
Meski tidak saling mencintai tapi saling menghargai bukankah itu indah? tapi bagaimana jika kita menghargai namun tidak dihargai kembali haruskah kita pergi?.
Tanggung itulah yang Ali rasakan saat ini, ingin terus maju tapi tak pernah di hargai, ingin mundur tapi apakah bisa?. Setiap hari selalu mengerjakan kewajibannya sebagai istri, mempersiapkan segala kebutuhan Helmi namun berujung tidak pernah di hargai. Menyiapkan makan setiap pagi siang dan sore hari tapi tak pernah di sentuh sedikitpun, selalu menawarkan diri atas hak suaminya namun selalu berbuntut cacian makian dan hinaan.
3 bulan bukan waktu yang sebentar bagi Ali, tidak pernah keluar apartemen selain berbelanja atau minum kopi di cafe dekat gedung, tidak memiliki teman bicara karena selama menikah dengan Helmi, Ali tidak memiliki satu teman pun. Selama ini pula Ali belum bertemu lagi dengan Oma dan mertuanya, setiap harinya hanya bertemu Helmi yang irit bicara namun sekalinya bersuara menusuk jiwa dan raga Ali.
Awalnya Ali pikir Helmi membencinya karena Ali yang kucel dan kumel, Ali berusaha merawat diri namun tak kunjung di hargai, Helmi bahkan memaki maki Ali meskipun Ali secantik dan seglowing apapun Helmi tidak Sudi menyentuhnya. Bisakah Ali menangis.
"Mas, aku bosen di rumah terus" adu Ali pada Helmi yang sedang memeriksa email masuk ke ponselnya di ruang kerja miliknya.
"Bukankah sudah ku beri ATM, apa masih tidak cukup?" tanya Helmi tanpa menatap wajah istrinya.
"Aku butuh temen ngobrol juga mas, selama ini aku pegang hp juga bingung mau menghubungi siapa? aku gak punya kerabat buat di ajak ngobrol meski lewat telepon"
__ADS_1
"Temanmu ada bukan?" tanya Helmi mengangkat sebelah alisnya. "Oh Iyah aku lupa, temanmu pasti tidak Sudi memiliki teman pelakor seperti mu bukan?" tanya Helmi sinis.
"Mas, aku tuh bukan pelakor yah, jadi gak usah GeEr kalo aku ngerebut kamu dari Mbak Angel" ucap Ali emosi karena Helmi selalu saja mengatakan jika dirinya pelakor pelakor dan pelakor.
"Gak usah berkilah deh, buktinya tiap malem kamu ngegoda aku? hm?" tanya Helmi puas dengan wajah Ali yang mulai berubah mimik wajahnya yang tadinya normal kini seperti menahan tangis.
"Aku tuh bukan ngegoda kamu mas, aku tuh cuman membubarkan kewajiban aku ajah mas, aku gak mau dosa karena lali dengan kewajibannya, dan apa kata kamu mas? teman aku gak mau punya teman kayak aku karena aku menikah dengan kekasih orang lain? kamu salah besar mas, gak semua hal di dunia ini bisa sesuai prediksi kamu, mereka gak bisa aku hubungin karena sekarang bukan waktunya mereka libur, jika pun libur waktu mereka hanya satu jam, jadi kami hanya sebentar bertukar kabar saja" ujar Ali panjang lebar bahkan kini Ali sudah berdiri di depan Helmi dengan penuh Emosi.
"Kalo kamu emang gak mau nyentuh aku gak papa mas, aku gak marah juga. Lagi pula kalo aku beh jujur, sesuai logika ajah, kita menikah karena dijodohkan secara otomatis menikah tanpa cinta, aku hanya menghargaimu sebagai suami dan aku tetap tinggal di sini adalah karena menikah adalah sunat rasul, aku tidak mau bermain main dengan ikrar kita di depan penghulu. jadi perlu kamu ingat mas, aku tidak tersinggung sedikitpun saat kamu tidak menyentuhku" ucap Ali panjang lebar lalu berbalik dan pergi meninggalkan Helmi, pundaknya bergetar karena dibalik pundak ada air yang mengalir deras tanpa permisi di pelupuk mata Ali.
Sedangkan Helmi hanya bisa diam mendengar penuturan Ali, yah selama ini memang Helmi terlalu percaya diri, jika tidak ada wanita yang mampu menolak pesonanya meskipun berkali kali ia campakkan dan sakiti. Namun Ali berbeda dari kata katanya jelas Ali hanya menghargai pernikahan ini bukan karena rasa kagum atau cintanya pada Helmi.
Mengapa hati Helmi terasa sakit saat wanita ya g berstatus sebagai istrinya merasa tersakiti olehnya, tapi mengapa Helmi sungguh tidak bisa menahan gengsinya jika sebenarnya Helmi tidak benar benar menyalahkan Ali atas kisah cintanya dengan Angel, karena pada dasarnya sedikitpun Helmi tidak mencintai Angel dia hanya butuh Angel sebagai pelampiasan nafsunya. Mengatakan Ali pelakor hanyalah akal akalannya saja karena sejatinya Helmi tidak ingin terikat dengan pernikahan yang menurutnya monoton dan membosankan.
__ADS_1
"Arghhhhhhh"
Keesokan harinya Helmi bangun tanpa mendapati pakaian yang biasanya sudah tersusun rapi di manekin yang ada di walk in closet nya. Saat masuk ke dalam bathtub lagi lagi Helmi merasa ada yang kurang, setelah dipikir-pikir ternyata biasanya setiap pagi Helmi akan mandi dengan air panas yang telah di sediakan oleh Ali.
"Awhhh" desis Helmi saat kulitnya terkena keran air panas yang dihidupkan nya. "Ck! dasar wanita sialan! mengapa tidak membantuku menyiapkan air hangat" umpatnya namu sejurus kemudian Helmi baru ingat jika dirinya selalu mengatakan pada Ali jika Helmi tidak suka di layani eh Ali bukan sekali dua kali Helmi mengingatkan namun Ali tetap kekeh menyiapkan keperluan Helmi meskipun Helmi tak pernah melihat rasa hormat Ali kepada seorang suami, namun aneh rasanya jika Ali tiba tiba berhenti melayaninya padahal kemarin-kemarin Ali biasa saja dengan ucapannya yang terdengar menyakitkan.
"Mengapa tidak menyiapkan sarapan?" tanya Helmi saat sampai di dapur.
"Mulai hari ini aku tidak masak, karena mubazir jika tidak di makan tidak terlalu mubazir sih hanya saja mereka yang setiap hari mendapat ransom terlalu sungkan jika menerima lagi, jadi aku berniat tidak memasak karena biasanya juga pak Helmi tidak pernah ingin makan di rumah bahkan baru hari ini bapak masuk ke dapur"
jleb
Ungkapan Ali menusuk relung hati Helmi، dia tersindir sangat tersindir dengan ucapan Ali, dia sadar jika selama ini dirinya tak pernah memakan masakan Ali atau kiriman makanan dari istrinya, padahal nyatanya Helmi kadang suka tergiur dengan masakan Ali, namun balik lagi Helmi hanya ingin membuat Ali agar meminta cerai darinya, jika Ali yang meminta bukankah Oma Diana pasti langsung mengabulkannya tanpa memberondongnya dengan ribuan pertanyaan.
__ADS_1
"Oh ya, aku izin kerja yah. Kemarin sore aku udah ngelamar kerja ke cafe di bawah hari ini hari pertamaku kerja, gak papakan? kamu sendiri yang bilang aku boleh kemanapun ngapain aja dan balik jam berapapun terserah" ujar Ali membuyarkan lamunan Helmi yang sedang memikirkan setiap kata Ali yang mulai berubah.
"Terserah" jawab Helmi masa bodoh padahal jelas jelas dia sedikit tidak suka dengan permintaan Ali yang seolah uang pemberiannya kurang, namun Helmi takut Ali berpikir jika dirinya melarang Ali untuk berinteraksi dengan orang lain.