin hari perasaan Helmi semakin nyaman dengan sifat Ali yang lemah lembut.


"Gpp, di sini aja" jawab Ali dengan memaksa tersenyum lebar.


Dengan penuh semangat Helmi buru buru menyelesaikan pekerjaannya, ia takut jika Ali merasa pegal. Padahal seharusnya Helmi memarahi Ali yang lagi lagi mencampuri urusannya, namun entahlah Helmi menyukai sifat Ali yang pengertian.


Drt drt drtt

__ADS_1


Ponsel Helmi berdering hingga membuat Ali membuka matanya lebar lebar. Sedangkan Helmi merasa malas dengan dering panggilan di ponselnya, namun mau tak mau Helmi harus mengangkatnya.


"Hmm?" tanya Helmi berdehem, lalu berlalu keluar dari ruang kerjanya menjauh dari Ali yang saat ini menatapnya dengan bingung.


"Honey, mengapa belum pulang? kamu dimana saja? haruskah aku ke kantor menemanimu malam ini?" tanya Angel di sebrang sana dengan suara cemas.


"Tidak usah, aku takut tidak fokus jika bekerja dengan mu, kamu tau bukan aku selalu tidak fokus bekerja saat kamu di sampingku" ucap Helmi dengan mengulum senyum terpaksa nya.


"Oke lah Honey, berjanjilah besok pagi pulang dulu ke apartemen, aku sangat mencintaimu I Love You"


Tut


Alangkah terkejutnya Helmi saat membalik kan tubuhnya mendapati Ali yang sedang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Siapa mas? ada kerjaan di luar?" tanya Ali lembut.


Helmi merasa tidak enak takut Ali mendengar ucapannya, biasanya dia sangat masa bodo jika Ali mendengar atau melihat apapun yang dilakukannya namun kali ini Helmi merasa tidak ingin Ali tau jika dirinya masih berhubungan dengan wanita di luar sana.


"Bukan siapa siapa hanya David," jawabnya gugup


"Oh," jawab Ali ber oh ria, "Kalo gitu aku ke kamar duluan yah mas, soalnya pegel banget" lanjutnya dengan menunjukkan senyum termanisnya.


Dengan berat hati Helmi mengangguk setuju, ingin menahan pun harus memakai alasan apa.


Setelah masuk ke dalam kamar Ali merebahkan dirinya di ranjang dan menenggelamkan wajahnya di bantal. Ingin mengadu tapi harus pada siapa, Ali sendiri tidak memiliki siapa siapa. Lagipula jika Ali mengadu bukankah sama saja dengan membuka aib suami sendiri, tapi Ali juga manusia yang punya rasa lelah jika terus terusan memendam rasa ingin menangisnya.


Ali tidak bodoh, ia tahu dengan siapa Helmi bertelepon tapi apalah daya Ali jangankan melarang sedikit berkomentar saja terkadang harus mendapatkan balasan yang sangat kejam.

__ADS_1


Sedangkan Helmi ia hanya bisa mondar mandir menggaruk kepalanya bingung dengan pikirannya sendiri, ia takut jika Ali mendengar obrolannya, tapi bukankah itu yang diinginkannya?.


"Ah sial!" umpatnya lalu menyenderkan kepalanya di kursi kerja sembari memijat pangkal hidungnya. Biasanya jika dia merasa pusing seperti ini ia akan keluar dan pergi menuju bar untuk memfreshkan pikirannya. Namun kali ini hatinya tidak menginginkan pergi ke tempat jahannam, ada rasa ingin masuk ke kamar Ali untuk menghilangkan kepenatan di kepalanya, namun apa yang harus Helmi katakan pada Ali haruskah Helmi jujur jika akhir akhir ini dirinya nyaman di dekat Ali?


__ADS_2