Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
63.Sedikit Membela


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam namun kabar yang ingin Angel dengar tidak datang datang, bukankah harusnya mereka sudah bertengkar hebat dan Helmi menemuinya meminta semua penjelasannya.


"Kamu yakin tidak terjadi apa apa di rumah mereka?" tanya Angel pada pria yang ia suruh untuk memata matai Helmi dan Ali.


"Tidak Nyonya bahkan saya berpikir sepertinya rencana yang telah anda jalankan gagal seratus persen, mereka seolah tak peduli, bahkan siang tadi saya melihat Pak Helmi keluar membeli beberapa bahan pokok bersama istrinya tanpa ada gurat kecewa atau amarah, mereka terluhat seperti pasangan yang harmonis terlihat dari bagaimana manjanya sang istri pada suaminya yang memanjakan nya,"


Tangan Angel terkepal dadanya bergemuruh menahan amarah yang menyerangnya, ia tidak bisa menerima semua itu setelah apa yang dia lakukan semalam. Ini benar benar tak bisa di biarkan, benar benar memalukan wanita sepertinya harus kalah oleh seorang Ali.


Prok prok prok.


Seseorang tiba tiba datang dari belakang Angel sambil bertepuk tangan, ia seolah mengejek rencana Angel yang tak membuahkan hasil namun malah membuatnya malu karena kalah oleh wanita rendahan seperti mantan temannya.


"Sayang sekali putri tunggal keluarga Voldemort harus menanggung malu tanpa memenangkan permainannya sendiri" sinis Nadia lalu menarik kursi yang berada di hadapan Angel


"Apa maksudmu sialan?!" teriak Angel tak terima saat Nadia mengejeknya.


"Menyerah sajalah, lagipula apa kamu tidak sadar, tidak ada keluarga manapun yang mau menerima wanita gratisan sepertimu, bahkan tubuh j*****g di luar sana lebih berharga di banding tubuhmu yang gratisan demi sebuah hasrat tertuntaskan, menyedihkan" ejeknya dengan gerakan memakan kentang goreng milik Angel tanpa permisi.


"Apalagi, kamu melakukan segalanya demi seorang Helmi yang tak pernah melirik mu sama sekali, dia hanya memanfaatkan tubuhmu saja di saat ia ingin membuang kecebongnya"

__ADS_1


Nadia terus terusan memanas Manasi Angel, rasanya sangat puas saat seseorang seperti Angel yang terkenal angkuh dan sombong bisa di kalahkan oleh seorang wanita yang notabennya hanya wanita pedesaan yang kumuh.


"Kasihan sekali hidup mu, membuang kemewahan demi haluan. Berpikir jernih lah, apakah ada seorang pria yang benar benar mau menerima mu, seorang perempuan yang sudah di jamah banyak pria tanpa merasa malu atau merasa di lecehkan bahkan yang lebih ekstrim nya semua pria sudah tahu jika anda adalah wanita yang gampang di tarik ke atas ranjang siapapun" Nadia terus terusan mencemooh Angel yang hanya diam menatapnya dengan tatapan tajam


Benar apa yang dikatakan Nadia padanya ia adalah seorang j*****g gratisan, j*****g lain lebih berharga di banding dirinya yang boleh di sentuh asal oleh pria tampan dan mapan tanpa meminta bayaran, ia hanya ingin berjaga-jaga jika suatu saat ia kecolongan hingga harus hamil, makan jika ayah si jabang bayi adalah orang mapan dia pikir tidak apa-apa karena kehidupan putranya tidak akan menyedihkan.


"Lalu apakah ada pria yang benar benar mau meminang wanita yang suka bergosip? sungguh tidak elegant bukan jika sesama wanita mencemooh wanita yang lain? pada sesama spesies nya saja tidak punya hati apalagi pada lawan jenisnya, saya yakin satu sifat yang tidak anda sukai dari pendamping anda akan diketahui dengan cepat oleh orang lain karena bibir lemes anda"


Ucapan seseorang dengan suara lembut namun pedas membuat ke dua wanita yang sedang beradu tegang menatap ke arahnya.


Sosok itu wanita itu, wanita yang menghancurkan impian Angel, wanita yang Angel claim sebagai pelakor dalam hubungannya kini tiba tiba ada di sampingnya dan secara tidak langsung membelanya dengan kata-kata pedasnya.


Ali, yah wanita itu adalah Ali. Entah ada angin dari mana Ali merengek pada sang suami agar untuk pergi ke salah satu restoran yang terletak di pinggiran kota, kebetulan suaminya memiliki keperluan untuk pergi ke gedung dekat restoran yang Ali tuju.


"Mengapa hanya diam? terkejut dengan ucapan saya?" tanya Ali tersenyum ramah namun penuh kepalsuan.


"Hahahahha.... Aku tidak menyangka akan bertemu kembali dengan pelayan Tuan Helmi?" ejek Nadia yang tahu siapa wanita yang ada dihadapannya ini,


Nyonya Veronica mengatakan jika wanita yang pergi bersama Helmi adalah pelayan di mansionnya, namun setelah ia intai ternyata Helmi seperti memiliki rasa cinta pada wanita yang menemaninya makan kala itu, apalagi ucapan Angel yang mengkonfirmasi dugaannya selama ini jika Helmi mempunyai hubungan sakral dengan wanita yang mengejeknya.

__ADS_1


"Ralat, pendamping bukan pelayan" ujar Ali, dengan angkuhnya ia menarik kursi di sebelah Nadia lalu duduk dan menatap Nadia dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Hehh! jangan bermimpi" sinis Nadia tak kalah mengejeknya dari Ali saat tadi, "Kamu hanya wanita simpanannya, bukan wanita idamannya. Dia hanya membutuhkan mu bukan mencintaimu, jadi sadarlah sebelum khayalan mu terlalu jauh aku kasihan jika kamu terlalu berkhayal maka saat jatuh aku yakin sakitnya gak ketulungan," ujar Nadia tertawa terbahak-bahak,


Ia puas mengatakan kata kata yang terdengar kejam pada Ali, ia jelas tau bagaimana sifat Helmi yang tak ingin terikat dengan hubungan sakral apalagi berniat bertahan dengan satu wanita, baginya akan sulit untuk membuat Helmi bertahan pada satu wanita apalagi jika yang menghadapinya wanita kuno dan kumuh macam Ali.


"Apa benar aku berkhayal Nona? mengapa terasa begitu nyata?"


"Aku merasa tersanjung dengan kata 'membutuhkan' yang anda lontarkan. Apa anda tahu? secara tidak langsung itu mengatakan jika saya adalah salah satu dari ribuan tiang yang suami saya butuhkan? bukankah itu istimewa, apakah itu tidak bisa membuktikan jika suami saya membutuhkan cinta dari saya, dan membutuhkan saya untuk menjadi pendamping hidupnya, karena apa? karena baginya saya yang pantas menjadi pendampingnya"


Ali tersenyum puasa saat Nadia mati kutu tanpa bisa menjawab atau mengelak ucapan yang ia lontarkan sungguh ia merasa puas karena Nadia tak bisa lagi berkata kata. Namun di luar dugaannya, Nadia malah kembali berkata pedas tanpa tahu malu.


"Aku tahu apa tujuanmu, orang miskin sepertimu hanya ingin menumpang hidup saja, ingin menaikkan derajat sosialita rendah mu yang kampungan dengan cara melempar tubuhmu ke atas ranjang Helmi dan menggodanya Iyah bukan? sungguh sangat murahan?" ejek Nadia menertawakan kehidupan Ali yang masih berfikir jika zaman sekarang masih ada Cinderella seperti di dongeng-dongeng.


"Murahan? bukankah energimu yang murahan, hingga harus membuang energi untuk hal hal yang tak seharusnya anda kritik?"


"Saya memang orang miskin, saya lahir di kampung dan di besarkan oleh orang tua yang bekerja sebagai pelayan dan sopir, tapi satu hal yang perlu anda tahu, saya tidak pernah menggoda siapapun yang bukan mahrom saya," ujar Ali sengit dengan tersenyum smirk.


"Saya hanya menggoda suami saya, setelah sah menjadi suami istri. Sebelumnya saya tidak pernah bertemu suami saya, saya bertemu suami saya setelah acara ijab Kabul selesai. Anda tahu menggoda suami sendiri adalah pahala terbesar dalam rumah sebuah rumah tangga" ujar Ali lalu beranjak dari duduknya saat melihat sosok Helmi yang masuk ke dalam restoran dan terlihat celingukan mencarinya.

__ADS_1


"Jangan perlihatkan sisi bodoh mu untuk kesekian kalinya, belajarlah dari sebuah kesalahan" bisik Ali saat melewati kursi di mana Angel duduk.


"Saya permisi duluan, sepertinya suami saya sudah datang menjemput" ujar Ali melebarkan bibirnya hingga lesung di pipinya terlihat.


__ADS_2