
Ali sangat bersyukur karena di hari pertamanya membuka warung, sudah kedatangan pelanggan yang bagi Ali tidak sedikit jumlahnya, mungkin ini berkah doa sang suami, juga karena lokasi strategis yang berada di dekat kampus.
"Kewalahan yah pak?" tanya Ali pada pak Yanto yang bolak balik keluar masuk dapur mengantarkan pesanan dan membawa sampah sampah cup bekas.
"Iyah nih neng," balas pak Yanto cekikikan.
"Pak, saya ramyeon nya satu yah, sama seblak ceker level 6 nya 3, dessert strawberry cake nya 2" ujar salah seorang mahasiswi yang baru datang bersama dua temannya.
"Siap neng, minumnya mau apa neng?" tanya Pak Yanto.
"Ada jus gak pak?"
"Belum ada neng, baru ada minuman botol ajah" ujar pak Yanto ramah
"Lemon tea ajah 3" ujarnya dengan senyuman melebar
Hari ini Ali benar benar sibuk hingga sedikit kewalahan, mahasiswa universitas berdatangan hingga rela mengantri, padahal ini hari pertama Ali membuka warung mungkin karena mereka penasaran dengan warung baru, biasanya anak remaja memang seperti itu, makan di tempat baru hanya karena penasaran.
Seharian penuh Ali berkutat di warung hingga lupa makan siang, ia hanya menyempatkan waktu untuk solat saja selebihnya ia kembali berkutat di dapur karena pelanggan silih berdatangan, hingga pukul 5 sore bahan dagangan Ali sudah mulai habis, Ali berinisiatif menutup warung lebih awal yang rencananya ia ingin tutup warung malam hari namun urung karena stock bahan sudah habis.
"Pak Yanto, besok pagi belanja ini yah, uangnya ini" ucap Ali memberikan secarik kertas dan uang di dalam amplop.
"Alhamdulillah yah Neng, di hari pertama aja udah laris manis,"
"Iyah pak, mungkin karena bantuan putra bapak juga yang ikut andil dalam promosi" yah, memang putra pak Yanto awalnya mengajak beberapa temannya untuk menongkrong di warung Ali sebelum masuk kelas, itung-itung menghangatkan tubuh dengan yang hangat hangat.
__ADS_1
Sedangkan Helmi sedari tadi hanya membolak-balik kan berkas tanpa berniat membacanya pikiran nya tertuju pada sang istri, inilah yang ia takutkan, ia akan kehilangan kembali seseorang yang selalu mengisi waktunya.
"David, apa istriku tidak menelepon mu atau datang kemari?" tanya Helmi saat David datang untuk mengatakan jika sekarang sudah waktunya pulang.
"Tidak Tuan, Nona hanya menitipkan makan siang anda yang tadi" jawab David kebingungan dengan pertanyaan aneh Tuannya.
"Nyonya bukan Nona sialan! dia bukan gadis lagi" desis Helmi bangkit dari kursinya lalu melenggang pergi dari sana.
Di sepanjang jalan pikiran Helmi melayang bagaimana caranya agar ia mulai terbiasa dengan kehidupan yang istrinya inginkan, ia tidak boleh egois jika memang itu yang menjadi keinginan istrinya.
"Ahh sialll!" umpat Helmi mencengkeram stir kemudinya.
Pikirannya berkecamuk hingga tanpa terasa kini mobilnya sudah masuk ke kawasan gedung tempatnya tinggal.
Cklek
"Mas, udah pulang?" ucap Ali mengambil tangan kanan Helmi untuk di cium tangannya dengan takzim, lalu setelah nya ia mengambil alih tas yang di tenteng oleh sang suami.
"Capek yah mas?" tanya Ali bergelayut manja di lengan suaminya.
"Enggak kok sayang," mendapati istrinya yang bersikap manja mampu meredakan emosinya yang sampai ubun ubun. "Gimana warung? rame gak?" tanya Helmi menarik tubuh sang istri agar duduk di sisi ranjang kamarnya.
"Rame banget loh mas, padahal baru pertama pembukaan" papar Ali antusias menceritakan kesehariannya.
"Alhamdulillah yah, kok bisa langsung rame gitu sih yang?" tanya Helmi menarik pundak sang istri agar menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Itu semua gak luput dari bantuan putranya pak Yanto, dia yang promosi in warung aku ke temen temennya" ucap Ali bersemangat.
"Oh yah, emang anak pak Yanto umur berapa?"
"2 tahun lebih tua dari aku kayaknya, soalnya dia emang sempat meng cancle kuliahnya beberapa semester, makanya ketinggalan" ujar Ali.
"Maaf yah mas, tadi aku gak sempet ke kantor, lagian kamu juga gak pernah nyuruh aku ke kantor, jadi aku pikir gak masalah kalo aku gak ke kantor" terdengar tidak peka, namun percayalah Ali pun manusia yang tidak akan peka jika hanya dengan tindakan tanpa permintaan.
"Gak papa kok sayang, aku ngerti kamu pasti sibuk" ujar Helmi yang sebenarnya sedikit menahan rasa kesal di hatinya.
"Mas, nanti malam kita jalan yuk?" ajak Ali merasa bersalah karena siang tadi ia tak datang ke kantor suaminya, tapi salah suaminya juga bukan tidak memintanya untuk selalu datang ke kantor nya.
"Jalan kemana sayang hm?" tanya Helmi mencoba terlihat baik baik saja.
"Yah kemana ajah, tapi naik motor" rengek Ali manja.
"Ada bayarannya gak?" tanay Helmi menggoda sang istri dengan alis yang turun naik.
"Aku kasih 3 ronde" bisik Ali mengedipkan matanya genit. "Tapi jangan lama lama" ujarnya lagi dengan bibir mengerucut.
"Gak lama kok, paling sampe jam 2" ujar Helmi dengan tangan yang sudah masuk ke dalam baju daster sang istri mengusap ngusap paha sang istri agar sedikit terangsang.
"Mas,,," rengek Ali mencubit lengan sang suami yang kegatelan tidak bisa diam, "Nanti malem gak da jatah deh" ucap Ali bangkit dari duduknya namun rupanya sang suami tak tinggal diam ia ikut bangkit dan memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"Tetaplah seperti ini sebentar saja aku mohon" lirih Helmi mendekap tubuh sang istri dari belakang, sesekali ia pun mengecup pucuk kepala sang istri menghirup wangi samponya yang menguar kuat hingga mampu menenangkannya.
__ADS_1