Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
50.Mulai usaha


__ADS_3

Hujan deras mengguyur Kota D di pagi hari, mentari pagi nampak tak muncul karena tertutup kabut tebal di musim hujan. Desember bulan dengan musim hujan yang akan menemani makhluk melangkahkan kakinya.


Seorang pria masih enggan bangkit dari posisi tidurnya, padahal sang wanita sudah memakai berbagai cara agar suaminya mau bangun dari tidurnya.


"Mas, jangan gini terus dong, aku tahu itu perusahaan milik kamu, tapi kamu nya jangan males malesan dong, kamu gak takut apa perusahaan yang sudah kamu rintis dari nol hancur lebur?" Ali terus terusan mengoceh tanpa henti, ia cukup kesal dengan kebiasaan suaminya yang selalu tidur kembali setelah solat subuh, padahal semalam mereka tidak bergadang atau berolahraga.


"Di luar masih hujan Yang," rengek Helmi tanpa berniat membuka matanya.


"Di musim hujan kayak gini gak usah nungguin hujan reda, mau sampai kapan nungguin nya hah? sampai bulan April?" tanya Ali frustasi. "Bodo amat ah mas, kamu mah susah di kasih tahunya, aku mau pergi duluan" ujar Ali menyambar tot bag nya, namun lagi lagi Helmi menarik sang istri agar berbaring kembali.


"Mau kemana sih yang? di luar masih hujan gak dingin apa hah?!"


"Hari ini aku mau mulai buka angkringan kamu lupa kalo sekarang hari jum'at?" tanya Ali mencoba melepaskan pelukan sang suami di tubuhnya.


"Kamu yakin mau usaha sendiri? gak mau di rumah aja?" tanya Helmi entah mengapa baru sekarang ia sadar jika hatinya sedikit tidak mengizinkan istrinya bekerja.


"Yah, yakinlah mas, aku juga butuh berbaur dengan orang orang di sini, kamu tau gak selama 5 bulan kita nikah aku cuma punya satu temen, itupun kita jarang ketemu" cerita Ali yang sebenarnya ia cukup merasa kesepian saat tidak ada teman untuk sekedar mengobrol, padahal Ali terbiasa berbaur dengan ratusan orang dalam keseharian nya di pondok.


"Tunggu sebentar, biar aku antar sampai kesana, kita searah kan?" Helmi bangkit dari posisinya dan melenggang pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka. Semenjak hubungan nya dengan Ali membaik Helmi memang terbiasa mandi pagi hari mungkin di karena kebiasaannya yang harus mandi wajib sebelum solat subuh.


"Ayok sayang," ujar Helmi menarik lengan sang istri setelah ia memakai bajunya dan menenteng tas,jas, serta dasinya.

__ADS_1


Di dalam mobil, Helmi tak henti-hentinya menanyakan apakah Ali benar benar akan bekerja, padahal ia masih mampu memenuhi kebutuhan sang istri, namun lagi lagi Ali menjawab jika ia bekerja bukan karena kekurangan uang, melainkan ia ingin sedikit mengisi waktu gabutnya dengan menyalurkan hobi nya dalam membuat Korean food. Helmi tak ingin egois jika itu memang yang diinginkan istrinya mau tidak mau ia harus mengizinkannya karena bagaimanapun Ali istrinya bukan tawanannya.


",Apa di sana kamu bekerja sendiri?" tanya Helmi karena Ali tak membicarakan dengan siapa nantinya di sana.


"Tidak, kamu tau pak Yanto satpam di gedung gak mas?" tanya Ali.


"Yang mana? aku gak hafal sayang" ujar Helmi yang memang ia tidak begitu kenal dengan pengurus gedung lebih tepatnya ia tidak peduli dengan orang di sekelilingnya.


"Yang itu loh yang udah sedikit Tua, dia tuh di pecat di sana, alasannya karena pak Yanto udah Tua, jadi skill bela dirinya kurang" papar Ali.


"Lalu?"


"Yah aku ajak kerja aja di angkringan, kasian kan kalo dia harus nganggur apalagi anaknya lagi kuliah semester 3 di universitas depan warung aku"


"Rencananya sih gitu, cuma kita liat dulu ajah rame apa enggaknnya" ujar Ali, tak terasa mereka sudah sampai di depan ruko tempat Ali bekerja.


Helmi ikut turun membantu Ali membuka rolling door ruko, ia juga ikut masuk ke dalam melihat ruangan yang akan menjadi tempat istrinya bekerja.


"Kok udah komplit aja barang barangnya? sejak kapan kamu beresin tempatnya?" tanya Helmi yang tidak tahu kapan istrinya mampir ke rukonya.


"Hampir setiap hari aku sama pak Yanto ke sini," ujar Ali, lalu mulai masuk ke dalam ruangan yang terlihat seperti dapur.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ucap pak Yanto saat baru sampai di ruko Ali


"Waalaikumsalam," jawab Ali dan Helmi serempak.


"Loh ada pake Helmi juga," ucap pak Yanto dengan tersenyum lebar


"Hm," jawab Helmi mengangguk,


"Mas, ini pak Yanto yang aku ceritain, dia bisa potong potong sayuran sama bikin toppoki juga loh mas," ujar Ali memperkenalkan pak Yanto pada suaminya.


"Mm, bagus jadi kamu gak usah terlalu capek," ucap Helmi lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aku pergi dulu yah sayang, jangan capek-capek" ucap Helmi memberikan tangannya pada Ali lalu mengecup mesra kening sang istri.


"Hati hati mas," ujar Ali, mengantar sang suami sampai depan, setelah mobil suaminya menghilang dari pandangan nya ia kembali masuk ke dalam ruko untuk melanjutkan kegiatannya.


"Neng kok mesra amat sama Pak Helmi?" tanya Pak Yanto yang memang tidak tahu siapa Helmi bagi Ali.


"Dia suami saya pak," ucap Ali dengan senyuman malu malu, "Gak nyangka yah pak?"


"Gak nyangka banget atuh neng, neng kan tau sendiri pak Helmi terkesan dingin sama Cewek, selama saya kerja di gedung baru kali ini liat pak Helmi bersikap manis sama perempuan" ujar Pak Yanto geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Itu mah masih mending pak, suami saya tuh kalo di luar kayak singa kelaparan, tapi kalo udah modenya merajuk udah kayak anak kucing yang gak mau lepas dari ibunya" ujar Ali menceritakan tingkah suaminya sambil cekikikan.


__ADS_2