Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
48.Kesempatan dalam kesempitan


__ADS_3

Setelah mengantarkan Nyonya Arini ke parkiran mobil, Ali berniat melanjutkan niatnya yang sempat tertunda, ia kembali masuk ke dalam cafe untuk memesan dessert yang diinginkannya. Ia tetap berjalan santai tanpa merasa risih atau terganggu dengan tatapan mata semua orang bisayang tertuju padanya.


"Mbak pesen 3 kotak dessert yah, yang matcha tiga tiganya di bungkus ajah mbak," ujar Ali pada salah satu pelayan yang ada di sana.


"Oh Iyah mbak di tunggu sebentar, silahkan melakukan pembayaran terlebih dahulu di kasir" jawab sang pelayan yang langsung diangguki oleh Ali.


"Mas, saya mau bayar pesenan dessert matcha 3" ucap Ali.


"Baik bak, totalnya jadi 285 ribu rupiah, mau cash apa debit?" tanya kasir.


"Debit ajah mas," ujar Ali memberikan kartu ATM yang di berikan suaminya, namun saat Karsi akan mengambil kartu dari tangan Ali seseorang mengehentikannya.


"Pakai yang saya juga, sekalian sama meja no 8" ujar pria yang entah siapa karena ini pertama kalinya Ali melihat pria di sampingnya.


"Gak usah mas, saya punya uang sendiri" tolak Ali dengan tersenyum ramah.


"Sekalian aja, gak papa kok" ujar Verrel yang bersikeras ingin membayarkan pesenan Ali.


"Saya masih punya uang mas, kalo mas punya uang lebih, lebih bagus di kasih sama tunawisma di depan ajah mas, kasian mereka belum tentu punya uang, sedangkan saya masih punya uang meskipun tidak banyak" papar Ali mencoba menjelaskan maksudnya.


Verrel yang mendengar penuturan Ali yang bijaksana, tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada wanita yang menolak dibayarkan olehnya.


"Its okey," ujar Verrel dengan senyuman melebar.


"Nama kamu siapa?" tanya Verrel semakin gencar mencari cara agar wanita di hadapannya memandang nya, karena dari tadi si wanita hanya menatapnya sekilas sekilas, selebihnya ia hanya menunduk menatap kakinya di bawah sana.


"Emang kenapa mas?" tanya Ali.


"Gak papa, cuman pengen kenalan aja, sama wanita yang berani meneriaki istri pejabat dan pengusaha" ujar Verrel menyenderkan tubuhnya di meja kasir hingga ia dengan leluasa bisa menatap wanita yang masih berjual mahal padanya.


"Emang mereka ada yang istri pejabat?" tanya Ali terkejut.

__ADS_1


"Yah, ada beberapa istri pejabat dan selebihnya mereka istri pengusaha" ujar Verrel.


"Oh,,," Ali hanya manggut-manggut sambil ber oh ria mendengar penuturan pria di sampingnya, "Suaminya yang berkuasa bukan mereka" ujar Ali yang langsung membuat Verrel melongo tak percaya dengan jawaban wanita di sampingnya.


"Kamu gak takut?" tanya Verrel.


"Ngapain takut mas, mereka sama sama makan bahan pangan bukan makan daging manusia" ucap Ali santai lalu mengambil kartu yang sudah di selesaikan pembayaran pesanannya.


"Iyah juga sih, jadi ngomong ngomong nama kamu siapa?" tanya Verrel yang sebenarnya kesal juga dengan respon si wanita yang malah mengalihkan pembicaraan.


"Aliyanza Mas," ucap Ali.


"Aku Verrel,,," ujar Verrel mengulurkan tangan dengan hati yang berbunga bunga, namun Ali hanya mengatupkan kedua tangannya di dada hingga dengan menahan seribu rasa malu Verrel menarik kembali uluran tangannya.


"Sorry, gue lupa Luh ukhti" ujar Verrel cekikikan, "Bisa minta no telepon nya gak?" pinta Verrel lagi.


"Enggak sekalian sama No ATM nya mas?" goda Ali.


"Saya gak punya no telepon mas," ucap Ali sambil menerima pesanannya yang ternyata sudah selesai, "Makasih," ucap Ali pada pelayan yang mengantarkan pesanan nya.


"Saya pergi duluan yah mas," ujar Ali melenggang pergi dari sana meninggalkan Verrel yang hanya melongo dengan tindakan Ali yang terkesan acuh.


"Sadar diri Bro" ujar Leo menepuk nepuk pundak Verrel sambil tertawa, menertawakan Verrel yang ditolak halus oleh wanita incarannya, "Sudah gue bilang, loh pasti gagal karena tipenya dia adalah pria alim seperti gue" lanjut Leo dengan bangganya.


🦋


"Assalamu'alaikum suami," ucap Ali menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan tempat kerja suaminya.


Helmi yang melihat kedatangan sang istri langsung bangkit menghampiri sang wanita yang saat ini mulai masuk ke relung hatinya.


"Waalaikumsalam ustazah" jawab Helmi cengengesan, menarik tubuh sang istri lalu mengecup kedua pipinya.

__ADS_1


"Aku bawain Dessert buat kamu mas," ucap Ali memperlihatkan bawaannya.


"Aku sih lebih pengen yang bawa dessert nya" ujar Helmi mendudukkan sang istri di atas pangkuannya yang duduk di atas sofa.


"Itu mah bukan pengen tapi doyan" ucap Ali mencebik sembari mencubit perut sang suami.


"Masih sakit gak? apa masih capek?" tanya Helmi menghujani wajah sang istri dengan kecupan hangatnya.


"Sakit banget lah, si Otongnya kegedean mas, bisa di kecilin dikit gak mas?" adu Ali dengan bibir mengerucut.


"Kalo di kecilin nanti kamu gak bisa teriak teriak nikmat dong yang, 'Mas, cepetan dong aku gak kuat' " Goda Helmi mempraktekkan teriakan sang istri jika sudah di atas ranjang.


"Mass,,," rengek Ali menyembunyikan wajah merahnya di dada bidang sang suami.


"Mau makan apa di makan?" tanya Helmi, saat sang istri malah mendusel duselkan wajahnya di dada bidangnya.


"Awas ah," ujar Ali bangkit dari pangkuan sang suami, lalu melahap dessert bawaannya.


"Mau,," ucap Helmi meminta agar disuapi oleh sang istri.


"Itu masih ada dua boks" ucap Ali menunjuk boks dessert dengan dagunya.


"Nyuapin suami tuh pahala loh?" ucap Helmi merajuk.


"Yaudah nih, emang gak jijik bekas mulut aku?" tanya Ali menyuapkan sesendok dessert matcha ke mulut suaminya.


"Ngapain jijik, dari mulut kamu langsung ajah aku mau kok" ucap Helmi yang langsung mengambil alih dessert di mulut Ali.


"Mas,,,," Ali melotot tak percaya tak percaya dengan tindakan suaminya yang menci*um bibirnya, tidak hanya menci*um bibirnya suaminya memakan dessert langsung dari bibirnya.


"Enak banget sih desert nya kalo langsung dari mulut kamu yang" ujar Helmi mengusap bibir Ali yang sedikit belepotan akibat ulahnya. "Romantis romantisan sama pasangan halal tuh pahala loh yang,"

__ADS_1


"Ini mah bukan romantis romantisan, tapi kamu yang nyari kesempatan" ucap Ali masih kesal dengan suaminya yang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan.


__ADS_2